Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Gali Pelajaran Dari Peristiwa 1965

Gali Pelajaran Dari Peristiwa 1965

SINGAPURA, KOMPAS — Pembicaraan yg belakangan muncul terkait dengan peristiwa 1965 sebenarnya memiliki tujuan akhir yg relatif sama. Tujuan itu adalah mencari penyelesaian bersama sekaligus mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut agar tidak terulang di masa depan.

Namun, kurangnya komunikasi dan penarikan kesimpulan yg berlebihan terhadap kegiatan yg dimaksudkan buat meneguhkan rekonsiliasi membuat polemik bermunculan terkait peristiwa 1965.

“Kini yg dibutuhkan adalah rasa saling percaya. Kita percayakan penyelesaian persoalan ini kepada pemerintah,” kata Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo ketika ditemui wartawan Kompas, M Hernowo, di sela-sela rapat keamanan Shangri-La Dialogue, di Singapura, Sabtu (4/6).

Agus yg adalah anak pahlawan revolusi Sutoyo Siswomiharjo yaitu ketua panitia pengarah Simposium 1965 yg digelar pertengahan April lalu. Oleh karena acara itu dinilai sejumlah kalangan berat sebelah, dulu muncul simposium “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan Ideologi Lain”. Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri menjadi ketua dari simposium yg digelar 1 dan 2 Juni tersebut.

Masalah komunisme kemarin juga sempat ditanyakan kepada Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu. Saat itu, Menhan yg menjadi pembicara dalam sesi Making Defence Policy in Uncertain Policy di Shangri-La Dialogue ditanya oleh perwakilan dari Australia tentang apakah komunisme yaitu isu pertahanan di Indonesia dan menjadi ancaman ideologi di Tanah Air?

Atas pertanyaan itu, Ryamizard menegaskan tetap menghormati ideologi komunis. Namun, Indonesia harus mewaspadai PKI karena partai itu sudah beberapa kali memberontak, merupakan pada 1948 dan 1965.

Agus menuturkan, Indonesia milik ingatan buruk tentang komunisme, PKI, dan bahaya latennya. Pemerintah terus berupaya mencegah munculnya kembali bahaya PKI dan komunisme. Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 menyatakan ajaran komunisme dan PKI dilarang di Indonesia.

Dengan keadaan ini, lanjut Agus, jangan lagi ada pandangan ataupun keinginan buat membangkitkan kembali PKI dan ideologinya di Indonesia.

Namun, Agus mengingatkan, generasi Indonesia yg lahir setelah tahun 1965 banyak yg melihat peristiwa 1965 sebagai akibat dari Orde Baru. Ini karena mereka cuma melihat peristiwa itu dalam rangkaian kejadian yg terjadi setelah 1 Oktober 1965.

***

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Juni 2016, di halaman 2 dengan judul “Gali Pelajaran dari Peristiwa 1965”.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose