Monday , June 26 2017
Topik Terhangat

Palace Gagal Juara Piala FA Karena Terlalu Bertumpu Pada Zaha

Palace Gagal Juara Piala FA Karena Terlalu Bertumpu Pada Zaha

Manchester United berhasil meraih trofi pertamanya sejak menjuarai liga pada musim 2012/2013 serta Community Shield pada awal musim 2013/2014. Trofi Piala FA berhasil direngkuh setelah mengandaskan Crystal Palace 2-1 dalam partai final Piala FA yg dihelat di Stadion Wembley, Sabtu (21/5) petang.

MU sempat tertinggal terlebih lalu lewat gol Palace yg dicetak Jason Puncheon pada menit ke-78 setelah menerima umpan silang Joel Ward. Selang tiga menit kemudian, MU membalas lewat sepakan Juan Mata yg menerima umpan dada Marouane Fellaini.

Pertandingan pun dilanjutkan ke babak tambahan waktu. MU sempat tertekan karena pada menit ke-105, Chris Smalling menerima kartu kuning kedua yg membuatnya diusir wasit. Namun, MU justru tidak mengurangi skor sekaligus mengunci kemenangan lewat gol Jesse Lingard pada menit ke-110.

Gelar ini membuat MU menyamai gelar Piala FA yg dimiliki Arsenal, dengan 12 gelar. Manajer MU, Louis van Gaal, mengungkapkan rasa bangganya karena ia adalah manajer pertama MU setelah era Sir Alex Ferguson yg dapat memenangi trofi.

“Meskipun cuma bermain dengan 10 pemain, kita menunjukkan semangat yg sudah kalian tunjukkan dalam perjalanan menuju final. Kami bertarung sampai akhir,” ungkap Van Gaal.

Sementara itu, Pardew bangga dengan permainan anak asuhnya. “Semua pemain bermain dengan baik dan kita tengah coba buat menganggap kekalahan ini dengan kehormatan. Kami harap Man United mampu berjuang di Europa League. Kami mulai pulang dan menyembuhkan luka kami,” ungkap Pardew.

Susunan Pemain

Palace Gagal Juara Piala FA Karena Terlalu Bertumpu Pada Zaha

Menumbalkan pertandingan menghadapi Southampton pada minggu terakhir liga, nyatanya berarti banyak bagi Crystal Palace. Meski kalah 1-4, tetapi pemain tim penting asuhan Alan Pardew milik stamina yg prima buat bermain agresif sepanjang pertandingan.

Pardew menunaikan janjinya dengan memasang para pemain terbaik. Pardew bahkan menurunkan kapten tim, Mile Jedinak, yg sebelumnya dikabarkan masih dalam masa penyembuhan.

Bermainnya Jedinak membuat posisi James McArthur digeser lebih ofensif dengan berdiri di depan Jedinak dan Yohan Cabaye. McArthur menopang pergerakan Connor Wickham yg diplot sebagai penyerang tunggal.

Di kubu MU, tak ada perubahan berarti dalam susunan pemain. Lini tengah tetap dihuni Wayne Rooney, Michael Carrick, serta Marouane Fellaini. Di lini serang, pergerakan Marcus Rashford ditopang Anthony Martial serta Juan Mata di kedua sisi.

Menekan Sejak Awal

Sebelum laga, telah diprediksi bahwa penguasaan bola mulai lebih dominan di kubu MU. Hal ini kelihatan dari kecenderungan MU yg milik rataan 56% penguasaan bola sepanjang musim ini di liga. Bola pun biasanya berputar-putar di area tengah, sebelum dikirimkan ke kedua sisi.

Hal ini membuat Palace “mengikuti” kemauan MU dengan bermain lebih menunggu dan sesekali melakukan balasan lewat serangan balik. Namun, Palace melakukan pendekatan yg berbeda.

Ketimbang mengisolir area tengah dengan menumpuk pemain, Palace memilih bagi segera menekan hingga area pertahanan MU. Apa yg dikerjakan Palace terbilang efektif bagi membuat MU berbuat kesalahan dan memanfaatannya menjadi peluang. The Red Devils pun kesulitan buat menembus pertahanan Palace. Bahkan, pada awal-awal babak pertama, bola hampir terputus sebelum melewati poros ganda Palace.

McArthur, Wickham, Yannick Bolasie, serta Wilfried Zaha, mengemban tugas bagi melakukan pressing. Ditekan seperti ini, membuat MU terburu-buru dalam melepaskan umpan, yg membuat bangunan serangan menjadi tak efektif.

Palace Gagal Juara Piala FA Karena Terlalu Bertumpu Pada Zaha

[Grafis tembakan. Biru: MU; Merah: Crystal Palace. Sumber: WhoScored]

Pada babak pertama, MU melepaskan 10 attempts, tetapi cuma sesuatu yg mencapai sasaran, sementara enam lainnya berhasil diblok. Dari jumlah di atas kelihatan kalau Palace berhasil membuat MU bermain tidak efektif. Terlebih The Red Devils mencatatkan penguasaan bola sampai 66,8%.

Palace Tak Maksimalkan Peluang

Menyerang lewat serangan balik mengharuskan setiap serangan berbuah menjadi peluang. Pasalnya, mereka tak setiap ketika bisa melakukan serangan sehingga jumlah peluang yg didapatkanpun tidak mulai sebanyak seperti kesebelasan yg lebih bayak memegang bola.

Palace memang bermain begitu bagus kala menekan. Mereka bisa membuat MU kesulitan mengembangkan permainan. Namun, kala menyerang, Palace seperti kehabisan tenaga dan oksigen tak sampai ke kepala mereka, yg membuat mereka kelihatan seperti kebingungan. Sejumlah serangan pun justru kandas dan gagal menjadi peluang.

Sepanjang 45 menit babak pertama, Palace hanya melepaskan tiga attempts yg beberapa di antaranya mencapai sasaran. Hal ini tidak yang lain karena Palace kerap kehilangan bola dengan 11 kali.

Tampil Lepas

Palace Gagal Juara Piala FA Karena Terlalu Bertumpu Pada Zaha

[Arah Serangan. Kiri: Palace; Kanan: MU. Sumber: WhoScored]

MU akan bisa menembus area sepertiga akhir penyerangan mereka. Namun, Anthony Martial dan kolega, hampir tidak dapat menembus area kotak penalti Palace. Ini yg membuat MU akan mengirimkan umpan-umpan silang bagi ditanduk Marcus Rashford maupun Fellaini. Pada babak pertama MU melepaskan 14 umpan silang, sementara pada babak kedua 11 umpan silang.

Palace menyerang lewat sisi kanan melalui Zaha. Arah serangan ini kian kentara ketika memasuki perpanjangan waktu. Namun, terlalu bertumpunya pada Zaha, membuat sang pemain kehabisan tenaga dan gagal mengirimkan umpan-umpan terbaik untuk lini serang Palace.

Kuatnya pertahanan Palace ditambah dengan rapatnya jarak antara lini belakang dengan poros ganda, yg membuat MU mesti bermain melebar bagi menghindari terjangan Jedinak dan Cabaye. Kedua pemain mencatatkan total tujuh tekel, lima intercept, dan lima clearence sepanjang 90 menit permainan.

Di sisi lain, Palace pun akan bermain lepas pada babak kedua. Dengan MU yg bermain menyerang, Palace menjadi milik kelebihan karena lini pertahanan MU tak rapat.Pada babak kedua, gol yg dicetak Palace berawal dari proses tendangan penjuru. Proses gol Palace sejatinya bukan berasal dari skema yg mengancam. Pasalnya, para pemain MU begitu berjubel di dalam kotak penalti, sementara umpan Joel Ward kelihatan yang berasal tidak terarah.

Di situlah, penempatan posisi yg baik dari Puncheon membuatnya tak terjebak offside. Bergerak tidak terkawal, membuat Puncheon lebih memilih memaksimalkan peluang dengan melepaskan tembakan meskipun dari sudut sempit. Bola yg kelewat keras pun tidak mampu ditahan oleh David De Gea. Sial untuk Palace, karena setelah gol tersebut, final ulangan pada 1990 seolah kembali teringat dalam bayangan.

Hilang Konsentrasi

Gol yg dicetak Puncheon serempak membuat hampir segala pemain kehilangan konsentrasi. Jarak antarlini menjadi begitu jauh. Perubahan posisi McArthur yg berduet dengan Jedinak di poros ganda belum begitu padu. Rooney pun memanfaatkan hal ini dengan menembus area tersebut bagi menusuk ke dalam kotak penalti.

Fokus para pemain Palace seolah menghilang. Baik Bolasie maupun Zaha tidak lagi disiplin menjaga pertahanan atau melakukan pressing. Sejak itulah MU akan keluar dari tekanan.

Dalam dua kesempatan kelihatan bagaimana duet Damien Delaney serta Scott Dann mesti melakukan clearence karena serangan MU yg begitu membahayakan, dan segera berhadapan dengan mereka.

Tiga menit setelah gol Puncheon, Mata mencetak gol. Prosesnya berasal dari Rooney yg melakukan akselerasi dari lapangan tengah hingga ke kotak penalti. Saat masuk kotak penalti, para pemain Palace tidak memerhatikan pergerakan pemain MU. Ini kelihatan dari bagaimana Fellaini dan Mata cuma dikawal oleh sesuatu orang. Dari proses gol pertama MU pula kelihatan kalau sebenarnya Palace berusaha tiga kali melakukan tekel, tetapi semuanya gagal, dan berhasil dilewati oleh Rooney.

Bola umpan silang Rooney mengarah tepat pada Fellaini, tetapi pemain berkebangsaan Belgia tersebut tidak dapat mengontrolnya dengan baik. Bola yg memantul ke dada kemudian bergulir ke hadapan Mata yg segera melepaskan tembakan keras.

Dari proses gol ini, kelihatan kalau Palace milik kelemahan karena kerap melupakan penjagaan. Gol kedua pun serupa di mana terjadi perebutan di dalam kotak penalti. Bola liar bergulir ke hadapan Jesse Lingard di depan kotak penalti. Lingard pun melepaskan tembakan keras ke pojok kanan gawang Palace yg dikawal Wayne Hennessey.

Kesimpulan

Palace sejatinya tak bermain buruk. The Eagles malah menampilkan penampilan impresif pada awal-awal pertandingan dengan menekan pertahanan MU dan membuat mereka tidak dapat mengembangkan permainan.

Hal buruk justru terjadi usai mereka mencetak gol. Hilangnya konsentrasi membuat final kedua setelah 1990 kembali hadir dengan kegagalan.
Di sisi lain, Manchester United memamerkan pengalaman mereka sebagai kesebelasan besar. Kebobolan tak membuat serangan mereka mengendur.

Hadirnya pemain berpengalaman seperti Rooney, mengilhami MU buat selalu berjuang meraih kemenangan. Usai kebobolan, Rooney yg tampak kesal, justru melampiaskannya dengan akselerasi yg berbuah key pass untuk gol pertama MU.

MU pun mesti bermain dengan 10 pemain pada babak perpanjangan waktu. Palace memang segera mengambil keuntungan dengan melakukan serangan. Namun, serangan mereka justru tidak membahayakan.

Kekalahan ini mampu menjadi pelajaran untuk Pardew bahwa timnya tidak dapat menekan secara agresif sepanjang pertandingan. Apalagi partai final berlanjut hingga babak tambahan waktu seandainya ditemui hasil seri. Gol Puncheon memang memberikan harapan sekaligus kegagalan karena seketika itu pula konsentrasi kesebelasan kebanggaan London Selatan ini pupus.

====

*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

(krs/roz)
Sumber: http://sport.detik.com

Komentar Anda

You might also likeclose