Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Ini Strategi Advan Wujudkan Smartphone Idaman

Ini Strategi Advan Wujudkan Smartphone Idaman

Jakarta – Untuk mewujudkan produk smartphone yg dibutuhkan masyarakat Indonesia, produsen lokal Advan berupaya melibatkan pakar telekomunikasi Hasnul Suhaimi dan lembaga riset MARS Research Spesialist.

Disebutkan bahwa komposisi responden penelitian adalah pria dan wanita dengan proporsi masing-masing 50%. Target objek riset kurang lebih sekitar 500 orang, berusia 18-35 tahun dari kelompok target SES A dan B yg tersebar di wilayah Jabodetabek.

Metodologi yg digunakan adalah deskriptif (quantitative) dikerjakan dengan questioner yg terstruktur dan wawancara dikerjakan secara tatap muka (face to face interview).

Riset tersebut berlangsung dari pertengahan bulan Mei 2016 dan diharapkan selesai pada bulan ini. Obyek dan materi riset adalah tentang smartphone seperti apa yg dibutuhkan konsumen Tanah Air.

Brand Director Advan Andy Gusena mengatakan, materi pertanyaan riset terkait prioritas fitur yg banyak dibutuhkan konsumen seperti kualitas kamera, resolusi kamera, ketahanan dan kapasitas mAh baterai, kapasitas memori, hingga kinerja dapur pacu.

Selain itu,materi pertanyaan pendukung lainnya seperti harga, spesifikasi ukuran layar, konektifitas hingga menggali keterangan terkait jangka panjang penggunaan handset dan ketertarikan pada brand lokal.

“Dengan melibatkan MARS Research Spesialist dan pakar telekomunikasi Hasnul Suhaimi, Advan berharap bisa menghadirkan produk yg benar-benar mampu mewakili kebutuhan konsumen Tanah Air. Produk tersebut diharapkan mulai menjadi produk yg digemari karena pembuatannya benar-benar melibatkan keinginan konsumen Indonesia,” ungkap Andy.

Hasil survei independen yg mampu diakses melalui link Advan Survei ini, kata Andy, dilaksanakan buat menjadi panduan dalam mendukung kesuksesan proyek prestisius Advan.

“Survei ini, sekaligus membuka secara umum keterlibatan masyarakat bagi memberi masukan tentang smartphone yg dibutuhkan,” jelasnya.

Sementara itu, Hasnul Suhaimi mengatakan, pihaknya mengapresiasi komitmen Advan dalam proyek tersebut. Melalui survei ini, kata dia, konsumen mampu mengetahui bahwa Advan sebagai brand nasional benar-benar ingin memahami keinginan pelanggannya.

“Ini yg mampu membuat Advan menjadi besar dan beda dengan brand nasional lainnya. Dengan keterlibatan konsumen dalam proses pembuatan produk, Advan telah selangkah lebih maju dibanding dengan brand lainnya,” ungkap Hasnul.

Andy menambahkan, upaya Advan dalam mewujudkan ponsel pintar yg benar-benar dibutuhkan oleh konsumen, selain melakukan riset bersama MARS Reaserch Spesialist, Advan secara independen sudah melakukan riset online tahap pertama sebagai uji mencoba persiapan.

Gambaran singkat sementara dari data yg dikelola dapat disampaikan terdapat 35,34% dari 133 orang mengganti smartphone setelah lebih dari beberapa tahun, dengan alasan mayoritas karena rusak dan bosan.

Selain itu, data yang lain terkait urutan alasan dalam memilih smartphone, responden cenderung memilih fitur dengan persentase 44,03%, harga jual sebanyak 31,34%, dan brand dengan persentase 14,93%.

“Berdasar analisa data kualitatif, sementara ini bisa disimpulkan kualitas smartphone lokal telah baik, namun tak sedikit yg beranggapan masih dapat ditingkatkan baik dari kualitas maupun persepsi agar mampu bersaing dengan merek internasional,” kata Andy.

Menanggapi survei ini, Direktur Marketing Advan Tjandra Lianto mengatakan, proyek prestisius yg melibatkan keinginan konsumen Tanah Air mulai menjadi komitmen Advan.

“Sebagai brand nasional, kalian harus mengetahui karakteristik dan kebutuhan konsumen Indonesia. Mereka tak dapat dipaksakan bagi menelan seluruh spesifikasi smartphone,” ujar Tjandra.

Untuk itu, imbuh Tjandra, pihaknya berharap dengan melibatkan MARS Research Spesialist dan pakar telekomunikasi dalam riset tersebut, benar-benar menghasilkan produk yg pas dan dibutuhkan konsumen.

“Tidak segala spesifikasi tinggi, harga mahal laku di pasaran atau spesifikasi tinggi, harga murah belum tentu juga laku. Begitu juga sebaliknya, spesifikasi rendah, harga rendah, tak menjamin produk tersebut laku,” pungkas Tjandra. [ikh] Sumber: http://teknologi.inilah.com

Komentar Anda

You might also likeclose