Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Ada suasana tegang pada November 1989 ketika Tembok Berlin diruntuhkan. Banyak yg bilang kalau tembok itu adalah simbol anti-fasis, simbol anti-Nazi.

Apapun alasannya, yg jelas Tembok Berlin membuat warga Jerman di sebelah timur menderita, bahkan mungkin hingga ketika ini. Mereka terkesan tertinggal dari masyarakat Jerman Barat, salah satunya soal sepakbola.

Pada 8 Mei 2016, ketegangan serupa terasa di Red Bull Arena. RB Leipzig (RasenBallsport Leipzig) yg berasal dari timur, bertemu dengan Karlsruher SC dalam pertandingan yg maha penting. Hanya kemenangan yg mulai membawa mereka ke Bundesliga. Suporter RB Leipzig menilai bahwa pertandingan tersebut sama nilainya dengan runtuhnya Tembok Berlin.

Suasana tegang di Red Bull Arena akan mengendur setelah Leipzig dapat mencetak beberapa gol pada babak kedua melalui Emil Forsberg dan Martin Halstenberg. Hingga wasit dibunyikan wasit, Leipzig bisa memertahankan kedudukan dan berhasil promosi buat pertama kalinya ke Bundesliga.

Semua elemen dalam tim larut dalam kebahagiaan. Para pemain, manajemen, serta pelatih, turut bangga atas pencapaian yg diraih RB Leipzig dalam waktu yg begitu singkat. Semua berpesta, termasuk sang pelatih yg wara-wiri melatih sejumlah kesebelasan Bundesliga, Ralf Rangnick. Ia bahkan mendapatkan cedera hamstring setelah menghindari kejaran salah sesuatu pemainnya, Davie Selke, yg mulai menyiramkan bir kepada dirinya dalam pesta perayaan lolosnya RB Leipzig ke Bundesliga.

Namun, Leipzig bukan cuma tentang RB Leipzig saja. Banyak hal yg terkait dengan kota yg terletak di timur Jerman ini, dan juga dua hal yg menyertainya yg dilabeli dengan sebuah frasa “kebangkitan sepakbola Jerman Timur” dan juga “runtuhnya Tembok Berlin bagi kedua kalinya”.

Segala Hal yg Serba Pertama di Jerman

Jerman bagian barat dianggap lebih berprestasi contohnya dengan kesebelasan jenis Bayern Munich, Borussia Dortmund, Schalke 04, Werder Bremen, VfL Wolfsburg, dan yang lain sebagainya. Padahal, fondasi sepakbola Jerman justru dibentuk dari wilayah Timur.

Asosiasi Sepakbola Jerman, Deustche Fussball Bund (DFB), pertama kali didirikan di kota Leipzig pada 28 Januari 1900. Leipzig ketika itu yaitu ibukota dari Jerman sebelum akhirnya Jerman terjun dalam Perang Dunia I.

Kesebelasan yg pertama menjadi juara di tanah Jerman pun adalah VfB Leipzig, yg mengalahkan DFC Praha dengan skor 7-2 dalam pertandingan yg berlangsung di Altona pada 31 Mei 1903. VfB Leipzig akhirnya bubar pada 2004 setelah mengalami kebangkrutan.

Pertandingan pertama yg menyedot massa paling banyak pun terjadi pertama kali di Leipzig, tepatnya dalam pertandingan antara timnas Jerman Timur melawan timnas Cekoslovakia yg dilangsungkan di Zentralstadion, Leipzig, pada 1957. Dalam pertandingan yg berakhir dengan kemenangan 4-1 Cekoslovakia tersebut, penonton yg hadir mencapai angka 110.000 orang, yg yaitu rekor penonton terbanyak di Jerman sampai ketika ini.

Saat orang-orang mengagung-agungkan kesebelasan dari Jerman Barat, mereka lupa bahwa sepakbola Jerman berawal dari wilayah Jerman Timur, dan kota Leipzig adalah saksi dari segala kejadian tersebut.

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Kota Leipzig (Wikipedia)

Kebangkitan RB Leipzig, Kebangkitan Sepakbola Jerman Timur

RB Leipzig dibentuk pada 19 Mei 2009 oleh minuman berenergi, Red Bull, lewat akuisisi kesebelasan divisi lima Liga Jerman, SSV Markranstädt. Promosinya RB Leipzig yaitu pertanda bangkitnya sepakbola Jerman Timur, yg semenjak masa reunifikasi Jerman pada 1990, tidak pernah mampu berbicara banyak di tanah Jerman. Terlebih Energie Cottbus, kesebelasan Jerman timur lain, terdegradasi dari Bundesliga pada 2009.

Prestasi kesebelasan-kesebelasan yang berasal Jerman Timur tak pernah bisa menyaingi prestasi kesebelasan yang berasal Jerman Barat. Setelah unifikasi Liga Jerman Barat dan Liga Jerman Timur pada 1992, tidak banyak kesebelasan yang berasal Jerman Timur yg menghuni level kompetisi teratas Jerman (Bundesliga). Kebanyakan mereka cuma berkompetisi di Bundesliga 2 dan 3.

Hal ini diakibatkan oleh gegar budaya ketika kesebelasan Jerman Timur yg pada ketika itu bersifat lebih sosialis, dipaksakan bagi menjadi klub yg kapitalis seperti halnya kesebelasan-kesebelasan Jerman Barat. Inilah yg membuat kesebelasan-kesebelasan Jerman Timur sulit buat bersaing yg mengakibatkan mereka cuma berada di kompetisi level kedua dan ketiga Jerman.

urang antara Wessis (ucapan slang orang-orang Jerman Timur kepada orang-orang Jerman Barat) dan Ossis (ucapan slang orang-orang Jerman Barat kepada orang-orang Jerman Timur) pun dari tahun ke tahun semakin menganga. Lihatlah bagaimana klub jaya yang berasal Jerman Barat, Bayern Muenchen, menguasai tampuk kekuasaan Bundesliga selama bertahun-tahun.

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Lihat pula bagaimana kesebelasan yang lain yang berasal Jerman Barat jenis Schalke, Bayer Leverkusen, dan Borussia Dortmund, yg hilir mudik masuk Liga Champions Eropa. Maka makin mengangalah jurang antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

Di ketika seperti inilah, Red Bull, sebuah perusahaan yang berasal Austria masuk ke Jerman dan melihat ada potensi dalam kota Leipzig yg pernah menjadi salah sesuatu kota terbesar di Jerman. Seperti halnya Volkswagen di kota Wolfsburg dan Bayer di kota Leverkusen, Red Bull pun melakukan akuisisi terhadap salah sesuatu klub Leipzig, dengan membuat klub bernama RB Leipzig. Mereka memakai salah sesuatu stadion peninggalan Piala Dunia 2006 bernama Zentralstadion (juga stadion peninggalan Vfb Leipzig) buat dijadikan kandang.

Tepat pada 2009, akhirnya angin perlahan akan berpindah ke Jerman Timur, kembali ke kota tempat sepakbola Jerman pertama kali dibentuk, kota Leipzig. Berbagai rencana pun akan dijalankan, akan dari menguasai Bundesliga, mewakili Jerman di Eropa, dan meraih berbagai trofi mayor, satu yg selama ini dianggap cuma menjadi target klub-klub Jerman Barat.

Maka, dibangunlah fasilitas-fasilitas latihan yg memadai, pun akademi sepakbola disertai dengan pelatih-pelatih berpengalaman, termasuk nama Ralf Rangnick yg melatih tim utama, demi mewujudkan rencana jangka panjang dari RB Leipzig tersebut.

Klub-Klub Jerman Barat yg Mulai Kebakaran Jenggot

Dahulu kala, kapitalisme-lah yg menghancurkan persepakbolaan Jerman Timur. Sekarang, justru kapitalisme yg membangkitkan sepakbola Jerman Timur. Berbagai orang perlahan akan mengejek RB Leipzig, sama halnya seperti saat suporter-suporter Manchester United dan Liverpool mengejek Chelsea dan Manchester City sebagai klub “tanpa sejarah dan bermodalkan uang semata”.

Namun, suporter RB Leipzig sama sekali tak peduli mulai hal itu. Mereka tetap tiba buat mendukung RB Leipzig. Salah sesuatu buktinya adalah hadirnya 40 ribu penonton yg yaitu tertinggi di Bundesliga 2 pada musim ini. Mereka tidak peduli, sama seperti ketidakpedulian orang-orang mulai kejatuhan sepakbola Jerman Timur dalam dua tahun ke belakang.

Kritik pun selalu berdatangan kepada RB Leipzig. Apalagi setelah klub ini dianggap melanggar aturan “50+1” yg yaitu aturan kepemilikan sebuah klub di Bundesliga. Dalam aturan “50+1”, disebutkan bahwa tiap klub di Jerman setidaknya milik 50 plus 1 persen saham dipegang oleh klub itu sendiri. Aturan ini dikhususkan agar kepemilikan klub tak jatuh ke tangan-tangan asing, seperti halnya yg terjadi di Liga Inggris. RB Leipzig dianggap telah menyalahi aturan tersebut karena kepemilikan dari klub ini banyak dimiliki oleh para karyawan dari Red Bull sendiri (klub Leipzig dipegang oleh 11 orang yg semuanya adalah karyawan Red Bull).

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Namun, ada juga dua pihak yg menyatakan kalau apa yg dikerjakan Leipzig ini tak melanggar aturan “50+1”. “RB sama sekali tak merusak aturan ’50+1′, mereka cuma sedikit melebihkan aturan tersebut,” ujar salah sesuatu blogger yg menulis tentang RB Leipzig, Mathias Kiessling.

Kiessling juga berujar bahwa justru ada dua klub yg telah jelas-jelas merusak aturan “50+1” seperti VfL Wolfsburg ataupun Bayer Leverkusen yg dimiliki oleh perusahaan –masing-masing oleh Volkswagen dan Bayer. “Wolfsburg dan Leverkusen telah terlebih dulu merusak aturan tersebut, Kebangkitan RB Liepzig ini mungkin cuma salah sesuatu dari ketakutan para Wessis terhadap kebangkitan Jerman Timur,” ujarnya.

Memang apa yg diujarkan oleh Kiessling tidaklah salah, melihat dalam dua tahun ini terus klub yang berasal Jerman Barat-lah yg muncul ke permukaan, meninggalkan klub-klub yang berasal Jerman Timur yg masih berusaha buat “berenang ke permukaan”. Maka, ketika melihat ada klub Jerman Timur yg dapat berenang ke permukaan, kebakaran jenggotlah mereka.

Skenario yg Mungkin Terjadi buat RB Leipzig

Sebetulnya masih banyak skenario yg mungkin terjadi untuk RB Leipzig, belum lagi menilai transfer yg mulai mereka lakukan pada musim panas jelang Bundesliga 2016/2017 dimulai. Bahkan, masih memungkinkan juga klub ini mulai terdegradasi kembali ke Bundesliga 2 buat musim selanjutnya.

Namun, di tangan Ralf Rangnick yg telah berpengalaman di Bundesliga, juga dengan pemain-pemain muda jenis Davie Selke, Niklas Suele, Yussuf Poulsen, Ron Robert Zieler, setidaknya klub ini masih memiliki peluang buat bertahan di Bundesliga musim depan. Semuanya tergantung kepada kecerdasan manajemen dan pelatih dalam melakukan transfer, dan juga cara Rangnick memaksimalkan kemampuan pemainnya.

Namun, bagi sekarang, marilah kami ucapkan: Herzlich Willkommen in der Bundesliga, RB Leipzig!

=====

*penulis juga biasa menulis bagi situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @sandi1750.

(krs/roz)
Sumber: http://sport.detik.com

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Ada suasana tegang pada November 1989 ketika Tembok Berlin diruntuhkan. Banyak yg bilang kalau tembok itu adalah simbol anti-fasis, simbol anti-Nazi.

Apapun alasannya, yg jelas Tembok Berlin membuat warga Jerman di sebelah timur menderita, bahkan mungkin hingga ketika ini. Mereka terkesan tertinggal dari masyarakat Jerman Barat, salah satunya soal sepakbola.

Pada 8 Mei 2016, ketegangan serupa terasa di Red Bull Arena. RB Leipzig (RasenBallsport Leipzig) yg berasal dari timur, bertemu dengan Karlsruher SC dalam pertandingan yg maha penting. Hanya kemenangan yg mulai membawa mereka ke Bundesliga. Suporter RB Leipzig menilai bahwa pertandingan tersebut sama nilainya dengan runtuhnya Tembok Berlin.

Suasana tegang di Red Bull Arena akan mengendur setelah Leipzig bisa mencetak beberapa gol pada babak kedua melalui Emil Forsberg dan Martin Halstenberg. Hingga wasit dibunyikan wasit, Leipzig dapat memertahankan kedudukan dan berhasil promosi bagi pertama kalinya ke Bundesliga.

Semua elemen dalam tim larut dalam kebahagiaan. Para pemain, manajemen, serta pelatih, turut bangga atas pencapaian yg diraih RB Leipzig dalam waktu yg begitu singkat. Semua berpesta, termasuk sang pelatih yg wara-wiri melatih sejumlah kesebelasan Bundesliga, Ralf Rangnick. Ia bahkan mendapatkan cedera hamstring setelah menghindari kejaran salah sesuatu pemainnya, Davie Selke, yg mulai menyiramkan bir kepada dirinya dalam pesta perayaan lolosnya RB Leipzig ke Bundesliga.

Namun, Leipzig bukan cuma tentang RB Leipzig saja. Banyak hal yg terkait dengan kota yg terletak di timur Jerman ini, dan juga dua hal yg menyertainya yg dilabeli dengan sebuah frasa “kebangkitan sepakbola Jerman Timur” dan juga “runtuhnya Tembok Berlin bagi kedua kalinya”.

Segala Hal yg Serba Pertama di Jerman

Jerman bagian barat dianggap lebih berprestasi contohnya dengan kesebelasan jenis Bayern Munich, Borussia Dortmund, Schalke 04, Werder Bremen, VfL Wolfsburg, dan yang lain sebagainya. Padahal, fondasi sepakbola Jerman justru dibentuk dari wilayah Timur.

Asosiasi Sepakbola Jerman, Deustche Fussball Bund (DFB), pertama kali didirikan di kota Leipzig pada 28 Januari 1900. Leipzig ketika itu yaitu ibukota dari Jerman sebelum akhirnya Jerman terjun dalam Perang Dunia I.

Kesebelasan yg pertama menjadi juara di tanah Jerman pun adalah VfB Leipzig, yg mengalahkan DFC Praha dengan skor 7-2 dalam pertandingan yg berlangsung di Altona pada 31 Mei 1903. VfB Leipzig akhirnya bubar pada 2004 setelah mengalami kebangkrutan.

Pertandingan pertama yg menyedot massa paling banyak pun terjadi pertama kali di Leipzig, tepatnya dalam pertandingan antara timnas Jerman Timur melawan timnas Cekoslovakia yg dilangsungkan di Zentralstadion, Leipzig, pada 1957. Dalam pertandingan yg berakhir dengan kemenangan 4-1 Cekoslovakia tersebut, penonton yg hadir mencapai angka 110.000 orang, yg yaitu rekor penonton terbanyak di Jerman sampai ketika ini.

Saat orang-orang mengagung-agungkan kesebelasan dari Jerman Barat, mereka lupa bahwa sepakbola Jerman berawal dari wilayah Jerman Timur, dan kota Leipzig adalah saksi dari segala kejadian tersebut.

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Kota Leipzig (Wikipedia)

Kebangkitan RB Leipzig, Kebangkitan Sepakbola Jerman Timur

RB Leipzig dibentuk pada 19 Mei 2009 oleh minuman berenergi, Red Bull, lewat akuisisi kesebelasan divisi lima Liga Jerman, SSV Markranstädt. Promosinya RB Leipzig yaitu pertanda bangkitnya sepakbola Jerman Timur, yg semenjak masa reunifikasi Jerman pada 1990, tidak pernah dapat berbicara banyak di tanah Jerman. Terlebih Energie Cottbus, kesebelasan Jerman timur lain, terdegradasi dari Bundesliga pada 2009.

Prestasi kesebelasan-kesebelasan yang berasal Jerman Timur tak pernah dapat menyaingi prestasi kesebelasan yang berasal Jerman Barat. Setelah unifikasi Liga Jerman Barat dan Liga Jerman Timur pada 1992, tidak banyak kesebelasan yang berasal Jerman Timur yg menghuni level kompetisi teratas Jerman (Bundesliga). Kebanyakan mereka cuma berkompetisi di Bundesliga 2 dan 3.

Hal ini diakibatkan oleh gegar budaya ketika kesebelasan Jerman Timur yg pada ketika itu bersifat lebih sosialis, dipaksakan buat menjadi klub yg kapitalis seperti halnya kesebelasan-kesebelasan Jerman Barat. Inilah yg membuat kesebelasan-kesebelasan Jerman Timur sulit bagi bersaing yg mengakibatkan mereka cuma berada di kompetisi level kedua dan ketiga Jerman.

urang antara Wessis (ucapan slang orang-orang Jerman Timur kepada orang-orang Jerman Barat) dan Ossis (ucapan slang orang-orang Jerman Barat kepada orang-orang Jerman Timur) pun dari tahun ke tahun semakin menganga. Lihatlah bagaimana klub jaya yang berasal Jerman Barat, Bayern Muenchen, menguasai tampuk kekuasaan Bundesliga selama bertahun-tahun.

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Lihat pula bagaimana kesebelasan yang lain yang berasal Jerman Barat jenis Schalke, Bayer Leverkusen, dan Borussia Dortmund, yg hilir mudik masuk Liga Champions Eropa. Maka makin mengangalah jurang antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

Di ketika seperti inilah, Red Bull, sebuah perusahaan yang berasal Austria masuk ke Jerman dan melihat ada potensi dalam kota Leipzig yg pernah menjadi salah sesuatu kota terbesar di Jerman. Seperti halnya Volkswagen di kota Wolfsburg dan Bayer di kota Leverkusen, Red Bull pun melakukan akuisisi terhadap salah sesuatu klub Leipzig, dengan membuat klub bernama RB Leipzig. Mereka memakai salah sesuatu stadion peninggalan Piala Dunia 2006 bernama Zentralstadion (juga stadion peninggalan Vfb Leipzig) bagi dijadikan kandang.

Tepat pada 2009, akhirnya angin perlahan akan berpindah ke Jerman Timur, kembali ke kota tempat sepakbola Jerman pertama kali dibentuk, kota Leipzig. Berbagai rencana pun akan dijalankan, akan dari menguasai Bundesliga, mewakili Jerman di Eropa, dan meraih berbagai trofi mayor, satu yg selama ini dianggap cuma menjadi target klub-klub Jerman Barat.

Maka, dibangunlah fasilitas-fasilitas latihan yg memadai, pun akademi sepakbola disertai dengan pelatih-pelatih berpengalaman, termasuk nama Ralf Rangnick yg melatih tim utama, demi mewujudkan rencana jangka panjang dari RB Leipzig tersebut.

Klub-Klub Jerman Barat yg Mulai Kebakaran Jenggot

Dahulu kala, kapitalisme-lah yg menghancurkan persepakbolaan Jerman Timur. Sekarang, justru kapitalisme yg membangkitkan sepakbola Jerman Timur. Berbagai orang perlahan akan mengejek RB Leipzig, sama halnya seperti saat suporter-suporter Manchester United dan Liverpool mengejek Chelsea dan Manchester City sebagai klub “tanpa sejarah dan bermodalkan uang semata”.

Namun, suporter RB Leipzig sama sekali tak peduli mulai hal itu. Mereka tetap tiba buat mendukung RB Leipzig. Salah sesuatu buktinya adalah hadirnya 40 ribu penonton yg yaitu tertinggi di Bundesliga 2 pada musim ini. Mereka tidak peduli, sama seperti ketidakpedulian orang-orang mulai kejatuhan sepakbola Jerman Timur dalam dua tahun ke belakang.

Kritik pun selalu berdatangan kepada RB Leipzig. Apalagi setelah klub ini dianggap melanggar aturan “50+1” yg yaitu aturan kepemilikan sebuah klub di Bundesliga. Dalam aturan “50+1”, disebutkan bahwa tiap klub di Jerman setidaknya milik 50 plus 1 persen saham dipegang oleh klub itu sendiri. Aturan ini dikhususkan agar kepemilikan klub tak jatuh ke tangan-tangan asing, seperti halnya yg terjadi di Liga Inggris. RB Leipzig dianggap telah menyalahi aturan tersebut karena kepemilikan dari klub ini banyak dimiliki oleh para karyawan dari Red Bull sendiri (klub Leipzig dipegang oleh 11 orang yg semuanya adalah karyawan Red Bull).

RB Leipzig Dan Sepakbola Jerman Timur Yang Kembali Menggeliat

Namun, ada juga dua pihak yg menyatakan kalau apa yg dikerjakan Leipzig ini tak melanggar aturan “50+1”. “RB sama sekali tak merusak aturan ’50+1′, mereka cuma sedikit melebihkan aturan tersebut,” ujar salah sesuatu blogger yg menulis tentang RB Leipzig, Mathias Kiessling.

Kiessling juga berujar bahwa justru ada dua klub yg telah jelas-jelas merusak aturan “50+1” seperti VfL Wolfsburg ataupun Bayer Leverkusen yg dimiliki oleh perusahaan –masing-masing oleh Volkswagen dan Bayer. “Wolfsburg dan Leverkusen telah terlebih dulu merusak aturan tersebut, Kebangkitan RB Liepzig ini mungkin cuma salah sesuatu dari ketakutan para Wessis terhadap kebangkitan Jerman Timur,” ujarnya.

Memang apa yg diujarkan oleh Kiessling tidaklah salah, melihat dalam dua tahun ini terus klub yang berasal Jerman Barat-lah yg muncul ke permukaan, meninggalkan klub-klub yang berasal Jerman Timur yg masih berusaha bagi “berenang ke permukaan”. Maka, ketika melihat ada klub Jerman Timur yg bisa berenang ke permukaan, kebakaran jenggotlah mereka.

Skenario yg Mungkin Terjadi buat RB Leipzig

Sebetulnya masih banyak skenario yg mungkin terjadi untuk RB Leipzig, belum lagi menilai transfer yg mulai mereka lakukan pada musim panas jelang Bundesliga 2016/2017 dimulai. Bahkan, masih memungkinkan juga klub ini mulai terdegradasi kembali ke Bundesliga 2 bagi musim selanjutnya.

Namun, di tangan Ralf Rangnick yg telah berpengalaman di Bundesliga, juga dengan pemain-pemain muda jenis Davie Selke, Niklas Suele, Yussuf Poulsen, Ron Robert Zieler, setidaknya klub ini masih memiliki peluang bagi bertahan di Bundesliga musim depan. Semuanya tergantung kepada kecerdasan manajemen dan pelatih dalam melakukan transfer, dan juga cara Rangnick memaksimalkan kemampuan pemainnya.

Namun, buat sekarang, marilah kami ucapkan: Herzlich Willkommen in der Bundesliga, RB Leipzig!

=====

*penulis juga biasa menulis bagi situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @sandi1750.

(krs/roz)
Sumber: http://sport.detik.com

Komentar Anda

You might also likeclose