Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama Sepakbola

Jakarta – Sebagai sebuah negara kecil di dekat Kutub Utara yg cuma berpopulasi 330.000 jiwa (terkecil yg pernah masuk ke putaran final Piala Eropa), sepakbola Islandia nyaris tak dikenal. Tentu belum ada seorang pun pemain top yg lahir dari sana, meskipun sejumlah pesepakbolanya kini sudah berkiprah di Liga Primer Inggris dan Liga Champions atau kompetisi bergengsi lainnya di Eropa.

Datang sebagai “tim anak bawang” ke Prancis, Islandia adalah salah sesuatu kesebelasan yg paling tak diperhitungkan, buat tak menyebut diremehkan kehadirannya sebagai kontestan. Jika dibandingkan dengan Inggris, lawannya di Stadion Allianz Riviera, Nice, Selasa (28/6) dinihari WIB tadi, yg ditempatkan pada koefisien 9/1 sebelum kick-off Euro 2016, mereka hanya menduduki koefisien 125/1. Teramat jauh.

Tetapi siapa nyana kini mereka dapat menempatkan diri dalam berita penting media-media besar Eropa dan dunia? Sehingga seluruh orang pun dibuat terperangah dan para petaruh bola cuma dapat meringis. Bagaimana mungkin sebuah tim yg buat pertama kalinya tampil di sebuah turnamen besar sekelas Piala Eropa, dengan dokter gigi sebagai pelatih dan sutradara di posisi kiper, dapat melaju sampai babak perempatfinal (!)?

Tetapi itulah kiranya yg terjadi.

Sadar tidak memiliki skuat sebaik tim-tim lawannya, sejak laga pertama melawan Portugal, Islandia telah menerapkan permainan defensif dengan pertahanan superketat pada formasi 4-4-2. Tercatat, rata-rata penguasaan bola mereka hanyalah 35% dengan 21 tembakan dalam tiga laga. Tak heran karenanya, pertahanan kaku ini pun membuat seorang superstar seperti Christian Ronaldo bagai membeku dan akhirnya frustasi. Apalagi sejak semula CR7 dinilai telah meremehkan lawan sebelum pertandingan dan menduga mulai mendapatkan pundi gol.

Betapa tidak, kendati pada pertandingan tersebut Portugal begitu mendominasi hingga 72% penguasaan bola dengan 26 usaha mencetak gol, mereka cuma mampu menghasilkan sesuatu angka lewat Luis Nani sebelum kemudian dibalas Birkir Bjarnason tatkala babak kedua baru berjalan lima menit.

“Ini sedikit bikin frustrasi, kita berusaha keras buat menang, Islandia tidak melakukan apapun. Ketika mereka tak coba bermain dan hanya bertahan, bertahan, bertahan, menurut aku ini memamerkan mentalitas tim kecil dan takkan melakukan apapun di kompetisi ini,” demikian ungkap pemain Real Madrid itu usai laga seperti dikutip detikSport.

Bahkan lebih jauh, CR7 juga melontarkan cibiran sinis terhadap Irlandia: “Saya kira mereka juara Piala Eropa melihat cara mereka merayakannya di akhir laga, itu tidak mampu dipercaya.”

Ah, Ronaldo barangkali memang layak frustasi. Belum lagi mengingat dalam laga itulah momen baginya bagi menyamai rekor Luis Figo sebagai pemain Portugal dengan caps terbanyak. Namun ucapannya itu, ditambah dengan sikap kurang sportifnya tak mau bersalaman dengan para pemain Islandia, kontan menjadikannya bulan-bulan publik dan media.

Apa tanggapan para pemain Islandia?

Kejumawaan Ronaldo itu justru dengan enteng direspons oleh Gylfi Gunnarsson dengan mengunggah foto dirinya dan sang kapten Aron Gunnarsson, yg sedang memegangi replika jersey Portugal bernomor punggung 7 sambil tertawa lebar di akun Instagram. Foto tersebut juga disertai pesan “@alfredfinnbogason for @arongunnarsson …he finally got a Ronaldo shirt#shirtsforaron #fakeshirt” sebagai sindiran atas penolakan CR7 bertukar kaos dengan Aron.

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama Sepakbola@Instagram

Dan selepas itu, Strakarnir Okkar selalu berderap maju. Tak jadi mudik bagi melaksanakan pemilu sebagaimana prediksi khalayak sebelum pluit Euro 2016 ditiupkan. Akibatnya, wajar saja apabila masih banyak yg merasa kaget (termasuk rakyat negeri salju itu sendiri) saat mereka akhirnya keluar sebagai runner-up Grup F usai menahan imbang Hongaria 1-1 dan mengalahkan Austria 2-1. Ya, tanpa sekalipun menelan kekalahan dari tiga laga di fase grup!

***

“Ini sebuah dongeng,” demikian kata Aron Gunnarsson, sebagaimana dikutip Gordon Rayner, kepala reporter The Telegraph. “Seluruh rakyat Islandia menonton Premier League dan mereka mengikuti sepakbola Inggris. Itu yaitu satu yg kalian mimpikan dan itu yaitu satu yg pemain yang lain inginkan hingga sepanjang hidup kami,” lanjut penggemar Manchester United yg menjadi fans berat Wayne Rooney itu.

Tentu saja kami mampu merasakan ada nada kebanggaan dari kata-kata tersebut, sekaligus satu yg mengharukan. Namun toh Islandia telah memiliki banyak dongeng (fairy-tale), seperti The Cottager And His Cat, The Three Robes, Asmund and Signy, Prince Ring, sampai Thorstein. Karena itu, alih-alih seperti menulis dongeng (fairy-tale), kerja keras mereka itu seyogianya lebih pantas disebut mengukir sejarah. Ya, sejarah sepakbola mereka yg nantinya bakal menjelma jadi sebuah saga dan dituturkan kepada anak-anak Viking di kaki-kaki gunung berapi, hingga turun-temurun. Bahwa pada suatu masa, mereka yg belum ada apa-apanya mampu mengagetkan dunia. Bahwa tiada yg mustahil di bawah kolong langit (maupun lapangan hijau) seandainya ada tekad dan usaha.

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama Sepakbola

Saga (jamak: sögur) adalah sebuah kosakata yg berasal dari bahasa Old Norse (Nordik Kuno), yakni bahasa yg dipakai bangsa-bangsa Skandinavia, terutama Viking, pada Abad Pertengahan di Islandia dan Norwegia. Saga lebih dekat maknanya dengan epos kepahlawanan. Yang mana dalam Merriam-Webster Dictionary, ia diartikan sebagai “a long story about past heroes from Norway and Iceland” dengan penjelasan antara lain: (1) a prose narrative recorded in Iceland in the 12th and 13th centuries of history or legendary figures figures and events of the heroic age of Norway and Iceland. (2) a modern heroic narrative resembling the Icelandic saga. Begitu pula Cambridge Dictionaries Online mendefinisikannya sebagai “a long story about Scandinavian history, written in the Old Norse language in the Middle Ages, mainly in Iceland.”

Sebagai keturunan bangsa petualang Viking, konon banyak orang Islandia yg sampai sekarang masih cakap membaca saga-saga kuno yg menceritakan keperkasaan leluhur mereka itu dengan cukup baik. Hal ini lantaran bahasa Nordik yg mereka pergunakan nyaris tidak berubah ejaan maupun tata bahasanya selama seribu tahun.

Ceritera saga biasanya berisi sejarah suku-suku Skandinavia seperti pelayaran bangsa Viking, migrasi ke Islandia, dan perseteruan di antara keluarga-keluarga bangsa Nordik. Narasinya kebanyakan berdasarkan peristiwa sejarah, terutama yg berlangsung di Islandia pada abad ke-9, 10, dan 11 awal yg kerap disebut sebagai Sage Age. Kisah-kisah ini boleh dibilang mencerminkan perjuangan dan konflik yg muncul dalam masyarakat Islandia generasi awal.

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama Sepakbola

Sebagai sastra lisan, sebagian besar saga syahdan dicatat pada abad ke-13 dan 14. Para penulis atau lebih tepat para pencatatnya tidak pernah diketahui. Namun Saga Egils misalnya, diyakini oleh para sarjana ditulis oleh Snorri Sturluson, seorang keturunan pahlawan saga itu sendiri. Edisi modern standar dari cerita-cerita ini dikenal sebagai Íslenzk fornrit.

Kita tak tahu, di antara para penggawa Viking yg bertempur di Prancis hari-hari ini, adakah seorang keturunan pahlawan yg dimuliakan namanya dalam saga. Itu barangkali tak penting. Tetapi, seperti kata Presiden Kehormatan Federasi Sepakbola Islandia (KSI), Eggert Magnusson, sebelum pertandingan melawan Inggris: “Kami telah lolos dari grup dan untuk kita sekarang yg ada hanyalah kebahagiaan dan kita mulai melaju dengan senyum di wajah kami, tanpa kekhawatiran dan tidak jadi soal apa yg bakal terjadi. Saya rasa tekanannya ada pada Inggris.”

Mungkin Magnusson benar. Bagaimana pun lolos ke babak knock-out untuk Islandia memang telah memenuhi target — apalagi sampai ke babak perempatfinal. Selebihnya adalah berjuang bagi yg terbaik, sebagaimana nenek moyang mereka lalu berjuang menaklukkan lautan dan gunung-gunung es.

Dan sekali lagi, ini yaitu buah hasil jerih payah bertahun-tahun yg tidak mudah, disertai ikhtiar dengan semangat militan: Viking Spirit! Sama sekali bukanlah sebuah keajaiban belaka. Sebab keajaiban cuma ada dalam dongeng. Tetapi saga adalah cerita yg sangat realis. Gunnarsson pasti tahu betul soal itu di balik makna ungkapannya.

Karenanya, mereka pun membuat revolusi sepakbola!

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama SepakbolaPresiden Kehormatan KSI, Eggert Magnusson, berdansa di lapangan setelah Islandia menyingkirkan Inggris di babak 16 besar. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)

***

Revolusi itu dimulai dengan upaya mengatasi cuaca ekstrim yg pada ketika musim dingin rata-rata mencapai 0 sampai -10 celcius, bahkan -25 sampai -30 celcius di pengujung tahun. Cuaca ekstrim inilah yg menjadi rintangan terbesar buat perkembangan sepakbola Islandia. Sebab liga (semi-pro League) cuma dapat berjalan selama empat bulan (Mei-September).

Namun pada tahun 2002, toh KSI akhirnya menemukan solusi atas permasalahan ini. Mereka membangun “Football House”, lapangan indoor bagi anak-anak maupun dewasa. Football House ini dilengkapi dengan beragam sarana penunjang seperti ruang loker, ruang medis, hingga tribun penonton. Sampai ketika ini, mereka telah memiliki kurang-lebih belasan Football House yg tersebar di sejumlah daerah; yg membuat sepakbola bisa dimainkan sepanjang tahun, kendati secara formal liga masih tetap berjalan empat bulan.

KSI juga menerapkan sistem pembinaan usia dini yg terstruktur secara rapi. Dan bagi mencetak SDM, sejak tahun 2006 mereka pun mengirim para pelatih yg dinilai cukup potensial bagi mendapatkan lisensi kepelatihan UEFA A dan UEFA B. Yang mana para pelatih pemegang lisensi UEFA B ditugaskan bagi melatih anak-anak di bawah usia 10 tahun.

Hasilnya? Ranking timnas sepakbola Islandia meningkat dari peringkat 131 dunia (April-Juni 2012) menjadi peringkat 34 dunia (2 Juni 2016)! Dan banyak pemainnya kini tersebar di berbagai liga di Inggris, Jerman, Italia, erancis, Rusia, Austria dan negara-negara Eropa lainnya. Mereka pun nyaris lolos ke Piala Dunia 2014 apabila tak dihentikan oleh Kroasia pada babak play-off Zona Eropa dengan agregat 2-0 (leg 1: 0-0 | leg 2: 2-0).

“Kau mesti sadar, apabila kamu menjadi negara kecil seperti Islandia, kau bukanlah negara yg dapat memberikan ide baru untuk permainan (sepakbola) ini. Kau harus keluar dan mencari ide-ide baru, metode-metode baru dan jangan cuma bergantung pada cara yg lama,” demikian tukas Geir Thorsteinsson, salah sesuatu anggota senior KSI.

Lantas, Lars Lagerback pun kemudian tiba sebagai salah sesuatu faktor penentu keberhasilan Strakarnir Okkar dengan tangan dinginnya. Sebagai pelatih yg sudah meloloskan negaranya Swedia ke lima turnamen akbar secara beruntun dan mengantar Nigeria ke pentas Piala Dunia 2010, Lagerback yg terkenal mengedepankan lini pertahanan, dengan lugas menyatakan bahwa ia sama sekali tidak ragu saat ditawari menangani Islandia.

“Saya mengambil pekerjaan ini karena aku menilai mereka milik banyak pemain menarik buat bekerja sama, terutama para pemain U-21 yg bisa mencapai putaran final Kejuaraan Eropa 2011 dan kesempatan nyata bagi melaju sejauh ini,” katanya beberapa tahun silam, seperti yg dikutip The Guardian.

Lagerback memang tak keliru. Walaupun perjalananannya bersama timnas Islandia mula-mula mengecewakan: cuma mengantongi sesuatu kali kemenangan dari delapan laga. Tetapi berkat kepercayaan yg diberikan KSI, ia selalu berbenah dan berbenah dan menjadikan skuad asuhannya makin baik dari hari ke hari. Bukankah hari ini kerja keras dan tekad baja itu akhirnya membuahkan hasil yg cukup gemilang? Meski perjuangan, tentu saja, masih harus selalu berlanjut. Perjuangan yg keras kepala dan terkesan heroik, seperti kisah-kisah dalam saga.

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama Sepakbola

Ya, saga itu kini bernama sepakbola! Saga yg dielu-elukan oleh segala rakyat Islandia di depan layar kaca. Saga yg telah membuat Reykjavik dan kota-kota lainnya di negeri salju itu tenggelam dalam kelengangan sesaat tadi malam — dan seketika “pecah” setelah kesebelasan kebanggaan mereka merontokkan Inggris.

Rasanya tidak terbayangkan pula kalau negeri “sekecil” Islandia-lah yg mendepak negara sebesar Inggris dari Euro 2016.

Islandia Dan Saga Yang Kini Bernama SepakbolaFoto: REUTERS/Michael Dalder

==========

*) Penulis adalah cerpenis, sementara berdomisili di Taipei, Taiwan.

(a2s/din)

Sumber: http://sport.detik.com

Komentar Anda

You might also likeclose