Wednesday , August 23 2017
Topik Terhangat

Temuan Mengejutkan Keramaian Twitter Di Debat Kedua Cagub DKI

Temuan Mengejutkan Keramaian Twitter Di Debat Kedua Cagub DKI

JAKARTA, KOMPAS.com – Temuan mengejutkan terpantau pada masa Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, khususnya ketika acara debat para pasangan calon yg berlangsung pada Jumat (27/1/2017).

Pilgub Jakarta sejatinya cuma melibatkan warga di sekitar wilayah Ibukota Indonesia. Namun, faktanya tidak hanya menjadi perhatian warga ibukota, melainkan juga kota-kota luar seperti Bandung, Bali, dan Medan. Setidaknya begitu menurut hasil analisis ahli media sosial, Ismail Fahmi.

Ia memakai software rancangan sendiri yg dinamai “Drone Emprit” bagi menghimpun kicauan tentang debat Pilgub DKI kedua pada Jumat malam kemarin.

Kata kunci seperti “AHY”, “AHOK”, “ANIES”, serta kombinasi masing-masing pasangan calon dimasukan ke software tersebut dari pukul 6 sore hingga 10 malam. Hasilnya, ada 50.000-an kicauan soal Pilgub DKI yg basis lokasinya teridentifikasi.

“Bukan lokasi kicauannya ya, tetapi lokasi akun Twitter,” kata dia pada KompasTekno, Sabtu (28/1/2017).

Dari 50.000 kicauan tersebut, 55 persen di antaranya berasal dari luar Jakarta. Sebanyak 2.127 kicauan dari Bandung, 1.859 dari Yogyakarta, 1.464 dari Bogor, 996 dari Bali, 924 dari Depok, 909 dari Medan, 903 dari Bekasi, 901 dari Malang, 862 dari Tangerang, dan 14.997 dari kota-kota lainnya.

Sementara itu, 45 persen masih berasal dari Jakarta dengan jumlah 21.370 kicauan. Ismail menggarisbawahi cuma sekitar 50 persen pengguna Twitter yg memasukkan lokasinya dengan benar. Sisanya memilih mengosongkan atau mengisi dengan lokasi tidak benar seperti “di hatimu”.

Massa Ahok paling solid

Ismail enggan mengomentari lebih spesifik soal pola kicauan dari pendukung masing-masing pasangan cagub. Namun, dari grafik yg diumbar, kubu Ahok tampak paling solid, dahulu disusul Anies dan terakhir Agus.

Hal ini tidak lepas dari banyaknya pengguna Twitter populer alias influencer yg kicauannya mengindikasikan dukungan buat Ahok. Mereka memiliki massa yg besar sehingga lebih gampang menghimpun retweet.

“Kelompok Ahok paling masif. Mereka sangat aktif berdiskusi dan me-retweet kicauan-kicauan dukungan,” kata dia.

Ismail enggan berasumsi bahwa pendukung Ahok sudah berkonsolidasi lalu secara offline sebelum debat dimulai. Menurut dia, konsolidasi politik itu biasa terjadi pada tiap tim sukses.

Namun, ada istilah eco-chamber yg dikenal di Twitter. Istilah itu merujuk pada pengelompokan kubu yg terjadi dengan sendirinya saat ada beberapa kubu yg bertentangan.

“Bukan hanya di Pilkada, tetapi biasanya di setiap isu mulai ada beberapa kelompok besar. Tanpa ada konsolidasi, pendukung A mulai segera me-RT kicauan dari orang yg sama-sama mendukung A,” ia menjelaskan. Mekanisme eco-chamber ini mampu dibilang sebagai mekanisme yg terbentuk secara natural.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose