Monday , August 21 2017
Topik Terhangat

Kisah Jack Ma, Orang Terkaya Kedua Di China Pemilik Alibaba.com

Kisah Jack Ma, Orang Terkaya Kedua Di China Pemilik Alibaba.com

KOMPAS.com – Jack Ma berasal dari keluarga musisi dan pencerita di Hangzhou, Tiongkok. Ia pernah hidup pahit di masa Revolusi Kebudayaan dan mengalami berbagai kegagalan. Lelaki itu bangkit, membangun situs Alibaba, dan kini menjadi orang terkaya kedua di negerinya.

”Saya menjalani hidup yg pahit,” kata Jack, bernama asli Ma Yun, pada Forum Ekonomi Dunia, Davos, Swiss, Januari 2015. ”Saya juga bukan dari keluarga berada dan berkuasa,” lanjutnya.

Lahir di era komunisme yg kaku membuat Jack terbiasa dengan kehidupan keras. Jack hidup normal sebagaimana anak-anak yang lain di Hangzhou, sekitar 250 kilometer di sebelah barat Shanghai. Hangzhou dikenal sebagai kota kebudayaan dengan kehadiran turis asing.

Saat memasuki sekolah, sejak SD sampai SMA, Jack perlu berkali-kali tes karena tak hebat secara akademis. Pernah gagal masuk universitas ternama, ia kuliah setara program D-3 di Sastra Inggris Hangzhou Normal University, lulus tahun 1988. ”Ini universitas berkualitas kelas tiga atau empat secara nasional,” katanya.

Ketika KFC membuka cabang di Hangzhou, Jack melamar. Dari 24 pelamar, cuma dia yg gagal. Ia juga kandas menjadi polisi. ”Kegagalan menjadi bagian perjalanan hidup saya,” katanya.

Jack mengajar dan membuka kursus bahasa Inggris di Hangzhou. Para murid senang dengan cara Jack mengajar. Semasa kuliah, ia memperdalam kemampuan berbahasa Inggris sebagai pemandu gratis untuk turis. Dengan sepeda, ia menghampiri hotel yg ramai turis buat mempraktikkan ilmunya. Dari peran ini, Jack memiliki sahabat pena yg kesulitan melafalkan nama Ma Yun sehingga kemudian memanggilnya ”Jack”.

Kemampuan bahasa Inggris memberi Jack kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat di tahun 1995. Ketika itu, ia diminta menjelajahi dunia lewat internet yg baru muncul. ”Tidak, tidak, tidak,” katanya, karena komputer barang mahal dan dia tidak paham.

Jack tetap diyakinkan buat mencoba. ”Pertama kali, aku mencari bir. Saya menemukan produk bir dari sejumlah negara, tapi tidak sesuatu pun yang berasal Tiongkok.” Dia pun terinspirasi membuatkan situs berisi keterangan produk-produk buatan Tiongkok.

Kembali ke Tiongkok, Jack bekerja di kementerian luar negeri dengan menawarkan jasa pemasaran produk Tiongkok lewat internet. Bukan tipe pegawai negeri dengan birokrasi berbelit-belit, ia mundur dari pemerintahan. Pada 1999, bersama rekannya, ia merintis situs bernama Alibaba, yg mempertemukan pembeli dan penjual produk di segala dunia. Ia terinspirasi situs Amazon. Belajar dari situs lelang e-Bay, ia mendirikan Taobao. Pengaruh Google menginspirasinya menciptakan mesin pencari berbahasa Mandarin.

Banyak sahabat

Jack seorang periang dan milik banyak sahabat. Istrinya, dahulu sahabat di kampus, Zhang Ying, turut mendukung. Jaringan dan persahabatan membuatnya meraih dukungan mewujudkan ide perdagangan virtual. Tak gampang pada awalnya, Alibaba tidak menghasilkan uang di tiga tahun pertama. Namun, Jack optimistis mulai hasil besar. Ini cuma soal waktu.

Saat perusahaan-perusahaan internet menggelembung, dahulu meletus tahun 2002, Alibaba bertahan. Jack adalah pilar daya tahan. Terhadap para mitra kerja di tahun 1999, ia bilang, ”Kita harus percaya ini jalan, tapi harus kerja keras.”

Jack menawarkan jasa Alibaba kepada perusahaan mapan bagi jual beli produk, tapi malah ditertawakan. Ia lantas menengok banyak perusahaan skala menengah dan kecil yg tak milik berkesempatan mengikuti pameran internasional. Kalangan ini menyambut Jack meskipun awalnya seluruh jasa gratis.

Situs Alibaba diam-diam membuat banyak orang beruntung. ”Saya pernah makan di sebuah restoran di AS. Tiba ketika membayar, aku diberi tahu petugas restoran, aku sudah dibayari sebuah perusahaan yg berhasil menjual produk karena Alibaba.”

Jack dan rekannya selalu mengembangkan Alibaba dan kemudian menciptakan sistem pembayaran lewat situs Alipay. Kali ini tak gratis. Sukses Alibaba tersebar. Jerry Yang, kelahiran Taiwan tahun 1968, salah sesuatu pelopor Yahoo!, Goldman Sach, dan SoftBank (perusahaan Jepang), menaruh kepercayaan. Alibaba melejit dengan moto melayani konsumen.

Yan Anthea Zhang, profesor strategi manajemen dari Rice University, AS, mengatakan, sukses Alibaba terletak pada ketersediaan aneka produk dan kecanduan konsumen berbelanja karena merasa nyaman. Lewat Alibaba, ada 800 juta transaksi di semua dunia per hari.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose