Tuesday , August 22 2017
Topik Terhangat

Ketika Imajinasi Bertemu dengan Tembok

Ketika Imajinasi Bertemu dengan Tembok

Salatiga Street Art

Komunitas, JurnalWarga.com – Pemandangan menarik dan berbeda akan anda dapati saat melintas di jalan Yos Sudarso. Pada sisi dinding Kafe Yege  akan terpampang gambar ilustrasi dan grafis  karya sekumpulan pemuda Salatiga yang menamakan dirinya Salatiga Street Art.

Berawal dari kegiatan nongkrong di  warung bubur kacang ijo (burjo), 15 pemuda yang sama-sama memiliki hobi menggambar sepakat bergabung dalam sebuah komunitas  Salatiga Street Art. Salatiga Street Art adalah komunitas pemuda salatiga yang memfokuskan diri pada seni mural graffiti.

Mural memang menarik perhatian jika mampu digarap oleh orang-orang yang memiliki nilai seni tinggi, bukan sekadar coretan tembok yang merusak pemandangan. Ketertarikan semacam ini di utarakan oleh Septi (19) pejalan kaki yang kebetulan melintas jalan Yosudarso Selasa (22/4) sore ketika Salatiga Street Art sedang beraksi menyemprotkan catnya ke tembok-tembok.

“Seni seperti ini harusnya memang digarap dengan apik, karena kalau tidak menarik seni seperti ini bisa diangap merusak pemandangan.” kata Septi.

Salatiga Street Art pun mengaku seni mural yang mereka geluti ini sebagai ajang mengekspresikan diri. Dhiape salah satu anggota Salatiga Street Art mengungkapkan bahwa seni yang mereka lakoni mendapat respons  yang beragam dari masyarakat.

“Sejauh ini respons masyarakat bermacam-macam, ada yang marah dan meminta kami mengecat ulang tembok yang kami gambar tapi ada juga yang justru meminta kami untuk menggambar dinding temboknya” ungkap Dhiape.

Seni mural adalah wujud kreatifitas anak muda, tidak hanya sekedar hobi seni ini pun dapat dijadikan sebagai lahan mencari pendapatan. Dhiape menceritakan ada anggota komunitasnya yang mendapat proyek menggambar bahkan sampai ke pulau Bali.

“Selain untuk mengekpresikan diri ada juga anggota kami yang bisa menghasilkan melalui seni mural ini. Salah satu anggota kami pernah juga mendapat job menggambar sampai ke Bali. Mural bukan sekedar menggambar asal tapi bisa menghasilkan juga, itu bukti bahwa mural itu positif, ” pungkas Dhiape.(Gigih Taja/Jurnal Warga)

Komentar Anda

You might also likeclose