Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Cerita Di Balik Mundurnya Soeharto

Cerita Di Balik Mundurnya Soeharto

KOMPAS – TANGGAL 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB, seluruh perhatian tertuju ke credentials room di Istana Merdeka, Jakarta. Saat itu, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Dalam pidato yg singkat, Soeharto antara yang lain mengatakan, Saya menetapkan bagi menyatakan berhenti dari jabatan aku sebagai Presiden RI, terhitung sejak aku bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.

Pengumuman pengunduran diri Soeharto Kamis pagi itu sesungguhnya tidaklah terlalu mengejutkan, karena sehari sebelumnya telah ramai dibicarakan bahwa Presiden Soeharto mulai mengundurkan diri. Yang menjadi pertanyaan, apa yg mendorong Soeharto akhirnya menetapkan bagi mundur? Karena, dua hari sebelumnya, Soeharto masih percaya mampu mengatasi keadaan.

Kejutan ke arah mundurnya Soeharto diawali oleh informasi pers Ketua DPR/MPR Harmoko usai Rapat Pimpinan DPR, Senin (18/5) lalu.

Tanggal 18 Mei 1998

Pukul 15.20 WIB, Harmoko di Gedung DPR, yg dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko ketika itu didampingi segala Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad.

Namun, kejutan yg disambut gembira oleh ribuan mahasiswa yg mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat itu, tak berlangsung lama. Karena malam harinya, pukul 23.00 WIB Menhankam/ Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri itu yaitu sikap dan pendapat individual, meski pernyataan itu disampaikan secara kolektif.

Walaupun sikap ABRI itu disampaikan setelah Wiranto memimpin meeting kilat dengan para Kepala Staf Angkatan dan Kapolri serta para panglima komando, tapi diketahui bahwa pukul 17.00 WIB Panglima ABRI bertemu dengan Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana. Dengan demikian, muncul dugaan bahwa apa yg dikemukakan Wiranto itu adalah pendapat Presiden Soeharto.

Pukul 21.30 WIB, empat Menko diterima Presiden Soeharto di Cendana buat melaporkan perkembangan. Mereka juga berniat memakai kesempatan itu buat menyarankan agar Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle. Tujuannya, agar mereka yg tak terpilih lagi dalam kabinet reformasi tak terlalu “malu”. Namun, niat itu–mungkin ada yg membocorkan–tampaknya telah diketahui oleh Presiden Soeharto. Ia segera mengatakan, “Urusan kabinet adalah urusan saya.” Akibatnya, usul agar kabinet dibubarkan tak jadi disampaikan. Pembicaraan beralih pada soal-soal yg berkembang di masyarakat.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose