Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Orasi Ilmiah, Megawati Bicara Sipadan Dan Ligitan Hingga Proyek LNG Tangguh

Orasi Ilmiah, Megawati Bicara Sipadan Dan Ligitan Hingga Proyek LNG Tangguh

JAKARTA, KOMPAS.com – Megawati Soekarnoputri mengatakan orasi ilmiah tentang berbagai kebijakan dan peristiwa yg tidak jarang dipermasalahkan ketika dirinya menjabat sebagai Presiden kelima RI.

Hal itu disampaikan Megawati ketika menerima anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran.

“Pada kesempatan ini ijinkan aku mengatakan pertangungjawaban sejarah atas berbagai masalah utama saat aku menjadi presiden,” ucap Megawati ketika membuka orasi ilmiahnya di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Kamis (25/5/2016).

Pertama, dia menyinggung Sengketa Sipadan dan Ligitan. Menurut Megawati, seandainya didasarkan pada Undang-undang Nomor 4/Perppu/1960 tentang Negara Kepulauan, Sipadan dan Ligitan tak termasuk wilayah perairan Indonesia dan Malaysia.

“Sehingga keduanya kemudian memperebutkannya dengan berbagai argumentasi. Sengketa kedua pulau tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1967. Pada tahun 1996, Pemerintah Indonesia (Soeharto) melunak dan menyepakati bagi membawa sengketa ini ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) di Den Haag Belanda,” kata Mega.

Saat itu, dia memerintahkan Menteri Luar Negeri buat selalu memperjuangkan agar Sipadan dan Ligitan menjadi bagian dari wilayah Indonesia.

(baca: Megawati Terima Gelar Doktor, Ahok Kirim Bunga)

“Dan Putusan Mahkamah Internasional yg memenangkan Malaysia tersebut kebetulan ditetapkan pada tahun 2002, ketika aku menjabat sebagai Presiden,” lanjut Mega.

Kedua terkait Pulau Nipah. Menurut dia, ada sesuatu catatan sejarah yg hampir terlupakan, mengenai kedaulatan wilayah RI. Ia mengatakan, Pulau Nipah berbatasan dengan Singapura.

Saat itu, Pulau Nipah hampir tenggelam karena pengerukan pasir oleh Singapura. Jika pulau itu tenggelam dan hilang, tentu saja wilayah Singapura mulai semakin luas.

(baca: Unpad Resmi Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa kepada Megawati)

“Saya langsung perintahkan buat menimbun kembali pulau itu. Ketika berkunjung ke Singapura, pada ketika kembali ke tanah air, aku minta dijemput dengan Kapal Perang Republik Indonesia buat meninjau Pulau Nipah. Hal itu aku lakukan dengan sengaja buat memamerkan kepada Singapura bahwa Pulau Nipah adalah bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia,” ujar Megawati.

Ketiga, yakni proyek Liquid Natural Gas (LNG) Tangguh antara Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dia mengatakan, ketika itu suplai minyak internasional masih melimpah dan tak ada sesuatu pun negara yg mau membeli gas Indonesia.

“Gas bumi Indonesia bagi bisa diekspor harus dalam bentuk LNG. Kita pun dalam keadaan harus bersaing dengan Rusia dan Australia yg segera bertetangga dengan Tiongkok dan telah berencana membangun pipa gas ke negara tersebut,” kata Mega.

Saat itu, Megawati akhirnya menetapkan bagi melakukan lobi diplomatik “Lenso Bengawan Solo” secara segera dengan Presiden RRT saat itu, Jiang Zemin.

Akhirnya, RRT membatalkan kerja sama dengan Rusia dan Australia dan memilih bekerja sama dengan Indonesia.

Megawati pun mengakhiri orasi ilmiahnya dengan berpesan supaya pemimpin masa depan adalah pemimpin yg memiliki wawasan kebangsaan yg luas.

“Itu sebagaimana pula yg dipesankan Bung Karno kepada bangsa ini,” ucap Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose