Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Cara Bermain Spanyol Yang Bisa Menguntungkan Italia

Jakarta – Itala kontra Spanyol menjadi laga yg paling ditunggu-tunggu di Piala Eropa 2016 ini. Pertemuan di babak 16 besar ini, Senin (27/6) pukul 23.00 WIB, dilabeli sebagai laga final yg terlalu dini terjadi. Keduanya bertemu setelah Italia menjadi juara Grup E, sementara Spanyol menempati peringkat kedua Grup D.

Spanyol dan Italia ketika ini dikenal sebagai juara dunia. Pertemuan kali ini pun berpotensi tidak mulai antiklimaks seperti yg terjadi pada final Piala Eropa 2012. Saat itu, Italia harus menerima kenyataan dipermalukan Spanyol dengan skor 4-0.

Bahkan pada rapat kali ini, bukan tidak mungkin Italia yg mulai memberikan kejutan. Kekalahan Spanyol atas Kroasia pada pertandingan terakhir babak grup D memamerkan bahwa Spanyol memiliki kelemahan yg mampu dimanfaatkan Italia.

Kelemahan Spanyol di Sisi Sayap

Spanyol kemungkinan mulai menurunkan skuat terbaiknya mengingat tidak ada satupun pemain yg cedera atau harus absen karena akumulasi. Skuat terbaik mereka sendiri adalah skuat yg juga tampil ketika menghadapi Kroasia. Ini yg memungkinkan Spanyol mampu lebih lelah ketika menghadapi Italia yg mengistirahatkan banyak pemain inti mereka di pertandingan terakhir fase grup.

Spanyol mulai tampil dengan formasi andalannya, 4-1-4-1. Sergio Busquets mulai ditemani Andres Iniesta dan Francesc Fabregas di lini tengah. Sementara di lini depan, Nolito dan Alvaro Morata yg akan memamerkan ketajamannya mulai dibantu David Silva.

Kroasia berhasil merepotkan Spanyol dengan memanfaatkan kelemahan di sektor sayap Spanyol. Transisi dari bertahan ke menyerang Kroasia yg cepat melalui lebar lapangan berhasil membuat Spanyol ketar-ketir. Belum lagi high pressing yang diterapkan Kroasia membuat Spanyol kesultan membangun serangan.

Skema yg diterapkan Kroasia tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yg dipraktekkan Italia, khususnya ketika melawan Belgia pada pertandingan pertama Grup E. Italia mengandalkan serangan balik cepat melalui sayap, di mana formasi dasar 3-5-2 kelihatan tidak jarang berubah menjadi 3-3-4.

Saat menghadapi Belgia, Italia memasang Matteo Darmian dan Antonio Candreva sebagai wingback. Keduanya menunggu di pintu sepertiga akhir saat bola serangan Italia masih di belakang. Darmian dan Candreva kerap sejajar dengan Citadin Eder dan Graziano Pelle yg berduet di lini depan.

Yang membedakan adalah gaya pressing Italia. Jika Kroasia menekan dengan high block atau menekan sejak lini pertahanan lawan, Italia menekan dengan medium block. Pressing baru diberikan seandainya bola serangan lawan hendak memasuki garis tengah lapangan.

Namun skema seperti ini mampu jadi mulai membuat Spanyol lebih kesulitan dibanding ketika menghadapi Kroasia. Dengan garis pertahanan tinggi, Kroasia memiliki sejumlah celah saat Spanyol berhasil keluar dari tekanan. Sementara garis pertahanan rendah Italia membuat lini pertahanan Italia sangat rapat.

Pada laga terakhir grup, Italia memang kalah dari Republik Irlandia dengan skor 1-0. Namun perlu dicatat, Italia ketika itu mengistirahatkan para pemain penting mereka. Hanya Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli yg menjadi pemain penting namun bermain pada laga terakhir Italia di grup E menghadapi Irlandia.

Kekalahan Italia atas Irlandia bukan menjadi tolok ukur kekuatan Italia, khususnya buat Spanyol. Hasil tiga kemenangan dan beberapa seri Spanyol atas Italia pada enam rapat terakhir pun dipastikan tidak mulai banyak berpengaruh pada duel mereka kali ini.

Cara Bermain Spanyol Yang Bisa Menguntungkan ItaliaFoto: REUTERS / Yves Herman

Cara Bermain Spanyol Untungkan Italia?

Saat dikalahkan Irlandia, Italia memang tampil inferior. Selain gagal mencetak gol, Italia juga cuma lima kali menciptakan peluang. Irlandia sendiri berhasil mengalahkan Italia melalui serangan balik jelang pertandingan berakhir, tepatnya menit ke-84.

Pada laga tersebut, Italia bermain dengan pendekat strategi yg berbeda dengan beberapa laga sebelumnya, menghadapi Belgia dan Swedia. Pelatih Italia, Antonio Conte, juga mengganti sembilan pemain penting yg berlaga pada beberapa laga sebelum menghadapi Irlandia.

Italia coba menguasai pertandingan. Mereka pun kemudian unggul penguasaan bola, meskipun tipis, dengan 52% berbanding 48%. Hanya kubu lawan berhasil menciptakan 12 peluang, atau beberapa kali lebih banyak dari yg dikerjakan Italia, hingga akhirnya Robert Brady mencetak gol setelah memanfaatkan asis Wesley Hoolahan.

Menghadapi Spanyol, Italia kemungkinan mulai dapat memainkan skema andalannya. Dengan formasi dasar 3-5-2, skuat berjuluk Gli Azzurri tersebut memainkan serangan balik dengan memanfaatkan lebar lapangan seperti pada laga melawan Belgia.

Hal ini dikarenakan Spanyol yaitu kesebelasan yg terus mampu mendominasi dan menguasai jalannya pertandingan. Umpan-umpan pendek sejak dari lini pertahanan menjadi ciri khas Spanyol, khususnya setelah dilatih Vicente del Bosque.

Pada laga melawan Republik Cheska, Spanyol unggul penguasaan bola dengan 67%, 18 peluang, namun cuma sesuatu gol. Laga melawan Turki, Spanyol menguasai 58% penguasaan bola, 18 peluang kembali diciptakan, cuma mereka berhasil mencetak tiga gol. Melawan Kroasia, dengan penguasaan bola 62%, Spanyol berhasil menciptakan 15 peluang namun harus kalah dengan skor 2-1.

Sementara itu, Italia dapat terbilang cuma tampil mengesankan ketika menang 2-0 atas Belgia. Dan saat menghadapi Belgia, Italia kalah dalam penguasaan bola, 54% berbanding 45%. Sementara ketika menang tipis atas Swedia, penguasaan bola berimbang 50% berbanding 50%.

Skema yg digunakan Italia mampu jadi memang mulai efektif seandainya menghadapi melawan kesebelasan yg mengedepankan penguasaan bola. Hal ini kelihatan dari perbandingan antara Italia menghadapi Belgia, dengan menghadapi Swedia dan Irlandia.

Cara Bermain Spanyol Yang Bisa Menguntungkan ItaliaFoto: Dennis Grombkowski/Getty Images

Namun yg dapat menjadi persoalan untuk Italia adalah kebugaran beberapa pemain andalannya, Antonio Candreva dan Gianluigi Buffon. Candreva dan Buffon absen ketika menghadapi Irlandia dikarenakan tak fit. Candreva mengalami cedera hamstring sementara Buffon mengalami flu.

Untuk Buffon, kondisinya dikabarkan sudah kembali bugar dan bersiap diturunkan menghadapi Spanyol. Sementara Candreva, kondisinya masih diragukan tampil walau dua sumber menyebutkan ia telah bersiap kembali merumput.

Candreva sendiri menjadi pemain yg cukup utama dalam skema yg diterapkan Conte. Dalam skema 3-5-2, Candreva ditempatkan sebagi wing-back kanan. Ia mampu disiplin dalam menyerang maupun bertahan. Hal itu terbukti dengan torehan sesuatu asis serta Italia yg masih belum kebobolan saat ia tampil.

Jikapun Candreva masih tidak dapat tampil, Conte sebenarnya masih memiliki Mattia De Sciglio atau Alessandro Florenzi yg dapat ditempatkan sebagai wing-back kanan (Federico Bernardeschi terbilang gagal ketika memainkan peran Candreva di laga melawan Irlandia). Emanuele Giaccherini pun sebenarnya dapat ditempatkan di sisi kanan walau ia lebih kadang dipasang di area tengah oleh Conte.

Cara Bermain Spanyol Yang Bisa Menguntungkan Italia

Kesimpulan

Sebagai juara bertahan, ditambah Italia yg sebelumnya tampil angin-anginan, Spanyol mungkin mulai lebih diunggulkan pada rapat kali ini. Namun dengan situasi di atas, Italia memiliki kans bagi menghadirkan kejutan dan mematahkan prediksi banyak pihak.

Conte mulai mengeksploitasi kelemahan Spanyol pada kedua sayap. Namun keberhasilan strategi ini mulai bergantung pada bagaimana Candreva dan Darmian yg mengisi pos sayap Italia. Jika Vicente del Bosque memiliki cara buat meredam sayap Italia atau menemukan kelemahan Italia, atau Alvaro Morata mampu menaklukkan (mantan) rekannya di Juventus, dapat jadi Italia-lah yg mulai kembali gigit jari.

(a2s/roz)

Sumber: http://sport.detik.com

Komentar Anda

You might also likeclose