Sunday , September 24 2017
Topik Terhangat

18 Tahun Teliti Daun Teh Hijau, Profesor Joko Temukan Obat HIV/AIDS

18 Tahun Teliti Daun Teh Hijau, Profesor Joko Temukan Obat HIV/AIDS

Surabaya-Setelah selama 18 tahun meneliti daun teh Hijau, Prof Dr Djoko Agus Purwanto, akhirnya menemukan fakta bahwa daun teh hijau ternyata bisa dijadikan obat untuk mengobati HIV/AIDS.

Awal mula penelitian Profesor Djoko hingga memakan waktu 18 tahun adalah pada saat dirinya mengetahui fakta bahwa daun teh ternyata bisa dijadikan obat untuk penyakit kanker, sejak saat itu dirinya mencoba mengeksplorasi khasiat-khasiat dari daun teh hijau.

Dilansir dari tribunnews.com, untuk obat HIV/AIDS yang ditemukan pada daun teh hijau sendiri, dalam penelitian yang dilakukanya bersama tim peneliti Institute of Tropical Desease (ITD) dan Universitas Airlangga (UA). Profesor Djoko yakin bahwa obat yang ditemukanya akan menjadi  masa depan penyembuhan HIV/AIDS. Yang dalam waktu dekat ini obat tersebut akan di ujicoba kan pada tubuh kera sebelum akhirnya dilakukan uji coba pada relawan penderita HIV/AIDS.

Dalam peneletianya, Profesor Djoko melihat kandungan daun teh yang berupa epigalokatekin galat (EGCG) mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker. Kemudian dilakukan pengembangan lagi dari zat yang merupakan senyawa tanin katekin tersebut. Akhirnya pada tahun 2012, ia berada pada kesimpulan bahwa  zat itu berpotensi untuk mengobati TBC dan HIV/AIDS.

“Kandungan teh hijau itu bisa untuk pencegahan, sekaligus pengobatan HIV,” katanya.

Selain obat untuk HIV/AIDS, Profesor Djoko juga menemukan berbagai fakta yang mengejutkan dalam penelitianya mengenai daun teh hijau, yaitu antioksidan yang terkandung dalam daun teh 100 kali lebih banyak bila dibandingkan dengan vitamin C dan 25 kali lebih banyak daripada antioksidan yang terkandung pada vitamin E.

”Bila diibandingkan dengan anggur merah, kandungan antioksidan daun teh juga  dua kali lipat lebih banyak. Daun teh sendiri ketersedianya lebih banyak daripada anggur merah, dan hal itu juga merupakan keunggulan tersendiri” ungkap Profesor Djoko seperti dilansir tribunnews.com Senin (8/12/2014).

Pada penelitian obat HIV/AIDS, Profesor Djoko dibantu oleh rekan sesama peneliti, yaitu, Prof  Nasronudin serta Dr Retno Puji Astuti drg MKes, yang merupakan seorang peneliti laboratorium HIV di Tropical Disease Center (TDC).(pa/jurnalwarga)

Komentar Anda

You might also likeclose