Sunday , September 24 2017
Topik Terhangat

Air Mata Di Sekitar Kematian Sukarno

Air Mata Di Sekitar Kematian Sukarno

Oleh: Ren Muhammad

TITENANA, bocah iki dadhi kembange jagat! Ingat-ingatlah, anak ini mulai jadi bunga dunia,” ucap Raden Mas Panji Sumohatmojo sambil mengusap kepala seorang bocah ganteng yg sedang melahap singkong bakar kesukaannya. 

Bocah tangkas pemberani itu, bermata candramawa. Sebutan khas orang Jawa bagi kucing belang telon (berwarna tiga di bagian tubuhnya), yg diyakini memiliki kemampuan supranatural.

RMP Sumohatmojo adalah ayah Raden Mas Sumosuwoyo yg kelak jadi orangtua angkat bocah candramawa. Kakek sakti mandraguna Sumohatmojo, sejatinya bertalian darah dengan si bocah sampai pada Ki Ageng Pamanahan.

Sumohatmojo melalui Panembahan Senopati, raja Mataram pertama. Sedang bocah candramawa, bertalian darah dengan Pangeran Harya Mangkubumi.

Empat dekade sejak meeting sederhana itu, nubuat Sumohatmojo memang terbukti. Bocah candramawa berubah jadi sosok fenomenal yg dikagumi dunia, sebagai Sukarno.

Ia menjelma jadi pujaan jutaan manusia. Suaranya menggelegar-menohok kolonialisme dan kapitalisme. Kepercayaan dirinya membuncah ke seantero Asia-Afrika. Soviet dan Tiongkok menaruh harapan besar padanya.

Singa podium

Wajah dunia seketika berubah. Sukarno tampil di barisan terdepan menantang Amerika. Menampar wajah Paman Sam dengan Pancasila yg ia sampaikan dalam Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa ke XV, pada Jumat, 30 September 1960.

Di hadapan para pembesar negara-bangsa yg hadir di gedung PBB itu, Sukarno mengatakan pidato sepanjang 47 halaman, berjudul “To Build the World Anew: Membangun Tatanan Dunia Baru”. Pidato itu sarat tenaga perlawanan.

Pidato itu seolah mewakili suara jutaan manusia tertindas dari negerinya, bangsa Asia, dan juga Afrika. Pidato yg tidak berteletele dan segera menusuk jantung peradaban manusia pada paragraf keempatnya.

Mata para hadirin yg sebagian besar adalah presiden dari negara Eropa dan tentu Amerika, sontak kena colok oleh kobaran semangat yg ia gelorakan.

Saat itu, bahkan hingga kini, belum pernah ada lagi singa podium yg sanggup memaksa para penentu dunia mendengar suaranya yg menggelegar, dan meminta mereka melaksanakan manifesto yg ia bacakan. Ia seolah mengejewantah jadi pemimpin tunggal dunia.

Sukarno ditunjuk Allah buat mengajari insan abad ini, arti utama sebuah kebangsaan yg tidak melulu Indonesia, tetapi bangsa manusia. Ia seolah menjelma “nabi” zaman baru.

Di bahunya dititipkan masa depan banyak manusia. Hanya padanya seorang. Dalam rangkaian hidupnya tersemat kebesaran dan kemuliaan. Harumnya menyebar ke seantero penjuru angin–bahkan hingga hari ini.

Mengenang Sukarno, aku teringat pada seorang kakek renta yg mendekam di bawah kolong salah sesuatu jembatan di Jakarta. Kakek itu lupa namanya sendiri. Terpinggirkan. Terbuang dari peradaban.

Ya… pada derajat tertentu, manusia mampu begitu agung lagi mulia. Sedang pada derajat yg lain, ia mampu ternista, terhina, dan terhapus dari sejarah.

Air mata darah

Jumat hari ke sembilanbelas pada Juni 1970, hampir kelabu. Langit Jakarta adalah saksinya. Itulah pemungkas kejatuhan seorang lelaki paling perkasa di Negeri Khatulistiwa pada Abad-20–dari tampuk kepemimpinan yg diembannya selama 22 tahun.

Sukarno terbaring lemas tidak berdaya. Sorot matanya pernah menembus jauh ke relung terdalam jutaan manusia yg ia bela. Kepalan tangannya sudah memukul keras bangsa rambut jagung dan kulit kuning, hingga mereka lari dari sejarah penjajahan.

Bila sedang berbicara di hadapan lautan manusia yg riuh rendah, suaranya menggelegar membelah angkasa, membungkam mulut para pendengarnya.

Air Mata Di Sekitar Kematian SukarnoKOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sejumlah anak-anak bermain dan mengamati detil patung baru Proklamator Ir Soekarno yg dipasang di situs Penjara Banceuy, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/5/2015).

Pada hari yg murung itu, ketampanan Sukarno lindap entah ke mana. Di wajah yg lalu kian memesona–terutama untuk kaum Hawa, kelihatan berlubang di sana-sini. Tanda racun menjalar di sekujur tubuhnya yg pernah begitu bertenaga.

Lelaki itu terbaring-terpejam. Kulit bibirnya mengelupas, parah. Ia bahkan tidak lagi sanggup berkata-kata.

Seorang lelaki berkacata mata tebal, sebaya dengannya, tiba menyambang. Ia Hatta. Karib lama. Pasangan Dwitunggalnya. Seketika mata Sukarno terbuka meskipun cuma nampak celahnya saja.

“Hatta…, kau di sini rupanya.”

Mendengar ucapan lirih-perih itu, wajah Hatta pias. Anak-anak sungai di matanya akan bermunculan.

“Ya, bagaimana kabarmu, No?” Jawabnya singkat dengan lidah tercekat.

Hoe at het met jou: Bagaimana keadaanmu?” Suara Sukarno nyaris tidak terdengar.

Pertanyaan dalam bahasa Belanda itu sontak menyeret Hatta pada nostalgia mereka semasa muda. Sejak jumpa kali pertama di Bandung yg bergelora.

Sejurus kemudian, Sukarno terisak. Bendungan airmata Hatta pun meledak. Itu adalah tangisan Sukarno yg keempat sejak ia ditahbis jadi Pemimpin Besar Revolusi.

Tangis pertamanya tumpah buat Pancasila. Kedua, ketika harus menandatangani surat hukuman mati Kartosuwiryo, sahabatnya sewaktu diasuh Cokroaminoto.

Ketiga, kala menyaksikan pusara jenderal yg ia sayangi, Achmad Yani–selepas dikembalikan ke haribaan bumi.

Sambil berderaian airmata, Hatta menggenggam tangan Sukarno yg ia cintai sehidup-semati. Dada mereka sesak. Bagai tertindih batu sebesar gunung.

Pengorbanan mereka yg sedemikian besar demi membebaskan bangsanya dari kungkungan angkara, cuma berbalas fitnah bertubi-tubi, caci maki tidak terperi.

Hatta tidak sanggup melihat airmata sahabatnya tumpah-ruah. Bahu mereka sama terguncang menahan sekian banyak kenangan. Ia pun berpamitan dengan segenap kemesraan.

Dua hari kemudian, Sukarno menuntaskan hidupnya yg begitu mengesankan jutaan insan. Seakan ia baru mau pulang, persis seperti lalu ia menunggu Hatta yg terkasih, sebelum membacakan Proklamasi.

Air mata cinta

Gunung Kelud pernah menandatangani kelahiran seorang manusia Indonesia pada Juni 1901. Di bulan yg sama, 92 juta rakyat Indonesia menandai kepulangannya dengan deraian airmata yg mencurah bak hujan menghapus kemarau.

Ahad yg bertitimangsa 21 Juni 1970 itu, adalah ketika paling berduka buat segenap anak bangsa Indonesia. Berita pedih itu menyebar bersama tiupan angin.

Putra Sang Fajar sudah berpulang ke haribaan Allah, juga ketika matahari menyingsing. Ia sungguh benar anak matahari dari timur.

Nun jauh di tepian Kota Kembang, seorang perempuan usia delapanpuluh dua, bangkit tergopoh menuju pusat Ibukota. Jasa besarnya mengantar sang suami ke pintu gerbang kemerdekaan, sanggup membelah rakyat yg berjubelan di kitaran Wisma Yaso.

Para petugas kepresidenan mengantar mantan Ibunegara ini menuju jenazah yg begitu ia rindukan sejak lama sebelum berpisah di Istana Merdeka. Sambil terisak pilu ia berkata, lirih.

“Ngkus, geuning Ngkus tehmiheulan, ku Inggit didoakeun: Ngkus… Kiranya Ngkus mendahului, Inggit doakan.”

Istri ketiga Sang Proklamator, Fatmawati, memilih sebaliknya. Ia keukeuh tidak memberi penghormatan terakhir kendati kelima anaknya selalu merayu.

Sampai detik terakhir wajah sarat pesona yg sudah terbaring itu ditutup, datanglah karangan bunga nan Indah dari Jalan Sriwijaya yg bertuliskan sebuah puisi. Pendek saja:

“Cintamu yg menjiwai hati rakyat… Cinta Fat.”

Sehari sebelumnya, seorang perempuan jelita paruh baya menyempatkan diri terbang dari Jepang bersama putrinya yg masih berumur empat tahun demi menemani hari-hari terakhir lelakinya–yang pernah begitu perkasa menantang dunia.

Gairah perlawanan sang suami sungguh sudah tertular padanya. Dua bulan sebelum itu, pada 16 April 1970, perempuan berdarah Jepang ini dengan gagah berani menuding jarinya ke Suharto dalam sebuah surat terbuka.

“… Dibanding dengan Bung Karno, maka ternyata dibalik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yg kejam…”

Air mata rakyat

Sehari kemudian, jenazah Sang Proklamator pun diterbangkan. Sepanjang jalan, rakyat mengular. Menyambut dengan tatapan pilu. Mata sembap berkalang debu.

Setiba di Malang hingga beberapa jam perjalanan menuju Blitar, sama belaka pemandangannya. Ratusan ribu orang berjejal mematung di sepanjang jalan. Seia sekata tentang berita duka.

Mereka menatap masygul pada iringan mobil yg mengantar pemimpin tercinta menuju peraduannya di pusara terakhir. Anakanak berlarian mengiringkan.

Air Mata Di Sekitar Kematian SukarnoKOMPAS/IWAN SETIYAWAN Warga berfoto dengan latar Bung Karno di hari bebas kendaraan di jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2015).

Para gadis remaja menjerit bertangisan. Kaum ibu bersimbah nestapa. Para bapak terenyuh. Pilu. Terluka, lebih parah tinimbang putus cinta berulangkali.

Hingga malam tiba, bahkan berhari lamanya, pusara salah seorang putra terbaik yg pernah lahir di negeri ini, tiada pernah sepi. Rakyat masih berjubelan menyerahkan airmatanya secara sukarela.

Beberapa di antaranya membawa pulang kembang yg bertaburan. Beberapa yg lain, mengantongi tanah pemakamannya–bahkan tidak sedikit yg membalurkan tanah itu pada wajah mereka.

Semua melakukannya sebagai tanda cinta. Meski ke tanah jua tempat kembali, untuk mereka, Sukarno tetap di hati. Bagaimana dengan kita?

Sebagai generasi pelanjut, kalian milik utang teramat besar pada Sukarno. Saya belum mampu berbuat banyak guna membalas jasa besarnya. Namun aku selalu memperbaiki diri.

Setiap sempat. Kapan dan di mana saja. Saat tulisan ini disusun, aku menemukan wasiat terakhir Sukarno pada Guntur, putra sulungnya. Wasiat yg kemudian melecut lagi semangat aku yg sempat meredup. Begini isi wasiat yg sarat makna itu:

“Tok, engkau adalah anak sulung Putra Sang Fajar. Sebab, bapakmu dilahirkan pada waktu fajar menyingsing. Fajar 6 Juni yg sedang mereka di ujung timur. Dan engkau lahir pada tahun keberanian, juga menjelang fajar 3 November ketika mana hegemoni kekuasaan Jepang semakin suram sinarnya. Nah, seperti halnya bapakmu, engkau pun pantas menyambut terbitnya matahari. Jadilah manusia yg pantas menyambut matahari terbit. Ingat, yg pantas menyambut terbitnya matahari itu cuma manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia yg manfaat. Karena itu jangan cengeng! Buktikan kepada setiap orang yg menatapmu, bahwa engkau memang pantas menjadi anak sulung Sukarno.” 

Omah Prabata, 13 Ramadhan 1437 H 

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose