Wednesday , August 23 2017
Topik Terhangat

Pemerintah Diminta Bongkar Perdagangan Manusia Berkedok Penyaluran TKI

Pemerintah Diminta Bongkar Perdagangan Manusia Berkedok Penyaluran TKI

JAKARTA, KOMPAS.com – Politisi PDI-P, Rieke Diah Pitaloka meminta pemerintah membongkar perdagangan manusia berkedok penyaluran Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi.

Hal itu, kata Rieke, terbukti dari maraknya pengiriman TKI di sektor domestik dengan dalih bekerja sebagai tenaga cleaning service. Padahal, secara hukum pengiriman TKI sektor domestik dinyatakan dihentikan sejak tanggal 4 Mei 2015.

Artinya, pengiriman tersebut bisa diduga yaitu pelanggaran terhadap hukum. Anggota Tim Pengawas (Timwas) TKI ini menyatakan pengaduan yg akan masuk sejak bulan Oktober 2016 terkait pengiriman lewat jalur ilegal atas nama sebuah perusahaan yg berpusat di Jeddah.

“Koordinasi tim kalian di Saudi dengan KJRI Jeddah selalu dikerjakan buat melakukan penelusuran dan penyelidikan. Diperoleh angka yg mengejutkan. Saya menilainya sebagai indikasi kuat perdagangan manusia terhadap tak kurang dari 1.141,” papar Rieke melalui informasi persnya, Minggu (29/1/2017).

Berdasarkan data yg ia peroleh, hingga ketika ini para TKI tersebut tak bekerja. Mereka berada di penampungan punya TTCo di daerah Obhur, kota Jeddah.

Menurut keterangan dari jaringan di Saudi, pada tanggal 26 Januari 2016 pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) menindaknya, bekerjasama dengan kepolisian setempat. Saat ini KJRI sedang menunggu pembebasan 46 TKI yg ditahan buat dimintai keterangan.

“Karenanya kalian meminta pemerintah pusat membongkar indikasi perdagangan manusia berkedok pengiriman TKI, mencabut Ijin Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yg terlibat dan memberi sanksi pidana,” tutur Rieke.

“Termasuk seandainya ada oknum pejabat yg terlibat di lini manapun. Rasanya tak mungkin ada pengiriman TKI jalur ilegal ke luar negeri sebanyak itu, seandainya tak ada oknum di lembaga terkait yg terlibat,” lanjut dia.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose