Wednesday , August 23 2017
Topik Terhangat

Yap Thiam Hien, Pembela Orang Miskin, Bukan Tipe “Advokat Ferrari”…

Yap Thiam Hien, Pembela Orang Miskin, Bukan Tipe Advokat Ferrari...

JAKARTA, KOMPAS.com – Sosok Yap Thiam Hien milik kesan tersendiri di mata pengacara senior Todung Mulya Lubis. Sebagai seorang advokat, Yap tak segan-segan bagi menerima masyarakat miskin sebagai kliennya.

Menurut Todung, Yap seringkali menjalankan profesinya sebagai penasehat hukum tanpa bayaran sedikit pun.

“Pak Yap banyak melakukan pekerjaan pro bono,” ujar Todung ketika ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (24/1/2017).

“Dia menolong LBH menangani kasus-kasus tahanan politik dan itu segala tanpa bayaran. Saya beruntung pernah bekerja bersama Pak Yap dalam dua kasus,” kata dia.

Bagi Todung, Yap Thiam Hien yaitu sosok advokat yg berpihak pada masyarakat miskin. Yap juga dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia.

Dia pernah membela pedagang di Pasar Senen, yg tempat usahanya digusur oleh pemilik gedung.

Sebagai salah sesuatu pelopor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Yap berani membangkitkan semangat “wong cilik” yg tertindas dan tergusur bagi menentang kebijakan pemerintah yg tak sesuai dengan asas keadilan.

Bukan tipe “advokat Ferrari”

Sisi yang lain yg menarik dari Yap adalah soal kesederhanannya. Menurut Todung, Yap terus melihat semua sesuatunya dari aspek fungsional.

Saat ini, kata Todung, sulit sekali bagi menemukan sosok advokat seperti Yap Thiam Hien. Yap tak pernah melihat siapa klien yg dibelanya, tetapi apa masalah yg mulai dikerjakannya.

Hampir seluruh masalah yg ditanganinya sarat dengan isu hak asasi manusia. Dia tak pernah takut berhadapan dengan kekuasaan walaupun risikonya ditahan dan dipenjara.

Seringkali dia membela klien yg sebelumnya ditolak advokat yang lain karena miskin atau memiliki pandangan ideologi yg berbeda.

“Pak Yap mencerminkan advokat berintegritas yg tak gila uang, 100 persen advokat. Beliau bukan tipe advokat yg gemar naik Ferrari atau Lamborghini. Dia juga tak naik Mercedez,” ucapnya.

Semasa hidupnya, Yap termasuk orang yg gigih menentang seluruh bentuk praktik diskriminasi dan ketidakadilan.

Yap tercatat pernah menjadi pembela Subandrio, mantan wakil perdana menteri di era Presiden Soekarno yg ditangkap karena tuduhan terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Dia juga pernah menjadi penasehat hukum AM Fatwa, tokoh muslim yg dituduh terlibat demonstrasi massa di Tanjung Priok tahun 1984. Peristiwa tersebut berakhir dengan tragedi kejahatan berat hak asasi manusia.

(Baca juga: Yap Thiam Hien, Advokat buat Semua Manusia…)

Anti-diskriminasi

Selain itu, Yap juga menjadi salah seorang yg tak setuju isi dari Pasal 6 UUD 1945, bahkan sebelum dikerjakan amandemen pada era reformasi.

Pasal tersebut cenderung mendiskriminasi karena menyebut Presiden RI adalah orang Indonesia asli.

Setelah amandemen, pasal tersebut kemudian diubah menjadi: “Calon presiden dan calon wakil presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tak pernah menerima kewarganegaraan yang lain karena kehendaknya sendiri.”

Menurut Todung, sikap Yap tersebut bukan semata-mata karena Yap seorang Tionghoa. Namun, Yap yakin pada rule of law, keadilan, dan hak asasi manusia tak boleh bias SARA.

“Saya percaya seandainya beliau masih hidup, beliau mulai membela hak kelompok minoritas yg yang lain seperti Ahmadiyah, Syiah dan yang lain sebagainya,” kata Todung.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose