Sunday , September 24 2017
Topik Terhangat

Bincang-bincang Wregas Bhanuteja

Bincang bincang Wregas Bhanuteja

Jakarta (ANTARA News) – Nama Wregas Bhanuteja melambung berkat karya  film pendeknya Prenjak”/”In The Year of Monkey” (2016) yg memenangi Penghargaan Leica Cine Discovery dalam Festival Cannes 2016 di Prancis.
Setelah memakai musik latar instrumen tunggal piano dengan menggandeng Gardika Gigih dalam film pendek terdahulunya yg juga yaitu Tugas Akhir , “Lemantun” (2014), dalam “Prenjak” Wregas memberikan kepercayaan kepada Ragil Gregorius bagi menjadi penata musik yg menitikberatkan pada instrumen alat musik dawai gesek.
Baik Gigih maupun Ragil adalah pekerja kreatif yg masih berada dalam lingkaran pertemanan Wregas di kota ia tumbuh besar, Yogyakarta.
Berikut petikan bincang-bincang dengan sutradara yg sejauh ini sudah menelurkan lima film pendek dan kerap terlibat dalam tim penggarap film arahan sutradara Riri Riza itu seputar musik latar film dan kepuasan berkarya:
Sepenting apa sebetulnya peran musik latar dalam sebuah film?
Ada semacam feel atau perasaan yg gak mampu tersampaikan dari film ke penonton seandainya itu cuma sekadar visual dan kata-kata. Jadi, gak mampu segala perasaan itu tersampaikan.
Misalnya gini, gua melihat Pakde di film Lemantun itu sebagai Pakde gua, tetapi kan gua ada subjektivitas saat melihat Pakde gua. Gua melihat Pakde gua itu semacam merasa kasihan dengan harus menjaga ibu di rumah. Itu kan pendapat subyektif saya.
Ketika aku hanya menampilkan di film secara gamblang dia seperti itu, penonton memiliki persepsi yg lain, “woh gak kasian kok pakde ini, gak seperti yg pakde rasakan, saya biasa saja memandang pakde ini,” demikian.
Nah, sesuatu hal yg dapat menolong mengarahkan penonton buat mampu sepandangan dengan aku adalah musik. Musik itu dapat mewakili apa yg aku rasakan, apa yg aku pandang terhadap Pakde saya.
Menurut aku Mas Gigih, sebagai kakak kelas aku sewaktu SMA, itu mampu menangkap apa yg aku rasakan. Dia milik pendapat yg sama saat memandang Pakdenya. Jadi saat dia membuat musik, dia perdengarkan pertama kali itu aku gak perlu revisi lagi. Saya tinggal, “oke mas wis, wis apik”. Tidak perlu ada revisi, ini telah mewakili apa yg aku rasakan di hati aku saat melihat Pakde.
Kalau buat musik di Prenjak sendiri?
Ragil namanya. Prenjak ini membutuhkan satu yg lebih keras. Kehidupannya tak seromantis di Lemantun. Ini lebih keras, orang yg kepepet ekonominya. Dan menurut saya, musisi yg paling tepat buat mengilustrasikan ini adalah Ragil, yg itu teman seangkatan aku juga sewaktu SMA.
Karena dia orangnya cukup keras. Dia milik karakteristik yg keras. Dia banyak mengalami penderitaan, paham apa artinya penderitaan. Jadi musik yg dia buatpun sedikit lebih menyayat dan tak romantis.
Kalau Mas Gigih itu cenderung lebih yg happy, bahagia, cerah. Ibaratnya musik Mas Gigih itu terang. Ini tidak, Ragil lebih minor dan yg gelap. Saya membutuhkan semacam itu di Prenjak dan dia dapat menerjemahkannya dengan baik banget.
Dari beberapa penata musik ini masuk lingkaran pertemanan Yogyakarta, kemudian termasuk juga dalam kerja-kerja film terdahulu kru dan aktornya dari lingkaran pertemanan Yogyakarta, siapkah masuk ke dunia perfilman yg lebih profesional tanpa embel-embel kedekatan seperti itu?
Kebetulan aku terjun di industri film sejak tahun 2013 dan itu di Jakarta. Prinsipnya aku mampu bekerja sama dengan orang-orang profesional.
Saya mampu melakukan itu, tapi ada hal yg tak mampu didapatkan secara lebih dibandingkan seandainya bekerja sama dengan teman-teman Jogja. Ada privilege-privilege tertentu yg teman-teman Jogja berikan kepada aku yg membuat karyanya mulai menjadi lebih spesial, mulai menjadi lebih kuat. Tetapi secara standard kerja aku mampu kerja dengan siapapun, tapi seandainya dengan Jogja ibaratnya feel atau taste-nya aku lebih masuk karena semuanya sesuatu taste, sesuatu visi.
Sama ibaratnya kalau kamu nge-band, kamu dipanggil nge-band di kafe ini bersama gitarisnya si A, B, drummernya si C yg tak kamu kenal. Nge-ban ya udah tinggal baca not atau main sesuai irama, jadi. Tetapi kamu tak merasakan feel-nya. Berbeda kalau kamu nge-band main jazz sama teman-teman yg telah kamu kenal sedari kecil, eksplorasi bagaimanapun juga enak banget, mantap banget, seperti itulah rasanya.
Ismail Basbeth (sutradara “Talak 3”, “Mencari Hilal” dan “Surga Yang Tak Dirindukan”) pernah mengutip Hanung Bramantyo (sutradara “Jomblo”, “Get Married” dan “?”) bahwa sutradara berkualitas telah waktunya berhenti berkarya cuma demi kepuasan sendiri, dengan begitu masyarakat milik pilihan film bagus di bioskop, menurut kamu bagaimana?
Prinsip gua gini, kalau secara pribadi gua mampu puas dan penonton mampu puas, kenapa gak begitu aja? Karena begini, seniman merasa puas terhadap filmnya saat pendapat yg ada di dalam hatinya tuntas tersampaikan, betul kata Mas Ismail Basbeth tadi. Nah, saat pendapat yg ada di hati gua itu ternyata kebetulan cocok dengan selera penonton, ya berarti gua puas, mereka puas. Begitu.
Seperti Lemantun. Lemantun adalah contoh yg paling kuat yg mampu aku ambil. Saya sebagai filmmaker puas sekali dengan film itu. Saya merasa penuh, merasa utuh dengan film itu. Tetapi penonton yg menyaksikan juga mampu ikut menangis, terharu, dan setelah pemutaran ada yg mendatangi aku dan bilang “saya terharu, aku ingin keluar dari rumah”. Nah berarti aku berhasil di sini. Itu yg aku jaga.
Kebetulan apa yg menurut aku puas, apa yg memuaskan saya, mampu juga diterima oleh masyarakat.
Karena sebetulnya aku bukan tipikal sutradara yg mencapai kepuasan pribadinya dengan membuat film yg surealis atau satu yg non-naratif atau bagaimana. Kebetulan apa yg aku bikin ternyata juga pas di hati penonton. Jadi kenapa saya harus mengorbankan kepuasanku.
Jadi tetap memperhatikan kepuasan pribadi?
Tetap saja.
Di segala filmmu terus mencatumkan ucapan terima kasih kepada Riri Riza, tentunya selain terlibat dalam “Ada Apa Dengan Cinta 2” (2016) ada pelajaran apa saja yg didapat dari Riri Riza?
Gua terus menganggap dia itu guru.
Gua pertama kali magang di layar lebar itu juga di “Sokola Rimba” (2013) bareng Mas Riri sebagai Astrada (Asisten Sutradara) 3 waktu itu. Terus habis itu proyek-proyek film MiLes berikutnya gua terlibat termasuk “AADC 2” ini. Gua tumbuh besar dengan film-film dia. Gua nonton seluruh film-film dia, akan dari “Gie” (2005), “3 Hari Untuk Selamanya” (2007), “Petualangan Sherina” (2000), gitu-gitu ya.
Dan gua terus menganggap dia guru, termasuk di tempat syuting pun saat seorang pemain berakting dan Mas Riri men-direct-nya bahwa lirikan mata itu sangat berarti. Misalkan saat dialog gini nih, selalu mata lo ngelirik sedikit saja itu telah memberikan arti yg berbeda. Itu utama banget fokus mata harus dijaga. Bagaimana shot itu harus ditata, di-copas dari mana itu seluruh gua belajar banyak dari dia.
Tinggal bagaimana gua meng-combine itu seluruh dengan jati diri gua. Mas Riri banyak bikin film tentang Indonesia yg itu di luar pulau, di Sumba mungkin atau di Atambua gitu ya. Nah gua meng-combine itu dengan apa jati diri gua, merupakan Jawa. Gua meng-combine itu dengan apa yg gua tahu.
Selain Riri siapa sineas idola dan panutan?
Ada, dua-duanya telah almarhum. Yang sesuatu almarhum Asrul Sani, yg sesuatu almarhum Teguh Karya.
Dari tiga sineas itu, film-film favorit karya mereka apa?
Asrul Sani judulnya “Apa jang Kau Tjari, Palupi?” (1969). Dari Pak Teguh Karya, “Secangkir Kopi Pahit” (1985). Mas Riri, “Eliana Eliana” (2002).

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose