Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Bentrok Bir Dan Vodka Di Negeri Wine

Jakarta – Euro 2016 Prancis. Tuan rumah dengan keramahannya yg dikenal elok itu menyuguhkan wine. Inggris dengan gaya mabuk dan mentang-mentang, tiba dengan bir kalengan di tangan. Tapi Inggris yg merasa menjadi penguasa, termasuk dalam urusan sepak bola, tidak lihat-lihat situasi. Mereka salah senggol dengan menyentil Russia yg terbiasa minum vodka.

Bisa saja gambaran di atas cocok bagi mengurai musabab bentrokan di Marseille lalu. Bentrokan yg dikarenakan gesekan budaya.

Sepintas, bentrokan itu kelihatan mengatasnamakan sepakbola dan negara. Karena terjadi sebelum dan ketika pertandingan. Paling-paling penyulutnya juga sama saja dengan di Indonesia, saling ejek dan ajakan membunuh melalui chant macam, “Bantai!” atau “Dibunuh saja!”.

Tapi mulai terasa naif juga kalau menyampaikan demikian. Sebab katanya sepakbola itu mempersatukan negara-negara. Dalam sebuah pertandingan yg saling jegal dan mengalahkan saja masih diberi tajuk “laga persahabatan”, apalagi event seperti Euro 2016. Sepakbola diposisikan sebagai alat pemersatu. Sedikit berdosa dengan sepakbola malah seandainya kami menuduh adu banyak bola masuk gawang ini sebagai biang keroknya.

Jika hendak ditakar lebih dalam, bisa dibilang kalau bentrokan itu adalah karena gesekan budaya. Sepakbola memang sedang apes saja — atau malah telah biasa karena seringnya –, diwarnai bentrokan antarsuporter. Dan, sebagai pengiris dan pengurai yg cukup mendekati dari gesekan budaya itu adalah: budaya minum.

Tapi bukan berarti bentrokan di luar dan berlanjut di dalam stadion ini dikarenakan minuman keras (miras). Di regulasi stadion penyelenggaraan Euro juga jelas disebutkan kalau miras dilarang beredar di area stadion, apalagi masuk. Alkohol dicekal.

Kalau menganggapnya karena efek alkohol, malah seperti cekaknya nalar para perancang undang-undang Larangan Minuman Beralkohol 2015 lalu. Dalam salah sesuatu pasalnya disebutkan bahwa pelarangan dan pembatasan miras itu “…menciptakan ketertiban dan ketentraman di masyarakat dari gangguan yg ditimbulkan oleh peminum minuman beralkohol”.

Gagal paham, gagal pasal. Karena perancang undang-undang Dewan Perwakilan Rakyat kami itu tak dapat membedakan antara peminum dan pemabuk. Mungkin, dengan bentrokan suporter Inggris lawan suporter Rusia di Prancis ini dapat sedikit memanjangkan pola pikir mereka. Agar tidak terbatas dalam lingkar otak yg makin menyempit karena cekokan agama itu.

Belajar dari bentrokan itu, maka mampu dikatakan bahwa Inggris adalah pemabuk dan Rusia adalah peminum.

Urusan budaya minum, Inggris sebenarnya lebih dikenal dengan minuman nonalkohol: budaya minum teh bagi menjamu tamu, santai, nyore, atau teman dalam bergelut dengan tumpukan buku dan literasi. Sting bahkan mengabadikan budaya minum teh bangsanya tersebut dalam lagu legendarisnya, Englishman in New York. Lagu Indah yg segera dibuka dengan baris penahbisan, “I don’t drink coffee. I take tea, my dear”.

Bolehlah dibilang, teh itu sebenarnya jalan hidup Inggris, sementara bir adalah gaya hidup.

Bentrok Bir Dan Vodka Di Negeri WineFoto: Christopher Furlong/Getty Images

Ini hampir sama dengan masyarakat kota-kota besar di Indonesia yg akan terjamuri Beer House. Bergaya hidup nongkrong di cafe atau bar, memesan bir dalam ukuran tower dengan patungan. Sementara jalan hidup mereka sehari-hari adalah nongkrong di warung kopi dengan rokok ketengan. Maka tidak heran seandainya mereka minum sedikit saja telah merasa sok mabuk.

Dengan bir saja Englishman ini telah bergaya sok jago. Padahal, Bir Facts (2003) pernah menyebut bahwa budaya kekuatan British dalam menenggak bir itu terendah di Eropa. Alkohol dari minuman dengan sistem peragian lambat yg berasal dan beredar di British cuma berada di kisaran 4% ke bawah.

Sama halnya dengan di sepakbola. Inggris yg kekuatan tim nasionalnya cuma segitu-gitu melulu ini masih mabuk harga diri urusan siapa penemu olahraga ini.

Pengakuan sebagai negara penemu sepakbola masih selalu dilestarikan ke dunia hingga kini. Diselundupkan melalui propaganda dalam peraturan sepakbola. Lihat saja keputusan baru Law of The Game FIFA ini masihlah harus tiba dari dan disetujui oleh IFAB yg terdiri dari British country (Inggris, Skotlandia, Wales serta Irlandia Utara). FIFA masih harus kulonuwun lalu kepada British seandainya ingin memembaharui aturan bola.

Sementara Rusia, mereka peminum. Vodka adalah minuman penghangat buat bangsa yg tinggal dekat dengan Kutub Utara tersebut. Kadar alkohol minuman ini mampu sepuluh kali lipat lebih dari bir Inggris tadi, namun mereka menjadikannya sebagai penghangat dalam menjalani keseharian hidup bersama dinginnya cuaca.

Rusia dan negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya terbiasa minum vodka bukan dengan tujuan mabuk. Melainkan sebagai penghangat. Karena cuma dengan sekali shot saja telah terasa keras dan panasnya. Mereka tidak perlu puluhan gelas dan berkaleng-kaleng jenis bir. Maka tidak heran seandainya Rusia terbawa dengan vodka, sedikit saja tersenggol, telah bereaksi.

Para peminum sadar mulai fungsi dan efek dari apa yg ditenggaknya. Peminum mulai tahu kapan saatnya berhenti agar tetap kontrol. Siap dengan responsibility (tanggung jawab) dan sadar risiko.

Bentrok Bir Dan Vodka Di Negeri WineFoto: AFP PHOTO / HECTOR MATA

Pemabuk? Ah, sedikit saja telah meracau dan berjalan sempoyongan, padahal juga lebih banyak dibuat-buat demi menaikkan gengsi. Pemabuk mulai tanpa kontrol dan berkali-kali tenggak hingga mabuk. Ya, karena memang mabuk adalah tujuan.

Rusia peminum, Inggris pemabuk, sementara Prancis adalah tuan rumah yg elegan. Prancis menyuguhkan wine beserta hidangan. Mau sebagai pembuka atau penutup hidangan, mulai dipersilakan dengan senyuman. Makin asik menikmati minuman beralkohol ini seandainya sesuai saran, dengan cara minum yg nyeni: memutar-mutar gelas terlebih lalu sebelum menghirup aromanya pelan-pelan ketika menenggaknya.

Lalu, Bung yg timnasnya lagi nganggur, pilih yg mana di Euro 2016 ini; peminum, pemabuk atau tuan rumah? Jika peminum dan pemabuk itu masih harap-harap cemas, maka tuan rumah dengan botolan anggur klasik-lah yg telah memastikan lolos dari fase grup.

Bentrok Bir Dan Vodka Di Negeri WineAFP PHOTO / REMY GABALDA

Sang tuan rumah juga menyiapkan anggur yg tidak kalah berkelasnya. Jenis wine dari salah sesuatu propinsi mereka sebagai penanda perayaan juara. Anggur yg diperebutkan dalam banyak kompetisi. Jenis wine yang ditunggu, meskipun cuma bagi dinikmati buih hasil muncratannya saja: sampanye.

Saya sih sementara ini pilih tim anggur saja. Daripada yg nganggur.

=====

Bentrok Bir Dan Vodka Di Negeri Wine* Penulis adalah seorang mantan; mantan jurnalis media sepakbola online yg lama bertugas di Surabaya, dan mantan Website Content Manager laman resmi Persib Bandung 2013/2014. Kini menetap di Yogyakarta bersama Gantigol. Sudah beberapa kali terlibat dalam buku ‘keroyokan’: Brazilian Football and Their Enemies (2014) dan Sepakbola 2.0 (2016). Bercita-cita bikin buku bola sendiri, tanpa main keroyokan lagi. Beredar di dunia maya dengan akun twitter: @fjrhman

(a2s/roz)

Sumber: http://sport.detik.com

Komentar Anda

You might also likeclose