Monday , August 21 2017
Topik Terhangat

“Tweet” Fahri Hamzah Yang Memancing Reaksi TKI Hingga Menaker…

Tweet Fahri Hamzah Yang Memancing Reaksi TKI Hingga Menaker...

JAKARTA, KOMPAS.com — “Jarimu harimaumu”. Peribahasa yg semula berbunyi “mulutmu harimaumu” itu belakangan dipelesetkan buat memperingatkan para netizen agar berhati-hati dalam memakai media sosial, apalagi untuk netizen yg yaitu pejabat publik yg mempunyai ratusan ribu follower.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah, misalnya, yg memiliki 359.000 follower, pada Selasa (24/1/2017) kemarin mengeluarkan kicauan yg memancing kritik dan protes dari banyak pihak.

Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela,” begitu bunyi kicauan Fahri yg diunggah di akun @Fahrihamzah, Selasa subuh, pukul 04.14 WIB.

Banyak netizen yg menganggap kicauan itu merendahkan profesi tenaga kerja Indonesia yg bekerja di luar negeri. Salah sesuatu yg melayangkan kritik keras adalah Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

(Baca: TKI di Hongkong Tuntut Fahri Hamzah Minta Maaf atas Kicauan di Twitter)

Hanif yg juga pernah menjadi rekan sekantor Fahri di Dewan Perwakilan Rakyat itu menceritakan bahwa ibunya adalah TKI. Namun, ia menegaskan bahwa ibunya adalah wanita terhormat dan tak pernah mengemis.

Sy anak babu. Ibu sy bekerja mjd TKI scr terhormat. Tdk mengemis, tdk sakiti org, tdk curi uang rakyat. Saya bangga pd Ibu. #MaafkanFahriBu,” tulis Menaker lewat akun Twitter-nya @hanifdhakiri.

Hingga Selasa malam, kicauan Hanif itu telah di-retweet sebanyak 2.456 kali dan disukai 1.250 kali.

Tangkapan gambar atau screenshoot kicauan Menaker tersebut, yg disandingkan dengan kicauan Fahri Hamzah, juga menjadi viral di dunia maya.

Reaksi juga tiba dari TKI di Hongkong. Koalisi 55, Organisasi Buruh Migran Indonesia di Hongkong yg tergabung dalam Lingkaran Aku Cinta Indonesia (LACI), mengecam kicauan Fahri.

Ketua LACI Nur Halimah menganggap kicauan Fahri sudah melecehkan martabat para pekerja Indonesia di luar negeri. LACI, kata Nur, menuntut Fahri meminta maaf. 

“Tahukah Bapak bahwa pernyataan Bapak sudah merendahkan martabat dan harga diri kami, para ‘pahlawan devisa’ yg menyumbangkan remitansi sebesar 7,4 miliar dollar AS atau Rp 97,5 triliun buat memutar roda perekonomian Indonesia,” ujar Nur dalam siaran pers yg diterima Kompas.com, Selasa malam.

Mengkritik pemerintah

Fahri mengaku tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun lewat kicauannya itu. Fahri menjelaskan, kicauannya sebetulnya tidak berdiri sendiri, melainkan tengah fokus mengkritik pemerintah atas situasi dan keadaan terkini. Fahri menilai, ketika ini pemerintah kehilangan prioritas bagi ditangani.

“Prioritas kami ini aku tunjukkan bahwa hutan kami dibabat orang, pipa-pipa baja kalian disedot negeri orang. Padahal, warga kami mengemis meminta kerja menjadi pakai istilah babu. Sebenarnya, istilah ini enggak ada. Sementara pekerja asing kalian biarkan merajalela. Concern aku adalah prioritas,” kata Fahri.

(Baca: Fahri Hamzah Hapus Kicauan soal TKI di Twitter, Ini Alasannya)

Sebagai Ketua Tim Pengawas Tenaga Kerja, ia mengaku sangat mengetahui nasib pekerja Indonesia di luar negeri. Kondisinya tragis, bahkan tidak jarang ada yg diperbudak. Ia menegaskan kalimat pada kicauannya tidak ada hubungannya dengan penghinaan.

Hal yg ditekankannya adalah bahwa ada pekerjaan pemerintah yg tidak beres berkaitan dengan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Sedikitnya, ia mencatat ada beberapa sektor yg tidak ditangani secara baik. Pertama, sektor persiapan tenaga kerja. Kedua, penempatan.

“Karena enggak ada keahlian ditempati sembarangan,” ucap Fahri.

Fahri pun meminta maaf apabila ada pihak-pihak yg merasa tersinggung dengan kicauannya. Permintaan maaf itu ia sampaikan melalui Twitter, setelah sebelumnya menjelaskan terlebih lalu duduk kasus yg sebenarnya.

“Tetapi, apa pun, kalian harus berhadapan. Kepada pemangku profesi yg merasa terhina, aku meminta maaf. Terima kasih,” tulis Fahri.

Fahri juga pada akhirnya menghapus kicauannya mengenai TKI itu.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose