Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Malaikat Pencabut Nyawa Di Polda Metro Jaya

Malaikat Pencabut Nyawa Di Polda Metro Jaya

“Pada malam itu tanggal 26 April 2014. Kami segala melihat dan mendengar saudara Zaenal menyebut nama Azwar. Pada malam itu pula saudara Azwar di jemput buat dimintai keterangan,” begitu isi dokumen surat pernyataan para terdakwa perkara pelecehan Jakarta Intercultural School diperoleh merdeka.com. Dalam surat ditandatangani oleh ketiga terdakwa, Syahrial, Agus Iskandar dan Virgiawan Amin bersisi tentang kesaksian mereka sebelum ajal menjemput Azwar di balik tahanan Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Syahrial, Agus Iskandar, Virgiawan Amin, Afrisca serta Azwar memang sudah lama ditetapkan sebagai tersangka atas masalah pelecehan seksual sempat heboh di Jakarta International School beberapa tahun lalu. Setelah perkara itu ramai diberitakan media, nama sekolah pun diubah menjadi ‘Jakarta Intercultural School’. Kini perkara itu kembali ramai diperbincangkan di media sosial setelah salah seorang pengguna membeberkan kejanggalan. Ada dugaan kriminalisasi terhadap para tersangka. Mereka bukan pelaku melainkan korban masalah diduga direkayasa.

Salah sesuatu buktinya adalah surat pernyataan dari ketiga tersangka ini sebelum ajal menjemput Azwar. “Yang kalian lihat malam itu saudara Azwar bukan dimintai keterangan, tapi yg kalian lihat adalah siksaan,” tulis surat itu dalam paragraf pertama. Alat-alat bagi menyiksa Azwar pun diuraikan. Saat dimintai keterangan, penis Azwar diberi balsem gosok. Penjepit kertas pun digunakan bagi menjepit puting kedua buah dada bidangnya. Sementara badannya dicambuk memakai selang air. Azwar duduk di bangku besi berwarna biru.Malaikat Pencabut Nyawa Di Polda Metro JayaSiksaan sebelum dijemput malaikat Izrail itu, Azwar dibawa ke kamar mandi. Keluar dalam keadaan basah kuyup. Badannya pun menggigil. Ketika Azwar bertemu dengan para tersangka yang lain dalam masalah JIS, kepalanya ditodong senjata api. “Lalu pak Rudi bilang. ‘Jangan menggunakan ini, urusannya beda’,” tulis surat itu dalam paragraf ke tiga. “Lalu mata Azwar ditutup memakai lakban,”

Menit-menit menegangkan itu pun diuraikan dalam surat pernyataan itu. Sekitar pukul setengah sesuatu siang, Azwar meminta izin ke toilet. Tidak berapa lama, keempat tersangka mendengar suara orang terjatuh di lantai. Belakangan diketahui Azwar menenggak cairan pembersih lantai. Dia tewas. Pukul setengah tujuh malam, kabar meninggalnya Azwar pun didengar tersangka lain.

“Sekitar jam 18.30 Wib bisa kabar dari penyidik namanya Pak Hari. Katanya temen lo mampus.” ujar Hari kepada empat tersangka. “Kalau jadi orang jangan kaya begitu, harus jadi kesatria dan bertanggung jawab,”. Dalam akhir surat pernyataan, ke empat tersangka menyampaikan seandainya sampai detik ini mereka bukanlah pelaku pelecehan seksual. “Kami ini enggak ngelakuin tapi kalian dipaksa dan dianiaya,” tulis penutup dokumen kesaksian itu.

Dokumen itu pun mengantarkan merdeka.com bagi menyambangi kediaman Azwar di Gang Haji Salam, Cinere, Kota Depok, Jawa Barat. Sayang, pihak keluarga enggan bagi dimintai informasi mengenai kematian Azwar di dalam kamar mandi Polda Metro Jaya. Apalagi jasad tubuh Azwar tidak di otopsi. Ibunda Azwar menolak buat diwawancarai pada Rabu minggu lalu. Dia menganggap perkara anaknya telah usai. Tetangga mendiang Azwar pun menolak berkomentar mengenai masalah kembali ramai diperbincangkan ketika ini.

Sementara Syahrial dan Virgiawan Amin beberapa tersangka dalam perkara itu pun mengakui adanya penyiksaan dikerjakan oleh penyidik kala itu. Dia membenarkan seandainya sebelum ajal menjemput Azwar, temannya itu disiksa. “Azwar masuk kamar mandi dan keluar telah basah kuyup. Kita tak boleh lihat kondisi Azwar oleh penyidik,” ujar Syahrial ketika ditemui di Lapas Cipinang, Jumat minggu lalu. Malaikat Pencabut Nyawa Di Polda Metro JayaKeduanya pun tidak mengetahui sejak terakhir meeting mereka dengan Azwar pamit ke toilet. Syahrial dan Awan baru mengetahui Azwar tewas dari seorang penyidik. “Pak Hari ngasih tau kami kalau Azwar telah tak ada,” ujarnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Komisaris Besar Awi Setiyono ketika dikonfirmasi mengenai dugaan penyiksaan ini mengatakan, penyidik telah melakukan profesionalitas dalam mengemban tugas. Jika memang ada bukti penyiksaan itu, dia meminta pihak-pihak tak puas dalam perkara ini mampu mengadukan ke Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Metro Jaya. “Kalau memang ada kekerasan kami kan perlu klarifikasi apa betul ada penyiksaan itu. Kalau ada, ya laporkan itu nanti propam mulai turun memeriksa,” ujar Awi ketika ditemui kemarin.
Sumber: http://www.merdeka.com

Komentar Anda

You might also likeclose