Wednesday , June 28 2017
Topik Terhangat

Panama Papers Yang Tak Pernah Mengguncang Indonesia

Panama Papers Yang Tak Pernah Mengguncang Indonesia

JAKARTA, Jurnalwarga.com – Awal April lalu, dunia dikejutkan dengan skandal Panama Papers. Skandal ini mengungkap dokumen rahasia yg memuat daftar klien kelas kakap yg menginginkan uang mereka tersembunyi dari endusan pajak di negaranya.

Dokumen rahasia itu kini menjadi konsumsi publik setelah bocor dari pusat data firma hukum Mossack Fonesca, di Panama. Di dalam 11 juta halaman dokumen itu, terdapat nama-nama politisi, bintang olahraga, dan selebriti yg menyimpan uang di berbagai perusahaan “cangkang” di luar negeri demi menghindari pajak.

Di sejumlah negara, munculnya Dokumen Panama Papers menjadi sorotan tersendiri. Tak sedikit pejabat yg tersangkut Panama Papers mengundurkan diri. Sebut saja Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson, Menteri Perindustrian Spanyol Jose Manuel Soria, hingga Pejabat senior organisasi sepak bola dunia FIFA, Juan Pedro Damiani.

Panama Papers Yang Tak Pernah Mengguncang IndonesiaKristian Erdianto Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan ketika memberikan informasi kepada wartawan di kantor Kemenko Polhukam, Rabu (18/5/2016).

Di Indonesia, munculnya Dokumen Panama Papers juga sempat menjadi pemberitaan luas. Apalagi setelah nama Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Harry Azhar Aziz dan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan terseret dalam dokumen itu.

Namun lama kelamaan isu Panama Papers pudar ditelan waktu. Tertutup isu-isu lain. Tidak ada sikap yg jelas dari pemerintah menyikapi skandal global ini.

Harry Azhar Aziz dan Luhut Pandjaitan sampai ketika ini masih duduk di kursi pejabat negara seakan tak terjadi apa-apa. Direktur Eksekutif Katadata Metta Dharmasaputra menyesalkan hilangnya perhatian publik atas isu Panama Papers ini.

Panama Papers yg mengguncang dunia betul-betul tak mengguncang Indonesia. Di negara-negara yang lain saat pejabat publik terseret Panama Papers itu efeknya luar biasa, sampai pejabatnya mundur. Di kalian ternyata tak ada efek itu sama sekali,” kata Metta dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Apa Kabar Panama Papers di Jakarta, Jumat (17/6/2016).

Metta menyadari Ketua BPK dan Menkopolhukam telah memberikan klarifikasi ke publik terkait nama mereka yg tercatat di Panama Papers. Luhut Binsar Pandjaitan membantah sudah memiliki perusahaan di luar negeri seperti Mayfair International ltd yg disebutkan dalam daftar Panama Papers.

Luhut pun mengaku selama ini adalah pembayar pajak yg taat. Adapun Harry Azhar mengaku bahwa perusahaan Sheng Yue International Limited yg disebut di Panama Papers dibuat atas permintaan anaknya.

Panama Papers Yang Tak Pernah Mengguncang IndonesiaHarian Kompas Panama Papers

Harry membantah bahwa pembuatan perusahaan itu disebut bagi menghindari pajak di dalam negeri. Menurut dia, tak ada transaksi apapun selama dirinya memimpin perusahaan itu.

Saat ini, kata dia, perusahaan itu telah bukan miliknya lagi. Namun Metta menilai klarifikasi yg diberikan Luhut dan Harry itu tak cukup.

“Karena mereka ini pejabat negara, enggak cukup. Harusnya mereka mampu bagi informasi resmi negara. Misalnya Harry Azhar dapat mengklarifikasi segera kepada Komite Etik BPK. Setelah itu baru diputuskan bersalah atau tidak,” ucap Metta.

Metta juga menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yg tak tanggap atas munculnya isu ini. Harusnya, kata dia, Presiden Jokowi mampu membuat semacam instruksi yg mengharuskan segala pejabat negara, baik di pusat dan daerah bagi melapor apabila memiliki aset yg disimpan di luar negeri.

“Saya belum lihat ada sikap aktif dari lembaga kepresidenan bagi meminta pelaporan soal ini. Yang baru ketahuan hanya dua, tetapi aku tak tau apakah banyak pejabat yang lain juga yg memiliki akun di tax heven country,” kata dia.

Panama Papers Yang Tak Pernah Mengguncang IndonesiaKOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA Wakil Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Agus Santoso di Kantor PPATK, Jakarta, Senin (28/12/2015)

Sementara, Komisoner Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengaku pihaknya masih selalu menyelidiki nama-nama WNI yg menyimpan dananya di negara-negara surga pajak, termasuk yg tercatat dalam Dokumen Panama Papers.

Hanya, dia mengakui, hal ini tak gampang dilakukan. Sebab, penyimpanan harta di luar negeri biasanya melibatkan banyak perusahaan sehingga agak sulit ditelusuri.

“Misalnya ini ada perusahaan, selalu diatasnya ada perusahaan lagi. Diatasnya ada lagi sehingga kalian tak taju ini pemilik awalnya siapa,” ujar dia.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose