Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

“Money Monster” Peringatkan Kekuasaan Fana Saham

Money Monster Peringatkan Kekuasaan Fana Saham

“The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward.” (Nama aku adalah Lee Gates, acara aku adalah Money Monster. Tanpa risiko, tak bakal ada hasil).

Film “Money Monster” berpusat kepada tiga tokoh utama, merupakan Lee Gates (George Clooney) yg yaitu pembawa acara populer tentang pasar saham yg dikenal dengan membawakan acara dengan gayanya yg santai, urakan, dan sarkastis.

Dalam setiap acara tersebut, yg biasanya diwarnai dengan dua tarian modern para penari latar, Lee menjelaskan mengenai keadaan terbaru pasar saham serta mengemukakan sarannya mengenai saham apa yg harus dibeli atau saham apa yg tetap harus dipertahankan.

Lee dibantu oleh tokoh penting lainnya, Patty Fenn (Julia Roberts), sang pengarah acara yg bertugas sebagai sosok “sutradara” acara tersebut.

Dengan memegang kendali di belakang layar, Patty memiliki sejumlah tim yg bisa mengulas apa yg dibacakan dengan Lee menjadi suatu tontonan yg menarik buat pemirsa.

Namun, Patty yg masih memegang idealisme ala jurnalisme investigatif di dalam dirinya sebenarnya juga telah tak betah buat bekerja di acara itu, dan berencana buat pindah.

Tokoh ketiga yg yaitu sosok sentral dalam film bergenre thriller ini adalah Kyle Budwell (Jack OConnell), warga biasa yg memiliki kebencian terhadap Lee Gates dan acara Money Monster.

Kekesalan yg dimiliki Kyle adalah karena segala uang tabungan yg dimilikinya, berjumlah 60.000 dolar AS, ternyata habis dalam sekejap karena dirinya menuruti nasihat Lee Gates buat membeli saham.

Film “Money Monster” yaitu upaya dari sang sutradara Jodie Foster (peraih aktris terbaik Academy Award 1991 bagi film Silence of the Lambs) bagi menganalogikan krisis finansial yg pernah terjadi di AS dan dampaknya secara global pada tahun 2007 sampai dengan 2008.

Sebagaimana saham yg menjadi kerugian banyak warga dalam “Money Monster”, dalam krisis finansial dua tahun dulu juga berawal dari krisis “subprime mortgage”, semacam instrumen finansial yg menggunakan kalkulasi kompleks derivatif saham bagi memudahkan warga mengambil kredit perumahan.

“Subprime mortgage” ternyata juga menimbulkan fenomena “kredit macet” yg membangkrutkan dua perusahaan besar di negara adidaya tersebut, yg imbasnya bagaikan tsunami yg melanda dunia, dan efeknya masih terasa hingga kini.

Saham, permainan finansial dari para pemilik modal, terkadang memang digambarkan seperti kasino, orang-orang diminta buat menyalurkan uang mereka bagi “berjudi”, agar mereka kemungkinan mampu mampu untung besar pada masa mendatang.

Namun, sesuatu hal yg terlupakan, seperti logam yg memiliki beberapa sisi mata uang, saham juga memiliki beberapa kemungkinan, merupakan mendapatkan untung atau malah mendapatkan buntung yg berupa kerugian yg teramat besar.

Apalagi, pada masa globalisasi seperti ini, saham makin memiliki peluang besar bagi memantapkan dirinya di puncak perekonomian dengan cuma memainkan tuts depan komputer sambil mempertaruhkan uang banyak warga di pasar modal.

“Money Monster” yg berdurasi sekitar 95 menit ini mengingatkan bahwa instrumen finansial seperti saham tak lagi mampu dianggap sebagai permainan biasa karena dampaknya mampu merugikan banyak warga dan dengan jumlah yg signifikan pula.

Secara keseluruhan, film “Money Monster”, meskipun diwarnai sejumlah hiperbol ala Hollywood di sana-sini, tetap bisa menjadi tontonan yg menarik buat disimak dan direnungkan.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose