Monday , August 21 2017
Topik Terhangat

Dua Kali ‘wakil Tuhan’ Di MK Tergiur Uang Haram

Dua Kali wakil Tuhan Di MK Tergiur Uang Haram

Wajah Mahkamah Konstitusi kembali tercoreng. Salah sesuatu hakim mereka yakni Patrialis Akbar terkena operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penangkapan ‘wakil Tuhan’ itu terkait dugaan suap judicial review Undang-undang Nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Sebelas orang diamankan dalam kegiatan operasi tersebut.

Sebelas orang itu ditangkap di tiga tempat berbeda di Jakarta pada Rabu (25/1) dan Kamis (26/1), setelah KPK mendapat laporan dari masyarakat. Mereka yg diamankan antara yang lain PAK (hakim MK), BHR bersama sekretarisnya RJF (pihak swasta pemberi suap terhadap PAK), serta KM (pihak swasta yg menjadi perantara dari BHR kepada PAK) dan tujuh orang lainnya.

Wakil ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, penangkapan pertama dikerjakan terhadap KM di kawasan lapangan golf Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (25/1). Selanjutnya KPK menangkap BHR bersama sekretarisnya RJF di salah sesuatu kantornya kawasan Sunter, Jakarta Utara.

“BHR ini memiliki sekitar 20 perusahaan yg bergerak di bidang impor daging,” kata Basaria.

Sementara Patrialis Akbar sendiri diciduk KPK pada Rabu (25/1) sekira pukul 21.30 WIB. Mantan Menteri Hukum dan HAM itu diamankan KPK ketika berada di pusat perbelanjaan kawasan Jakarta Pusat.

“Yang bersangkutan pada ketika jam tersebut berada di pusat perbelanjaan Grand Indonesia,” ujar Basaria.

KPK menduga masalah dugaan suap ini terkait permohonan uji materiil Undang-undang Nomor 41 tahun 2014.

“Dalam rangka pengurusan kasus dimaksud, BHR dan RJF melakukan pendekatan PAK melalui KM. Hal ini dikerjakan oleh BHR dan NJF agar bisnis impor daging mereka mampu lebih lancar.

KPK juga mengamankan dokumen pembukuan perusahaan dan voucher pembelian mata uang asing dan draft putusan kasus dalam operasi tangkap tangan ini.

Basari menyampaikan uang suap yg diterima Patrialis dari BHR sebanyak tiga kali.

“Diduga USD 20.000 dan 200.000 dolar Singapura ini penerimaan ketiga. Sudah ada penerimaan pertama dan kedua sebelumnya,” ujar Basaria.

Dari perkara ini, tak ada transaksi dalam bentuk transfer melainkan voucher penukaran uang mata asing. “Barang buktinya voucher bagi penukaran mata uang asing,” tukasnya.

Setelah melakukan pemeriksaan secara intensif, KPK memutuskan 4 orang tersangka yakni Patrialis Akbar, Kamaludin, Basuki Hariman, dan Ng Fenny. Untuk Patrialis dan Kamaludin selaku penerima suap disangkakan sudah melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sedangkan bagi pemberi suap, Basuki Hariman dan Ng Fenny disangkakan melanggar Pasal 6 Ayat 1 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sebelum penangkapan Patrialis, pada 2013 KPK menangkap ketua KPK ketika itu Akil Mochtar. Penangkapan Akil ketika itu sangat mengejutkan Tanah Air.

Akil diduga menerima suap sebesar Rp 4 miliar dalam masalah Pilkada yg disidang di Mahkamah Konstitusi. KPK menangkap tangan Akil di rumah dinasnya Jalan Widya Chandra Nomor 7,Jakarta Selatan.

Berikut ini kronologi pengintaian KPK sampai Akil tertangkap:

Awal September 2013

KPK telah akan melakukan penyelidikan terhadap dugaan tindak pidana korupsi yg mulai dikerjakan oleh Akil Mochtar selaku hakim Mahkamah Konstitusi. KPK membuntuti mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Golkar tersebut.

Rabu, 2 September 2013

Berdasarkan penyelidikan itu, diketahui mulai ada transaksi di rumah Akil Jalan Widya Chandra III No 7, Jaksel. “Informasinya mulai ada penyerahan uang yg mulai diserahkan oleh pihak-pihak yg berperkara terkait dengan sengketa Pilkada di Kabupaten Gunung Mas, Kalteng,” ujar Ketua KPK Abraham Samad ketika itu.

Rabu (2/10) pukul 22.00 WIB

Penyelidik memantau kediaman Akil. Nampak sebuah kendaraan yg mampu diidentifikasi sebagai Toyota Fortuner putih mendatangi kediaman Akil. “Mobil itu dikemudikan oleh inisial N, suami dari CHN,” ujar Abraham.

CHN alias Chairun Nisa yaitu anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Golkar. Setelah itu, Chairun Nisa ditemani oleh CNA alias Cornelis Nalau, selaku pengusaha di Palangkaraya. Chairun Nisa dan Cornelis memasuki rumah Akil.

“Tidak dua lama tim penyelidik mendekati bagi melakukan penangkapan,” ujar Abraham.

Dari penangkapan, ditemukan barang bukti berupa uang di dalam amplop cokelat sebesar USD 284.050.

Atas kasusnya itu Akil divonis penjara seumur hidup. Akil sempat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung namun hakim menetapkan menolak.Baca juga:
Mengenang ucapan berapi-api Patrialis soal pemberantasan korupsi
Idealnya hakim konstitusi bukan dari kalangan politisi
Mahfud MD berduka dengar hakim MK ditangkap KPK
KY miris penangkapan Patrialis bikin profesi hakim kembali tercoreng
Politisi PKS soal hakim MK kena OTT: Innalillahi wainalilahi rojiun
DPR harap masalah suap Patrialis Akbar tidak rusak kredibilitas MK

Sumber: http://www.merdeka.com

Komentar Anda

You might also likeclose