Monday , August 21 2017
Topik Terhangat

CDMA Bakal Dimatikan, Pelanggan Smartfren Masih Susah “Move On”

CDMA Bakal Dimatikan, Pelanggan Smartfren Masih Susah Move On

JAKARTA, KOMPAS.com – Smartfren Telecom selalu berupaya memigrasikan pelanggannya yg masih bertahan dengan jaringan CDMA ke jaringan 4G LTE yg baru.

Pada Desember 2016 kemarin saja, menurut VP Brand and Communication Smartfren, Derrick Surya, Smartfren berhasil memindahkan 1 juta pelanggan CDMA ke jaringan 4G LTE.

Di luar Jawa, Derrick mengklaim pelanggan Smartfren sepenuhnya telah beralih memakai layanan 4G LTE. Namun tak demikian halnya dengan pulau Jawa, di mana masih terdapat sebagian pelanggan yg belum dapat “move on” dari CDMA.

“Inginnya sih semua, 100 persen telah 4G, tak ada lagi yg 3G (CDMA). Namun kenyataannya masih banyak pelanggan yg bertahan dengan CDMA,” katanya ketika djumpai usai acara peluncuran ponsel Andromax B dan Andromax L di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Baca: CDMA Smartfren Bakal Dimatikan, Pelanggan Tetap Bisa Telepon?

Walhasil, lanjut Derrick, Smartfren pun mesti mempertahankan keberadaan jaringan 3G CDMA di Pulau Jawa. Dia tidak merinci berapa persisnya jumlah pelanggan yg masih bertahan dengan CDMA, ataupun batas waktu buat Smartfren buat mempertahankan jaringan lama tersebut.

Dulu, semasa mengandalkan jaringan CDMA, Smartfren mengoperasikan jaringan seluler di pita frekuensi 1.900 MHz dan 850 MHz. Kini cuma band 850 MHz saja yg masih aktif karena frekuensi 1.900 MHz telah dimatikan dan dikembalikan ke pemerintah, per Desember tahun lalu.

Tahun ini Smartfren kembali berupaya melancarkan upaya memigrasikan pelanggan ke 4G, antara yang lain melalui penawaran aneka perangkat 4G Andromax yg berharga terjangkau, juga kartu SIM perdana 4G LTE Smartfren yg bebas digunakan di handset manapun (open market).

“Dengan adanya penawaran-penawaran ini, semoga mampu men-trigger pelanggan CDMA buat beralih ke 4G,” kata Derrick. “Jaringan CDMA sendiri mulai tetap kalian nyalakan sampai pelanggannya habis.”

Kejar open market handset

Menurut Derrick, pengguna layanan 4G LTE Smartfren menyumbang ARPU (Average Revenue per User) yg jauh lebih tinggi, mencapai kisaran Rp 100.000, dibandingkan pelanggan CDMA yg cuma berkisar di angka Rp 35.000 hingga Rp 40.000.

Smartfren kini memiliki 11,5 juta pelanggan. Dari jumlah tersebut, baru 4,5 juta yg memakai jaringan 4G LTE, berdasarkan data terakhir di kuartal-III 2016. Derrick memperkirakan jumlah pelanggan 4G LTE Smartfren kini telah mencapai kisaran 6 juta.

“Dari 6 juta (perkiraan jumlah pelanggan 4G LTE sekarang) itu, sekitar 50 persennya memakai modem MiFi. Handset open market baru 20 persen” ujar Derrick, sambil menambahkan bahwa modem kemungkinan mulai kembali menjadi perangkat yg paling banyak digunakan mengakses jaringan 4G LTE Smartfren tahun ini.

Smartfren kini tengah membidik pasaran handset open market agar tak dibatasi oleh ponsel seri Andromax dan dapat beroperasi layaknya operator seluler yang lain yg kartu SIM-nya bebas dipakai di ponsel manapun. Upaya ini antara yang lain dilancarkan melalui bundling kartu SIM dengan produk smartphone bikinan vendor, seperti Samsung dan Lenovo.

Derrick mengungkapkan proyeksi lembaga riset GfK yg menyebutkan bahwa pada 2017 volume pasar smartphone 4G LTE di Indonesia mencapai 32 juta unit. Dari jumlah itu, volume smartphone 4G yg kompatibel dengan band 5 (850 MHz), band 40 (2.300 MHz), dan teknologi Voice-over-LTE (VoLTE) punya jaringan Smartfren mencapai 15 juta unit.

“Kami berharap mampu meraih sebagian saja dari pasar (15 juta smartphone 4G LTE) tersebut. Dapat 5 juta unit saja telah bagus sekali,” tandasnya.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose