Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Surat Kepada Dunia

Surat Kepada Dunia

Oleh: Ren Muhammad

Sukarno adalah satu-satunya presiden di dunia yg memprolamirkan kemerdekaan bangsanya dari penjajahan Barat. Entah dari mana ilham itu ia dapatkan, yg jelas, Proklamasi Indonesia berbeda jauh dengan Declaration of Independence gaya Amerika.

George Washington dan Thomas Jefferson bukan mendeklarasikan kemerdekaan bangsa Amerika. Sebaliknya, adalah penanda hari pertama perebutan paksa tanah Indian oleh para pendatang dari Eropa yg kini mengaku sebagai “kuncen resmi” Abad Modern.

Sebagai tokoh puncak yg diamanahi harapan jutaan rakyat, Sukarno melakukan upaya terakhir yg cukup nekat. Ia mempersilakan Jepang pulang kandang. Sebab tentara mereka telah kocar-kacir dihajar Sekutu.

Tentara Tenno Heika (kaisar Jepang) itu telah tidak lagi milik alasan berperang. Mereka letih. Kelelahan luarbiasa. Apalagi Nagasaki-Hiroshima telah luluh lantak oleh Little Boy dan Fat Man–dua bom atom yg dijatuhkan Amerika dari langit Negeri Sakura.

Surat Kepada Dunia

Jepang menyerah

Momen istimewa itulah yg dimanfaatkan Sukarno. Ia memilih bertindak sebelum jasadnya berkalang tanah. Pada malam 17 Agustus 1945, sebuah surat pendek ia susun dalam kepayahan tubuhnya yg sedang diserang malaria.

Dalam otobiografinya, Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat yg ditulis Cindy Adams, ia mengenang,

“Proklamasi itu pendek saja. Melihat makna kata-katanya, ia yaitu pernyataan yg umum. Bukan sesuatu ulangan dari kepedihan dan kemiskinan. Bagaimana mungkin pada ketika itu kalian menemukan ungkapan indah buat mengingatkan orang pada pengorbanan luarbiasa ribuan mayat bergelimpangan dalam kuburan-kuburan tidak dikenal di Boven Digul? Kami bahkan tak pernah mencobanya. Pernyataan singkat yg tak menggetarkan perasaan, dengan mana kalian menuntut kembali tanah tumpah darah setelah 350 tahun dijajah.”

Surat bersejarah itu tak dipahat di atas perkamen dari emas. Hanya digurat pada secarik kertas yg diberi seseorang, dari buku catatan bergaris-garis biru seperti yg dipakai pada buku tulis anak sekolah. Sukarno menyobeknya selembar dan dengan tangannya sendiri, ia menuliskan untaian kata Proklamasi.

Sukarno bahkan tak menyimpan pena bersejarah yg dipakai menuliskan kata-kata yg mulai hidup abadi dalam sanubari rakyat Indonesia. Ia malah tidak mampu mengingat dari mana datangnya pena tersebut. Menurut yg mampu diingatnya, pena itu ia pinjam dari seseorang–yang entah siapa.

Peristiwa besar lagi bersejarah itu, yg telah disiapkan puluhan tahun dalam doa dan harapan, ternyata jauh dari kesan megah. Hampir tak menggambarkan suasana kemuliaan yg dilihat Idayu Nyoman Rai ketika memberi restu pada Sukarno kecil yg berumur beberapa tahun–dengan menghadap ke Timur. Tidak juga seperti bayangan Sukarno dalam kurungannya yg gelap di Penjara Banceuy.

Sukarno juga mengaku bahwa peristiwa itu tak menimbulkan reaksi apa pun. Tidak juga kegembiraan. Sebelum berhasil merampungkan surat pendek itu, Sukarno telah tak tidur selama beberapa hari. Badannya menggigil dari kepala sampai kaki. Suhu tubuhnya naik hingga 40 derajat.

Namun apa yg bergelora dalam dadanya lebih hebat dari serangan malaria. Kepada sesama rekan pejuang yg lain, ia mengeluarkan perintah mengambil alih pemerintahan di tingkat desa, juga mengabarkan melalui sebuah tulisan:

“Besok Saudara mulai mendengar melalui radio, berita kalian sekarang menjadi bangsa merdeka. Begitu mendengar berita itu, bentuklah langsung komite kemerdekaan daerah di setiap kota di daerah saudara.”

Ia menulis berlusin-lusin surat hingga akhirnya tumbang di atas ranjang. Semua jalanan yg menuju rumah Sukarno di Pegangsaan, telah dijejali rakyat. Mereka sudah diberi tahu bahwa pemimpinnya sedang sakit. Selain itu, setiap orang gugup dan tegang.

Pada pukul sembilan pagi, sekitar 500 orang sudah berdiri di depan rumah Sukarno. Fatmawati membangunkan suaminya tercinta. Wajah Sukarno pucat. Ia cuma tidur dua menit saja.

Orang-orang telah berteriak lantang, “Sekarang, Bung… Ucapkan pernyataan kemerdekaan, sekarang!” Sukarno masih menderita demam. Menghadapi desakan-desakan yg menghentakkan itu, Sukarno masih berusaha berpikir jernih.

“Hatta belum datang. Aku tak mau membacakan Proklamasi tanpa Hatta,” kenangnya.

Tak lama berselang, Hatta pun muncul di kamar tidur di mana Sukarno masih terbaring sendirian, ditemani Fatmawati. Sambil menahan sakit luarbiasa, ia bersalin pakaian. Serba putih.

Tidak ada kata-kata berarti dari mereka yg mampu dicatat sejarah. Juga tidak seorang pun dari mereka yg memiliki gairah. Mereka dilanda letih. Sangat mungkin juga, sedikit ketakutan.

Upacara menuju kemerdekaan berlangsung sederhana. Sukarno berjalan menuju pelantang suara hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan;

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yg mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17-8-’45

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta

Fatmawati sudah membuat sebuah bendera dari beberapa potong kain lusuh. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Bendera gula-kelapa. Sang Saka Merah-Putih. Ia menjahitnya dengan tangan.

Inilah bendera resmi pertama Republik. Tiang benderanya berupa batang bambu panjang yg ditancapkan ke tanah. Potongannya kasar, dan tak begitu tinggi.

Tidak ada orang yg khusus ditugaskan mengibarkan bendera Merah Putih nan keramat. Tiada juga persiapan khusus lainnya. Bahkan tidak seorang pun berpikir sejauh itu.

Latif Hendraningrat, sesuatu dari dua hadirin yg menggunakan seragam, ternyata telah berada dekat tiang. Setiap orang menunggu dengan tegang saat ia mengambil bendera, mengikatkan pada tali yg kasar dan kusut, dan mengibarkannya seorang diri dengan kebanggaan buat pertama kali–setelah tiga setengah abad.

Setelah bendera dikibarkan, seluruh hadirin segera menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman, tanpa musik dan orkestrasi.

Gugatan Indonesia

Sukarno sadar betul perjuangannya belum selesai. Bahkan masih panjang. Imaji kebangsaan yg telah ia gadang sedari Surabaya, Bandung, Endeh, Bengkulu, Padang, Parapat, baru saja terejawantah. Surat yg ia bacakan, jelas ditujukan bagi dunia. Bukan Belanda.

Sudah sejak berdiri membaca pembelaannya di Bandung yg dikenal sebagai Indonesia Menggugat, Sukarno sudah meleburkan dirinya dalam gagasan besar kebangsaan. Sebab ia tak menjuduli pembelaannya itu dengan Sukarno Menggugat.

Keyakinannya sebagai pemimpin besar revolusi, tumbuh kian membuncah. Purwarupa manusia Indonesia pertama tercitra pada dirinya. Ia kemudian dikenali sebagai Bung (Karno) Besar. Semua orang sama besar di hadapannya. Sebab tidak ada orang kecil untuk Bung Besar.

Setiap anak negeri ini adalah orangorang besar yg berhak atas perjuangan Indonesia merdeka, termasuk para pelacur. Sebab tanah ini bukan tanah suci. Tanah ini tanah pusaka, yg menjaga siapa pun tumpah darahnya.

Bung Besar paham itu. Maka ia menjaga anak-anak Indonesia. Ia paham komunis. Tapi tak membencinya. Ia tak membela sosialis. Namun tak juga menghinanya.

Bung Karno yg nasionalis sejati, cuma menghardik kapitalis, karena berusaha merebut tanah pusaka. Ia cuma menegur para penjajah, lantaran berusaha mengatur-atur pemilik tanah pusaka. Ia cuma menegur Amerika, sebab berusaha melangkahi orang-orang Indonesia.

Jika ada orang kecil buat Bung Karno, maka tidak ada Marhaen di negeri ini. Jika ada orang kecil baginya, maka takkan ada Sarinah untuk kita. Jika ada orang kecil, tidak juga ada Riwu Ga dan Darham dalam sejarah kita. Bahkan Sariko, sipir Belanda yg bertugas menjaganya di Banceuy, jatuh cinta pada revolusi.

Bung Karno malah dengan sadar mengajak para pelacur Kota Kembang menjadi agen rahasianya dalam pendirian Republik–sebelum dibuang Belanda ke Endeh. Masih dalam rangkaian pembuangan, di Padang pun ia mengajak dan mendidik barisan pelacur bagi mengelabui tentara Jepang.

Maka menjadi wajar saat Bung Karno sudah didapuk selaku presiden, fotonya dipajang secara terhormat di kamar rumah-rumah bordil. Bapak kami mafhum. Sebab para pelacur itulah penyumbang dana untuk perjuangannya saat masih memimpin Partai Nasional Indonesia di Bandung.

Sejarah sudah membuktikan kemampuan unik Bung Karno membesarkan siapa pun orang yg berdekatan dengannya. Ia tidak cuma rela didekati. Lebih dari itu, menerima dengan lapang dada dan hati yg terbuka.

Manusia sejati

Bung Karno tidak pernah yakin bahwa kemiskinan adalah takdir manusia. Ia tahu betul, keserakahan kolonialisme adalah ujung pangkalnya.

Sejak kecil ia sudah terbiasa makan sesuatu kali dalam sehari. Menunya adalah ubi kayu, jagung tumbuk, dengan makanan sederhana yg lain. Bahkan ibunya tidak bisa membeli beras murah yg biasa dibeli oleh petani. Ia cuma mampu membeli padi.

Setiap pagi, Idayu mengambil lesung dan menumbuk. Tak henti-hentinya menumbuk butiran-butiran berkulit itu sampai menjadi beras seperti yg dijual orang di pasar, kendati telapak tangannya memerah dan melepuh.

Dengan melakukan itu, Idayu dapat menghemat uang sesuatu sen. Berbekal uang sesuatu sen itu ia mampu membeli sayuran. Semenjak hari itu dan seterusnya, selama dua tahun kemudian, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Sukarno harus menumbuk padi bagi ibunya.

Sulur kemelaratan yg mendera keluarga Sukarno, menyebabkan ia akrab dengan kepahitan hidup. Ia sudah sangat terbiasa tidak memiliki apa pun selain ibunya. Ia melekat pada Idayu karena perempuan mulia itulah satu-satunya sumber pelepasan kepuasan hatinya.

Idayu juga perempuan pemberani. Ia pernah mendamprat para pejuang yg bersembunyi di belakang rumahnya, di Blitar. Ikhwal mereka cuma dapat tiarap dan tidak melakukan penyerangan sama sekali bagi menghancurkan tentara Belanda.

“Ia adalah ganti gula-gula yg ada di dunia ini. Yah, ibu mempunyai hati yg begitu besar dan mulia,” kenang Bung Karno.

Bapaknya, seorang guru yg keras. Sekali pun telah berjam-jam belajar, ia masih tega menyuruh Sukarno kecil selalu belajar sampai pusing dan kelelahan. Perpaduan sempurna inilah sumber kebesaran hatinya membina rakyat yg kelak ia perjuangkan.

Kendati dililit kemelaratan hidup, bunga kasih sayang masih berkeliling Bung Karno. Ia pun insyaf, bahwa kasih sayang menghapus semua keburukan. Hasrat mencintai sudah menjadi salah sesuatu kekuatan pendorong dalam hidupnya, kelak di kemudian hari.

Atas dasar itulah, ia membenci seluruh bentuk penjajahan bangsa oleh bangsa lain. Bung Karno bertekad menghapusnya dari muka dunia, dan itikad itu sudah ia buktikan dalam sejarah manusia.

Omah Prabata, 21 Ramadhan 1437 H

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose