Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Luhut: Kunci Pembangunan Papua Bukan Marah-marah Dan Curiga

Luhut: Kunci Pembangunan Papua Bukan Marah marah Dan Curiga

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan dalam pertemuannya dengan dua elemen masyarakat di Papua, Kamis (16/6/2016), mengimbau masyarakat buat terlibat dalam pembangunan Provinsi Papua secara holistik.

Menurut Luhut, pembangunan secara menyeluruh ini tak mulai mampu dirasakan hasilnya secara maksimal dalam sesuatu atau beberapa tahun.

“Dampak maksimal dari pendekatan pembangunan secara menyeluruh ini mungkin baru mampu dirasakan dalam 15 atau 20 tahun yg mulai datang,” ujar Luhut seperti dikutip dari informasi pers kepada Kompas.com, Jumat (17/6/2016).

Dalam rapat tersebut, Luhut mendengarkan aspirasi maupun protes tentang masalah-masalah kemasyarakatan dan administrasi pemerintahan. Dia juga menerima dua dokumen dari para peserta rapat yg berisi data penyimpangan yg terjadi di Papua.

(Baca: Pemerintah Siapkan Strategi Pembangunan di 7 Wilayah Adat Papua)

Luhut menyampaikan mulai menindaklanjuti segala permasalahan tersebut asalkan disertai data yg valid.

“Kalau Anda mengeluhkan penyimpangan-penyimpangan harus disertai data,” kata Luhut di depan Pimpinan dan Pemuda Adat Papua dan Barisan Merah Putih di Jayapura.

Ia pun meminta masyarakat buat menghilangkan rasa saling curiga agar segala mampu maju bersama.

“Kalau curiga terus, ribut terus, repot. Kalau kami mau maju, kuncinya meningkatkan kualitas pendidikan, bukan marah-marah. Semua harus terlibat,” icap Luhut.

(Baca: Jokowi: Pembangunan Papua Perlu Dipercepat)

Pemerintah, lanjut dia, mulai membangun universitas dan sekolah, mendorong munculnya UKM, dan memberi kesempatan kepada penduduk asli Papua bagi berperan lebih luas untuk pembangunan di daerahnya.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasiona (PPN)/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, yg ikut dalam rapat itu, menyampaikan ada dua hal yg harus diubah atau disesuaikan dalam perencanaan pembangunan di Provinsi Papua, antara yang lain mengenai doktrin pembangunan.

“Kita harus mengubah doktrin dari Indonesia-sentris menjadi Papua-sentris, merupakan pembangunan dari pinggiran dan membangun daerah tertinggal. Kita milik anggaran. Intinya praktik-praktik yg kurang tepat mulai diperbaiki,” kata Sofyan.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose