Sunday , June 25 2017
Topik Terhangat

Lama Hidup Nomaden, Kini Suku Anak Dalam Punya Hunian Tetap

Lama Hidup Nomaden, Kini Suku Anak Dalam Punya Hunian Tetap

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Sosial membangun rumah sebagai tempat tinggal tetap suku anak dalam di Provinsi Jambi.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meresmikan sebanyak 23 unit rumah di Desa Pulau Lintang, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Jambi, pada Minggu (19/2/2017). Diakui Khofifah, bukan hal yg gampang membujuk warga di sana buat tinggal menetap.

“Alhamdulillah, setelah melakukan pendekatan hampir beberapa tahun akhirnya mereka (Suku Anak Dalam) mau menetap di tempat ini,” ujar Khofifah melalui informasi persnya.

Warga suku anak dalam selama ini dikenal nomaden atau hidup berpindah-pindah buat bertahan hidup. Mereka juga milik tradisi “melangun” atau meninggalkan tempat tinggal saat sanak saudara meninggal.

“Butuh ketelatenan dan kesabaran ketika melakukan pendekatan guna mengajak mereka tak hidup nomaden,” kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, pemberian rumah tersebut agar warga Suku Anak Dalam lebih sejahtera dan mandiri, baik dari aspek kehidupan maupun penghidupan. Sehingga mereka bisa menanggapi perubahan sosial yg terjadi. Lahan tempat pembangunan rumah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun.

Sementara unit rumah dibangun Kementerian Sosial beserta isinya. Kementerian Sosial menganggarkan Rp 36 juta buat membangun setiap unit rumah.

Sementara itu, isi perabotan berupa kasur, bantal, dan selimut Rp 3 juta per kepala keluarga. Pendanaan seluruhnya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Khofifah juga memberikan bantuan paket anak sekolah dasar kepada 21 orang anak senilai Rp 200.000 setiap anak, sembako serta bantuan sandang. Sehingga total bantuan yg diberikan senilai Rp 901,2 juta.

Tak cuma pemukiman, Kemensos memperhatikan juga administrasi kependudukan, kesehatan, pendidikan, kehidupan beragama, penyediaan akses kesempatan kerja, ketahanan pangan, penyediaan akses lahan, advokasi sosial, lingkungan hidup dan pelayanan sosial.

Khofifah jmendorong segala pihak, khususnya masyarakat terdekat buat memberikan dukungan terhadap tumbuh kembang serta pendidikan buat anak-anak Suku Anak Dalam. Ia pun menjanjikan Program Keluarga Harapan (PKH), Beras Sejahtera (PKH), Bansos Lansia, dan Bansos Disabilitas.

“Setelah secara administratif rapih, pelan-pelan mulai kami cover dengan sejumlah bantuan perlindungan sosial,” kata Khofifah.

Khofifah berharap keputusan 23 kepala keluarga buat menetap itu dapat diikuti warga Suku Anak Dalam lainnya. Dengan demikian, pengentasan kemiskinan yg dikerjakan Pemerintah dapat berjalan efektif dan komprehensif.

“Setelah ini, mereka (Suku Anak Dalam) mulai tetap didampingi hingga 2 tahun ke depan,” kata dia.

Siapkan solusi

Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial RI, Hartono Laras berharap Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) bisa dikerjakan secara holistik dan terintegrasi sehingga mereka dapat hidup secara layak.

“Komunitas Adat Terpencil yg lalu lebih dikenal dengan sebutan masyarakat terasing selalu ditata. Kementrian Sosial secara holistik dan terintegrasi dimulai dengan pembangunan rumah, pemberian isian hunian dan perlengkapan rumah tangga, serta pembangunan sarana dan prasarana di kawasan tersebut,” kata Hartono.

Menurut Hartono, buat dapat memberikan kehidupan yg layak untuk masyarakat adat terpencil, dibutuhkan peran segala pihak kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah.

Kompas TV Isu Suku Anak Dalam Terserang Virus Zika

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose