Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Bertualang Bersama “Finding Dory”

Bertualang Bersama Finding Dory

Jakarta (ANTARA News) – Setahun setelah bertualang menjelajahi samudra bersama ikan badut Marlin bagi menemukan putra semata wayangnya, Nemo, yg dibawa oleh penyelam dan berakhir di akuarium klinik dokter gigi di Sydney, Dory si ikan Blue Tang mendadak teringat pada asal-usulnya. 
Sedikit demi sedikit, kepingan-kepingan masa dahulu muncul di kepala Dory. Ikan ceria dan optimistis yg hilang ingatan jangka pendek itu baru sadar bahwa ia milik keluarga yg hilang sejak lama.

Dalam film “Finding Nemo” (2003), ikan yg perhatiannya gampang terdistraksi itu berperan utama dalam menolong Marlin menemukan Nemo berkat kenekatannya di laut lepas.

“Just Keep Swimming” alias “Teruslah Berenang” menjadi motto hidup Dory yg membuat dia dan Marlin mampu melewati geng hiu vegetarian, ikan sungut ganda (anglerfish) ganas di laut dalam, sekumpulan ubur-ubur penuh sengat, hingga keluar dari tubuh paus.
Sementara “Finding Dory” mengeksplorasi masa dulu Dory serta kisah di balik bakat unik yg dimilikinya, misalnya kemampuan berkomunikasi dengan paus.
Andrew Stanton (“Finding Nemo”, “Wall E”) kembali bagi menyutradarai “Finding Dory”.

“Saya sendiri terus memiliki banyak ide mengenai cerita tentang masa dahulu Dory, dan dari situ kalian menetapkan telah waktunya bagi mengeksplorasi hal itu,” kata dia.

Petualangan baru
Sama seperti pendahulunya, “Finding Dory” dibuka dengan perpisahan mengiris hati. Akibat sifatnya yg pelupa, Dory tidak sengaja melanggar larangan sang ayah sehingga ia terbawa arus ke antah berantah. 
Dory kecil yg pantang menyerah berenang melewati berbagai kumpulan spesies ikan sembari tidak henti menanyakan keberadaan orangtuanya. Hasilnya nihil. Ingatan ikan betina itu tentang keluarganya semakin terkikis seiring berjalannya waktu. 
Dory yg sudah tumbuh dewasa berkeliaran sendirian. Hingga ia bertemu dengan Marlin, ikan badut yg sedang mencari putranya Nemo.
Setahun setelah petualangan bersama Marlin dan Nemo, ketiganya hidup bertetangga di Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef), terumbu karang terbesar di dunia. 
Ketika ingatan tentang orangtuanya muncul tiba-tiba, secara impulsif Dory menetapkan buat mencari ayah dan ibunya meskipun tidak tahu harus kemana.

Marlin dan Nemo ikut menemani karena tidak mampu membiarkan ikan pelupa nan teledor itu berkelana sendirian di laut lepas.

Saat napak tilas, Dory menemukan petunjuk-petunjuk yg membawanya ke Institusi Biota Laut (Marine Life Institute), pusat rehabilitasi ikan dan akuarium di California.
Dengan bantuan dari kawan-kawan baru, Hank si gurita galak berkaki tujuh, Bailey si paus beluga yg tak percaya terhadap kemampuan pendengaran sonarnya, Destiny si hiu paus yg rabun dekat, juga beberapa singa laut jenaka yg berteman dengan burung nyentrik.
Versi sulih suara bahasa Indonesia
Disney juga menghadirkan versi film dengan sulih suara bahasa Indonesia bagi film yg diterjemahkan menjadi “Mencari Dory” agar mampu dinikmati penonton dari semua usia. 
“Mencari Dory” bukan sekadar versi terjemah dari “Finding Dory”. Disney mengadaptasi dua bagian bagi menonjolkan unsur Indonesia.

Bahasa Inggris slang yg dipakai kawanan penyu berubah jadi logat Madura yg medok. Maria Oentoe, yg suaranya terus terdengar dalam pengumuman di bioskop Cinema 21, juga berpartisipasi dalam “Mencari Dory”.

Selain menggaet para pengisi suara profesional, Disney mengajak Raffi Ahmad dan Syahrini buat menghidupkan karakter pendukung Bailey dan Destiny.
Fitra Rifai, Head of Studios Marketing, The Walt Disney Company Indonesia, memilih beberapa selebriti terkemuka itu karena dianggap sesuai dengan karakter tokoh paus beluga dan hiu paus.
“Destiny milik sisi unik paling tinggi dalam film ini dan itu ada di sosok Syahrini,” tutur Fitra.

Ia menambahkan kepribadian Bailey yg menyenangkan juga kelihatan dalam diri Raffi Ahmad.

Meski tak mendapat latihan profesional, usaha Syahrini patut diacungi jempol. Ia berhasil memberi sentuhan kenes dan manja lewat suara seraknya. Desahan yg jadi ciri khas Syahrini tak terdengar berlebihan, justru tidak mengurangi kekocakan Destiny.
Bagi Raffi, mengisi suara bagi film animasi lebih menantang ketimbang berakting di depan layar. Selain harus menyesuaikan intonasi dan emosi dari suara asli, seluruh harus persis dengan gerak bibir karakter.
“Pas jadi dubber, harus ngepas-pasin banget. Kalau enggak sabar mampu frustrasi,” tutur Raffi.

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose