Sunday , June 25 2017
Topik Terhangat

Banyuwangi Kembangkan Agrowisata Petik Jeruk

Banyuwangi (ANTARA News) – Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengembangkan agrowisata petik jeruk di Desa Temurejo bagi melengkapi tujuan wisata lainnya yg kini sedang maju pesat di daerah itu.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Senin menjelaskan agrowisata petik jeruk di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, itu yaitu bagian dari upaya sesuatu desa sesuatu produk yg didorong oleh pemerintah daerah.

“One village one product diterjemahkan sesuai potensi desa. Ada daerah yg sumber airnya melimpah kalian dorong dengan program 10 ribu kolam ikan. Desa Temurejo sendiri yaitu salah sesuatu sentra jeruk dan buah naga yg kami dorong sebagai agrowisata,” katanya.

Agrowisata hortikultura ini, katanya, mulai menjadi rasa baru dan alternatif wisata buat wisatawan yg berkunjung ke kabupaten berjuluk ” The Sunrise of Java” itu. Di lokasi itu Wisatawan mulai merasakan sensasi memetik buah jeruk segera di kebun.

Menurut Anas, wisata agro sangat cocok dikembangkan di Banyuwangi mengingat potensi hortikultura yg ada di daerah itu.

“Seperti jeruk ini, musimnya hampir sepanjang tahun ada. Kalau tak ada jeruk, dapat diganti petik buah naga atau kopi, menyesuaikan musimnya,” ujar Anas.

Menurut dia, agrowisata di Banyuwangi ketika ini akan tumbuh, seperti di Kecamatan Bangorejo. Selain terdapat wisata petik jeruk juga ada petik buah naga. Di sisi Utara Banyuwangi, tepatnya di Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro juga tengah dikembangkan wisata kembang kopi. Desa Gombengsari terhampar 850 hektare lahan perkebunan kopi rakyat.

Desa Temurejo sendiri menjadi sentra jeruk dengan hamparan kebun seluas 940 hektare. Dengan produksi 28.200 ton, menyumbangkan 40,75 persen total produksi jeruk di Kecamatan Bangorejo.

“Desa Temurejo ini telah menjadi kawasan atau sentra jeruk dimana 95 persen areal pertaniannya yaitu kebun jeruk. Sedangkan sisanya buat buah naga. Bahkan Desa Temurejo juga dijadikan pilot project sentra jeruk nasional oleh Kementerian Pertanian,” tutur Anas.

Sementara itu Kepala Desa Temurejo Fuad Musyadad menyampaikan agrowisata petik jeruk mulai dikelola oleh badan usaha punya desa (bumdes). Nantinya selain tidak mengurangi penghasilan petani, hasil agrowisata juga dimanfaatkan bagi pengembangan desa.

“Kami telah menyosialisasikan kepada para petani jeruk bagi ikut menyukseskan program ini buat memberi nilai tambah secara ekonomi buat desa dan petani itu sendiri. Untuk mendukung agrowisata kita juga telah meminta kepada pemilik kebun bagi membangun pondok pondok di tengah kebun buat tempat istirahat para wisatawan,” ujarnya.

Dikatakan Fuad, sebenarnya ini bukan destinasi baru karena sebelumnya telah banyak wisatawan yg datang. Namun, pihaknya sekarang ingin mengembangkan potensi tersebut lebih serius.

“Bila biasanya wisatawan dari Pantai Pulau Merah segera balik hotel, sekarang ini akan banyak wisatawan yg beragrowisata petik buah naga ataupun jeruk di sini. Sambil jalan pulang, mereka mampir ke sini, buat merasakan sensasi petik buah sambil buahnya dijadikan oleh-oleh,” ujar dia.

Fuad melanjutkan, dua agen travel telah meminta pihaknya buat bekerja sama menjadikan Desa Temurejo sebagai bagian dari paket wisata. Wisata Petik buah jeruk menjadi salah sesuatu atraksi wisata yang dipaketkan dengan destinasi wisata dari Pulau Merah ke Gunung Ijen atau sebaliknya.

“Kami mengemas agrowisata petik buah dengan membebaskan pengunjung buat memetik sendiri secara segera buah jeruk di kebun punya warga. Di kebun kalian menyediakan kotak kemasan bagi pengunjung yg dapat dibawa pulang. Per orang dikenakan biaya Rp25 ribu dapat mengambil jeruk sebanyak 3 kilogram,” katanya.

Nantinya wisata petik jeruk mulai memanfaatkan kebun kebun jeruk punya warga di seluruh dusun di Desa Temurejo, terutama yg gampang akses jalan masuknya, karena sebagian kebun juga ada yg terletak di perbukitan.

Warga desa pun menyambut gembira adanya dukungan pengembangan wisata agro di desanya. Salah sesuatu petani jeruk Murkani (55) yg menyampaikan sangat mendukung agrowisata petik jeruk, terlebih lahan yg dimilikinya gampang diakses karena berada di pinggir jalan. Bahkan lahan miliknya seluas sesuatu hektare telah menjadi lokasi petik jeruk bersama yg dikerjakan oleh Bupati Abdullah Azwar Anas bersama jajaran Pemkab Banyuwangi.

Dari hasil kebunnya itu, Murkani mengaku telah mampu memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Dari sesuatu hektare lahan yg dimilikinya dia mampu mendapatkan hasil panen Rp300 juta per tahun.

“Mulai dari pendidikan anak, sandang pangan hingga memiliki kendaraan telah terpenuhi dari kebun jeruk ini. Saya tambah senang kalau desa ini dijadikan agrowisata. Selain mampu hasil panen juga mampu tambahan dari agrowisata ini,” ujar Murkani.

Sementara Data Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Pemkab Banyuwangi memperlihatkan produksi jeruk daerah itu selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2011, produksi jeruk masih berkisar 103.268 ton dengan luas panen 10.727 hektare. Produktivitasnya waktu itu mencapai 17,2 ton per hektare. Pada 2015, produksinya naik menjadi 354.685 ton dengan luas panen 12.804 hektare. Produktivitasnya naik menjadi 27,7 ton per hektare.

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose