Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Calon Hakim MA Ingin Seleksi Hakim Tingkat Pertama Juga “Ditelanjangi”

Calon Hakim MA Ingin Seleksi Hakim Tingkat Pertama Juga Ditelanjangi

JAKARTA, KOMPAS.com – Calon hakim ad hoc tindak pidana korupsi Mahkamah Agung (MA), Marsidin Nawawi, menyebut bahwa banyak faktor yg membuat dunia peradilan Indonesia kini kian buruk.

Menanggulangi persoalan tersebut, menurut Marsidin, harus dimulai dari dasar hingga ke atasnya.

Mengenai rekrutmen hakim di tingkat pertama, misalnya. Marsidin menyarankan dikerjakan seperti perekrutan hakim MA.

“Saya tadi menyarankan sebaiknya dikerjakan seperti KY (Komisi Yudisial),” ujar Marsidin di KY, Jakarta Pusat, Jumat (24/6/2016).

Model rekrutmen seperti KY, menurut Marsidin, mendesak para calon hakim melewati tahapan-tahapan yg ketat dan lebih selektif.

(baca: Agus Rahardjo: KPK Ingin Beri Pesan Lembaga Peradilan Kita Masih “Belepotan”)

Termasuk seleksi melalui wawancara dengan berbagai pertanyaan mendalam dan mengkonfirmasi semua hal yg dimiliki calon hakim. Sehingga, didapatkan hakim yg sungguh-sungguh dalam bertugas dan berintegritas.

“Jadi, orang ‘ditelanjangi’ hidupnya, bermasyarakatnya. Jadi, menciptakan hakim yg integritas tinggi,” tutur dia.

Jika tak dengan seleksi yg ketat, maka sangat mungkin kembali terjadi tangkap tangan oleh pihak berwenang seperti yg terjadi dua waktu lalu.

“kalau rekrutmen setengah-setengah, akhirnya seperti ini, menghasilkan orang yg tak amanah berpura-pura pada ketika seleksi,” kata dia.

(baca: Dua Panitera Kena Jerat KPK, JK Berharap Ada Pembenahan di Lembaga Peradilan)

Kemudian, kata Marsidin, kepala pengadilan harus ketat mengawasi para hakim. Sesama hakim, juga harus saling mengawasi. Pasalnya, seandainya cuma mengandalkan kode etik mulai gampang terjadi penyelewengan serupa.

“Kode etik masih lemah khususnya sanksi. Instrumen-instrumen yg mendukung kode etik juga tak memadai,” ucap dia.

Maka dari itu, menurut Marsidin, penguatan terhadap KY juga perlu dilakukan. Selama ini, hubungan KY ke MA sebatas rekomendasi seandainya ada pelanggaran kode etik. Sementara itu, rekomendasi yg disampaikan KY ke MA sifatnya tak mengikat.

“Jadi hasil mereka (penemuan pelanggaran oleh KY) bukan berupa sanksi segera kepada hakimnya, tetapi ke MA. Nah, MA ini kalau menurut KY tak melaksanakan. Menurut KY ini kecil sekali,” kata hakim ad hoc Tipikor Bandung itu.

Kompas TV Hakim MA: KY Tersangka Utama Perusak MA- Satu Meja

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose