Friday , August 18 2017
Topik Terhangat

Kematian Bayi Bongkar Ironi Penghuni Panti Yang Disuruh Makan Kecoak

Kematian Bayi Bongkar Ironi Penghuni Panti Yang Disuruh Makan Kecoak

Kehidupan penghuni Panti Asuhan Tunas Bangsa Pekanbaru sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, berbagai perbuatan keji harus diterima akan dari disuruh mengemis agar bisa makan, menyantap makanan sisa tikus, dan yg lebih parah para penghuni terpaksa makan kecoak bagi mengganjal perut mereka yg terasa sangat lapar.

Sikap jauh dari kata manusiawi yg diterima penghuni panti terbongkar usai kematian Zikli, seorang bayi 18 bulan.

Paman Zikli, Dwiyatmoko merasa adanya keganjilan dari kematian Zikli, 15 Januari 2017 silam. Pasalnya, sekujur tubuh Zikli penuh luka. Bahkan, kemaluan Zikli pun tidak luput dari luka.

Saat itu, pihak panti asuhan segera memakamkan Zikli dan menyampaikan penyebab kematian Zikli karena demam tinggi. Dwiyatmoko yg tidak lantas yakin segera melaporkan hal itu ke pihak berwajib pada 25 Januari 2017.

Benar saja, hasil autopsi polisi membuktikan adanya tindak kekerasan yg diterima Zikli sebelum tewas.

“Luka lecet ditemukan dokter pada bagian pelipis, perut, pipi dan punggung serta tangan sebelah kiri. Luka dan memar pada tubuh korban itu diduga akibat kekerasan benda tumpul,” ujar Kasubbid Dokkes Polda Riau, Kompol Supriyanto.

Perlahan, ‘borok’ panti yg juga menerima orang tua lanjut usia itu pun terbongkar.

Kepala Dinas Sosial, Syarifuddin mengungkapkan terdapat 3 panti dibawah naungan Yayasan Tuna Bangsa, yakni panti asuhan anak, panti jompo dan panti psikotik atau buat orang gangguan jiwa.

Namun, para penghuni tak mendapatkan perlakuan layak, mereka malah diperlakukan bak binatang.

Syarifuddin membeberkan menurut pengakuan salah sesuatu penghuni panti, mereka kerap menerima makanan yg tak steril.

“Iya ada informasi dari salah sesuatu penghuni Panti Asuhan Tunas Bangsa di jalan Singgalang itu, mereka makan itu (kecoa). Selain itu, makanan mereka tak steril, bekas dimakan tikus pun dimakan lagi,” ujar Syarifuddin.

Ironisnya, lanjut Syarifuddin, penghuni yg tadinya normal jiwanya malah terganggu karena kadang mendapatkan perlakuan tak manusiawi.

“Ada penghuni yg menjadi gangguan jiwa karena keadaan panti yg centang prenang (tidak beres) dan berantakan. Di situ tempat makan, buang kotoran dan tempat tidur,” kata Syarifuddin.

Selidik milik selidik, panti tersebut telah tak memiliki izin sejak 2015 lamanya.

Syarifuddin menambahkan tidak jarang penghuni disuruh buat mengemis demi mendapatkan sesuap nasi dari pihak pengelola. Selain itu, jadwal makan penghuni panti juga tidak menentu, terkadang mereka makan sesuatu kali sehari.

“Makanya itu, adanya keterangan dijadikan pengemis itu perlu diusut polisi. Kita minta kepada polisi bagi mengusut perkara pidana yg terjadi di panti itu serta masalah eksploitasi. Kan ada undang-undang perlindungan anak serta undang-undang perdagangan orang, itu yg harus diusut sampai tuntas,” kata Syarifudin.

Tidak sampai di situ, kebiadaban pengelola panti semakin menjadi dengan menempatkan para penghuni di ‘kandang’ layaknya binatang peliharaan.

Kini, penghuni Panti Asuhan lainnya tersebut telah dievakuasi oleh Unit PPA Polresta Pekanbaru bersama Dinas Sosial Riau dan Lembaga Perlindungan Anak Riau dari tempat tersebut ke Rumah Aman bagi anak-anak dan ke Rumah Sakit Jiwa buat yg mengalami gangguan jiwa.

Selain itu, Tim juga menyisir panti lanjut usia cabang dari Panti Asuhan Tunas Bangsa itu di jalan Cendrawasih gang Nuri kota Pekanbaru. Hasilnya, 13 Lansia ditemukan dengan keadaan memprihatinkan.

Baca juga:
Begini keadaan miris penghuni Panti Tunas Bangsa hidup di ‘kandang’
Penghuni panti asuhan Tunas Bangsa disuruh ngemis demi mampu makan
Sempat menghilang, pemilik panti asuhan Tunas Bangsa diamankan
Penghuni Panti Tunas Bangsa Pekanbaru makan kecoa & sisaan tikus
Selidiki perkara bayi panti asuhan tewas, polisi periksa 10 saksi
Polisi gali lubang di dalam Panti Tunas Bangsa diduga berisi jasad

Sumber: http://www.merdeka.com

Komentar Anda

You might also likeclose