Monday , August 21 2017
Topik Terhangat

“Lion”: Jalan Panjang Untuk Pulang

Lion: Jalan Panjang Untuk Pulang

Jakarta (ANTARA News) – Dalam bahasa Hindi, sheru berarti singa/ lion. Sheru juga memiliki arti lelaki pemberani. Arti kata tersebut nampaknya sesuai dengan kisah hidup pria bernama Saroo Brierly yg memiliki nama asli Sheru Munshi Khan.

Lahir di Ganesh Talai, Khandwa, India, Saroo tinggal bersama ibu, kakak laki-laki, Guddu, dan adik perempuannya dalam kemiskinan. Pada usia lima tahun, Saroo telah harus bekerja bagi makan dan mencari uang.

Suatu saat Saroo tak sengaja tertidur di kereta barang yg membawanya pergi jauh menempuh perjalanan 1.500 kilometer dari kampung halamannya.

Di Kolkata, Saroo hidup di sekitar stasiun kereta api, dia bertahan hidup dengan mencari sisa-sia makanan dan tidur di jalanan. Dia kemudian dibawa ke panti sosial dan pindah ke lembaga adopsi di mana akhirnya dia diadopsi oleh keluarga Brierley di Hobart, Tasmania, Australia.

Dua puluh lima tahun berlalu, Saroo berusaha mencari kampung halamannya bagi bertemu dengan ibu biologisnya. Pada 2012 dia menyelesaikan buku yg menceritakan kisah hidupnya berjudul “A Long Way Home”. Buku tersebut kemudian diadaptasi dalam film “Lion”.

Lion: Jalan Panjang Untuk Pulang
Saroo berusia lima tahun yg diperankan oleh Sunny Pawar (kanan) dalam sesuatu adegan di film “Lion”. (ANTARA News/handout)

Sang sutradara Garth Davis membuka awal cerita dengan panorama India. Film dimulai pada 1986 ketika Saroo berusia lima tahun (Sunny Pawar). Sunny Pawar berhasil mencuri perhatian melalui aktingnya yg sangat natural.

Bocah yg kini berusia delapan tahun (berusia enam tahun ketika casting) itu rasanya bisa dengan gampang membuat penonton jatuh cinta kepadanya dan juga jatuh dalam cerita aslinya.

Langkah kaki dan tatapan mata Pawar betul-betul mampu mengatakan perjuangan, ketakutan sekaligus keberanian Saroo menjalani kehidupannya ketika harus bertahan hidup di Kolkata di mana Davis membawanya ke layar lebar dengan sangat jujur.

Pawar juga dapat memperlihatkan rasa terisolasi Saroo dalam hal komunikasi di mana dia cuma mampu berbicara bahasa Hindi di tengah masyarakat yg memakai bahasa Bengali.

Keberadaan Pawar sebagai titik kecil di tengah luasnya dunia yg penuh dengan orang asing digambarkan Davis dengan sangat natural. Davis juga menampilkan kejahatan yg bisa menimpa anak-anak di jalanan.

Buku diadaptasi dengan sangat apik dalam skenario saat ada orang yg ingin membantu Saroo buat kembali pulang bertemu ibunya, namun justru ingin memanfaatkan Saroo.

Skenario juga sangat efektif bagi menerjemahkan kebimbangan Saroo ketika akhirnya harus menyerah bagi kembali pulang dan bersedia diadopsi. Momen patah hati ini diperkuat dengan simfoni musik latar yg mendalam.

Sinematografi yg indah juga ditampilkan ketika Saroo datang di Australia, bertemu dengan orang tua angkatnya dan memasuki rumah yg mulai menjadi tempat tinggalnya secara perlahan-lahan.

Lagi-lagi, Pawar sukses membawakan adegan yg menggetarkan hati ketika Saroo bertemu dengan orang tua angkatnya Sue dan John Brierly yg diperankan Nicole Kidman  dan David Wenham, di mana akting keduanya juga patut diacungi jempol.

Dua puluh tahun berselang, Saroo (Dev Patel) tumbuh sebagai anak yg membanggakan untuk keluarga Brierly, sementara saudara angkatnya, Mantosh, masih trauma dengan masa kecilnya.

Perbedaan karakter antara Saroo dan Mantosh diperlihatkan dengan jelas melalui skenario. Sensitifitas sutradara juga patut diapresiasi ketika mengarahkan para aktor, khususnya Kidman, mendalami karakter yg diterjemahkan dalam emosi.

Ketika Saroo ke Melbourne buat belajar manajemen hotel, dia jatuh hati pada gadis keturunan Amerika; Lucy (Rooney Mara). Dia juga bertemu dengan teman-teman yang berasal India, yg memiliki ide bagi menjajaki kampung halamannya lewat teknologi Google Earth.

Patel mampu dibilang memiliki sumbangsih besar membawa suasana perjuangan Saroo menemukan kampung halaman sekaligus “ke-galau-an” di antara ibu biologis dan ibu angkat, sedangkan Kidman menggambarkan kepedihan seorang ibu ketika dihadapkan dengan perilaku buruk anak angkatnya Mantosh.

Sementara Saroo bergulat dengan memori masa kecilnya buat menemukan ibu kandung, kakak laki-laki dan adik perempuannya, sang kekasih yg awalnya mendukung dia perlahan menjauhinya.

Elemen-elemen tersebut membuat “Lion” sah menjadi film drama. Ditambah, kepiawaian Davis dalam mengaduk-aduk emosi menjadikan film tersebut sulit bagi ditonton tanpa meneteskan air mata.

Wajar seandainya “Lion” diunggulkan dalam enam kategori Academy Awards 2017 merupakan film terbaik, aktor pendukung terbaik (Dev Patel), aktris pendukung terbaik (Nicole Kidman), skenario adaptasi terbaik (Luke Davies), sinematografi terbaik (Greig Fraser) dan musik latar terbaik (Dustin Dustin O’Halloran dan Hauschka).

Baca juga: “Lion” masuk Academy Awards, ini tanggapan Saroo

Lion: Jalan Panjang Untuk Pulang
(Saroo Brierly (paling kiri) bersama para pemain “Lion”)

Baca juga: Saroo puji akting Dev Patel dalam “Lion”

Setelah bertemu ibu kandungnya, Saroo menetapkan bagi tetap tinggal di Hobart, Tazmania, Australia. Dalam temu media peluncuran perdana “Lion” di Festival Sinema Australia Indonesia, Saroo mengaku pernah mempertimbangkan bagi membawa ibu kandungnya ke Australia.

“Tapi ibu tinggal di sana telah sangat lama, aku pikir transisi mulai susah buat dia, aku juga tak ingin memisahkan dia dari kampung halamannya, dari teman-temannya, aku pikir sedikit jahat bagi melakukannya,” ujar Saroo, di Jakarta, Kamis (26/1).

“Memang terdengar bagus, tetapi berkunjung 3-4 kali setahun itu menurut aku lebih baik. Ibu memang mau tetapi dia tak menyadari bahwa itu perjalanan panjang , dia tak pernah di berada di dalam pesawat belasan jam, dan budaya di Australia juga sangat berbeda. Jadi aku yg membawa Australia kepada ibu dengan kisah yg aku ceritakan,” sambung dia.

Sejak empat tahun, setelah bertemu dengan ibunya, Saroo menyampaikan sudah kembali ke India sebanyak 14 kali. Di akhir film diperlihatkan, Saroo bahkan membawa ibu angkatnya bagi bertemu ibu kandungnya.

“Lewat translator aku berbicara kepada ibu aku bagaimana penampilan aku dulu, apa yg telah kalian lewati, kita masih dalam proses mengenal sesuatu sama lain, walaupun perlahan-lahan, ikatan itu ada,” kata Saroo.

“Dia senang, dia sekarang tahu nomor telepon saya, di mana aku hidup, aku juga sangat bersyukur dia masih hidup,” lanjut dia.

Sementara itu, meskipun sudah bertemu dengan ibu kandungnya, Saroo menyampaikan tak ada yg berubah dari hubungannya bersama ibu angkatnya.

“Hobart, Tazmania, buat aku tempat yg aman, di sana ada hati aku dan di sana ada orang yg membesarkan saya, dan apa yg terjadi sekarang tak mulai mengubah apa pun,” ujar Saroo.

Teks pada layar di akhir film mengungkapkan bahwa 80.000 anak-anak di India hilang setiap tahunnya. Film “Lion” kemudian berinisiasi buat menolong anak-anak di India dan segala dunia yg bernasib sama dengan Saroo.

“Kami berkolaborasi dengan organisasi buat mendukung anak-anak di India dan di segala dunia. Masukkan email Anda di atas bagi melihat bagaimana film ini menolong melindungi anak-anak jalanan dan bagaimana Anda mampu menolong kalian dalam membuat perbedaan,” tulis situs lionmovie.com.

Editor: Ida Nurcahyani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose