Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Film Prendjak Pukau Pecinta Film Di Cannes

Cannes, 17/5 (Antara) – Bagi sutradara film Prendjak, Wregas Bhanuteja, yang berasal Yogyakarta berdiri bersama dengan sutradara dari berbagai negara seperti Perancis, Hungaria, Kanada dan Yunani di gedung Theater Miramar, Cannes dalam rangkaian festival film pendek, Cannes yg diputar Minggu sore tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Film Prenjak diputar bersama empat film singkat lainnya dari Perancis, Lenfance dun Chef karya Antoine de Bary, film Limbo dari Yunani karya Konstantina Kotzamani dan Oh What a Wonderful Feeling dari Kanada olen Francois Jaros, film Le Soldat Vierge dari Perancis yg disutradarai Erwan Le Duc serta film dari Hungaria Superbia olen Luca.

“Yes I came to Cannes for first time,” ujar Wregas Bhanuteja ketika ditanya pembawa acara di depan panggung sebelum pemutaran perdana Film Prendjak, diputar di Theatre Miramar, Cannes, selama beberapa hari 15 dan 16 Mei.

Lebih lanjut Wregas menyebutkan bahwa ia tiba dari Jawa, “I came from Indonesia and I am bring my story from my city Yogyakarta.”

The title of my film is Prenjak, In The Year of Monkey, ujar Wregas menambahkan bahwa memang Prenjak yg adalah nama burung tak ada hubungannya dengan the year on monkey atau tahun monyet, cuma saja para pemain termasuk dirinya lahir pada tahun monyet menurut kalender China.

Selain itu tahun 2016 adalah tahun Monyet dan diharapkan mulai membawa keberuntungan bagi mereka. Film Prendjak yg cuma dibuat dalam beberapa hari itu berdurasi 12 menit.

Usai pemutaran film Prendjak, Wregas Bhanuteja mengakui bahwa ia tak menyangka film yg dibuatnya dapat masuk dalam festival film Cannes, meski pada ketika pendaftaran waktunya telah sangat mepet.

Lega rasanya telah primier di Cannes lagi meski ada rasa kekuatiran dan juga “deg-degkan”, karena yg lihat banyak, mengenai tradisi Jawa apakah mampu diterima, ujar Wregas usai primier film Prendjak yg dihadiri sekitar 300 penonton itu pun banyak yg tertawa.

Film Prendjak ini awalnya terinspirasi dari fenomena yg ada di Yogya tahun 80-an, ada seorang gadis penjual korek api dan seorang perempuan bernama Diah yg butuh uang karena perekonomiannya terbatas.

Dia coba menawarkan ke teman sekerjanya, sekotak korek api. Satu batang korek api harganya Rp10.000,-. Kalau mau, dia dapat melihat salah sesuatu anggota tubuhnya. Karena dia nggak tahu mau ngapain lagi, dia jual korek api itu. Secara sederhana seperti itu.

Film “Perenjak yg mengambil latar di Yogyakarta itu masuk dalam kategori “La Semaine de la Critique” dan mulai diputar tiga kali di festival film tersebut.

Setelah diputar di Cannes, film tersebut mulai diputar perdana di Indonesia pada Juni mendatang dan Wregas ingin karyanya mampu di putar di Yogyakarta.

Pada acara pemutaran perdana film Prendjak juga hadir Konjen RI di Marsaille, Dewi Kusumaastuti dan mengakui sangat bangga film Indonesia khususnya film pendek dapat masuk dan diputar di Festival Film Cannes.

Hal ini mampu mewakili perfileman Indonesia masa depan dan diharapkannya dapat membawa nama Indonesia di dunia internasional khususnya film.

Sementara itu bintang film, Rosa mengakui bahwa dirinya sangat senang mampu tiba ke Cannes dan menyaksikan filmnya ditayangkan.

Tidak terpikirkan mampu tiba ke Cannes, ini yaitu suatu anugerah bagi saya, ujar Rosa dan menambahkan biasanya ia di belakang layar, namun bagi Film Prendjak ia diminta bagi segera memerankan Diah yg menurut Wregas pas dengan karakter Rosa.

Diakuinya penampilannya di Festival Film Cannes yaitu titik balik dari karirnya, dukungan yg sangat mendalam dalam hidup dan tak pernah terbayangkan, ujar Rosa.

Rosa juga berharap mulai lebih banyak lagi film Indonesia mampu masuk dalam festival Cannes.

Pemenang film pendek yg masuk dalam kategori “La Semaine de la Critique” direncanakan mulai diumumkan pada akhir acara, tanggal 20 Mei.

“Bagi saya, berangkat ke sana telah anugerah banget. Saya dapat belajar banyak,” demikian Wregas yg sempat mencicipi jalan di karpet merah pada Festival Film Cannes yg juga menjadi impian setiap bintang film di dunia.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose