Saturday , September 23 2017
Topik Terhangat

Eksekusi Mati Gelombang Tiga, Mengapa Pemerintah Tak Ingin Gaduh?

Eksekusi Mati Gelombang Tiga, Mengapa Pemerintah Tak Ingin Gaduh?

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah berencana melakukan eksekusi mati gelombang ketiga terhadap terpidana mati masalah narkotika.

Namun, eksekusi mati gelombang tiga ini terasa lebih “senyap”. 

Jaksa Agung M Prasetyo mengatakan, pemerintah menginginkan eksekusi kali ini jauh dari kegaduhan.

Hal yg sama juga diungkapkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan.

Informasi seputar pelaksanaan eksekusi pun lebih tertutup. Apa yg ditakutkan pemerintah dari kegaduhan yg timbul dari eksekusi kali ini?

“Ya kalian harus melihat situasi dan keadaan lingkungan juga dong. Kita ini hidup enggak sendirian. Suasana harus tetap ditenangin,” ujar Prasetyo kepada Kompas.com, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/6/2016) malam.

“Kami memang menegakkan hukum. Tapi tak mesti menimbulkan persoalan baru,” lanjut dia.

Prasetyo mengakui, kekhawatiran mulai kegaduhan itu muncul karena ada terpidana mati yg masuk daftar eksekusi, tapi masih melakukan upaya hukum.

“Ya antara yang lain itu, ada proses hukum yg mesti dituntaskan. Sebab proses hukum kan tak singkat. Apalagi hukuman mati, ada hak yg harus dipenuhi semua,” ujar Prasetyo.

Dari deretan terpidana mati, ada beberapa orang yg jadi sorotan karena proses hukumnya belum rampung.

Pertama, gembong narkoba Freddy Budiman yg tengah mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

Kedua, Mary Jane, warga negara Filipina yg menurut hakim terbukti menyelundupkan narkotika ke Indonesia.

Kepolisian Filipina masih menjadikan Mary Jane sebagai saksi kasus perdagangan manusia.

Ketika ditanya, apakah Freddy dan Mary Jane masih dalam daftar eksekusi, Prasetyo memilih tidak menjawab. Ia melambaikan tangannya dan bergegas memasuki mobil yg membawanya meninggalkan Istana.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose