Sunday , September 24 2017
Topik Terhangat

Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius

Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius

Jakarta (ANTARA News) – Seperti negaranya, restoran Korea Utara juga serba misterius.

Papan nama merah besar dengan tulisan Pyongyang Restaurant menjadi satu-satunya penanda bahwa bangunan tiga lantai bercat merah muda di Boulevard Barat Raya Kelapa Gading, Jakarta, itu adalah tempat makan.

Di sebelahnya ada restoran steak dengan eksterior lebih meriah dan restoran Korea Selatan Bornga dengan cat serba hitam yg kelihatan lebih menonjol dari Pyongyang Restaurant.

Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius
Sebelum datang, ANTARA News sempat menelpon restoran bagi memastikan jam operasional. Seorang perempuan dengan logat Korea kental menjawab telepon tersebut, menyatakan restoran itu buka pukul 12.00 hingga malam.

Saat ditanyai lebih lanjut, si pengangkat telepon tak mampu menjawab karena tak fasih berbahasa Indonesia.

Sepi

Dari luar, restoran Korea Utara itu kelihatan sepi, bagian dalamnya tidak jelas kelihatan kecuali kami mengintip dengan saksama karena bagian depan dihalangi kaca bermotif pohon bambu. 


Satu-satunya yg meyakinkan bahwa restoran beroperasi adalah tulisan BUKA di pintu depan. 
Saat pintu restoran dibuka, segera kelihatan meja kasir di sebelah kiri yg dijaga seorang pelayan berwajah Korea. Perempuan dengan rambut dikuncir kuda itu tampak agak terkejut karena kedatangan tamu. Dia bertanya, “Mau makan?”. 
Aroma apak menguar di ruangan itu, rasanya seperti berkunjung ke rumah tua yg lama tidak ditempati. Pelayan langsung menyalakan pendingin ruangan yg perlahan-lahan menghilangkan aroma tak sedap.  
Ia mengarahkan ANTARA News bagi duduk di meja yg paling jauh dari pintu masuk, persis di depan televisi.
Semua dikerjakannya sendiri, akan dari membalikkan piring-piring yg diletakkan terbalik di tiap meja kemudian menuangkan teh tawar ke dalam gelas kecil. 
Setelah memberikan menu berisi foto-foto makanan yg ditata seadanya, dia kembali sambil membawa kertas pesanan. 
“Mau pesan?” tanya pelayan bernama Choe Un Hyang itu dalam bahasa Indonesia. 
Komunikasi jadi persoalan penting dalam berkomunikasi dengan pelayan yg tak fasih berbahasa Indonesia dan milik kosakata terbatas. 
Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius
Misterius
Sekat rotan menjadi pembatas yg membuat lantai sesuatu restoran itu seakan terbagi dua. Di sebelah kiri sekat berjejer tiga meja kayu berbentuk bundar, tiap meja juga dibatasi sekat rotan. 
Tak jauh dari meja kasir, ada sebuah pigura berisi foto Megawati dan Puan Maharani bersama lima perempuan Korea yg mengenakan busana tradisional.
Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius
Di ujung dinding ada televisi yg menampilkan sekelompok perempuan menari sambil menyanyi di panggung dengan latar belakang khas zaman dulu, mengingatkan pada panggung penyanyi Indonesia era 80-an. 
Di bawah televisi ada meja persegi dengan taplak kuning senada dengan serbet. Terlihat tumpukan piring putih serta dua asbak yg sebagian permukaannya tertutup lap kuning. 
Di sebelah kanan sekat kelihatan beberapa ruangan yang lain dengan pintu bernomor 8 dan 9. Pintu ini hampir terus tertutup. 
Ketika seorang staf restoran keluar dari ruangan itu, pintunya tak ditutup rapat. Dari celah kelihatan ruangan itu berisi furnitur yg sama. Tetapi ruang tertutup itu memberi kesan seakan itu tempat makan bagi tamu istimewa yg butuh privasi. Perbedaan yg kelihatan jelas adalah adanya karpet merah yg melapisi lantai di ruang tersebut.
Bila berjalan melewati beberapa pintu tersebut, ada wastafel bagi mencuci tangan. 
Di sebelah kiri ada dapur, kemudian di sebelah kanan kelihatan sesuatu kulkas dan lemari pendingin besar seperti tempat menyimpan es krim di supermarket. Di pojokan dinding ada dua sekat rotan tidak terpakai. 
Toilet berada di lantai beberapa yg terkesan suram tanpa penghuni. Semua saklar dimatikan sehingga segala ruangan gelap, cuma ada sedikit cahaya matahari sore yg masuk dari jendela. 
Ada beberapa bilik bersebelahan, masing-masing dilabeli toilet pria dan toilet wanita. Di dalamnya ada toilet duduk, semprotan, keran kecil, tempat sampah dan tisu. 
Di balik pintu toilet perempuan tertempel kertas berisi tulisan dalam bahasa Korea yg artinya “Buang pembalut di tempat sampah”.
Selain toilet, di lantai itu ada tiga ruangan gelap yg tak dipakai. Di ruangan yg persis bersebelahan dengan toilet, kelihatan meja kayu dan kursi yg serupa furnitur di lantai bawah. Dilihat dari lantai dua, lantai tiga juga sepi.
Tidak kelihatan ada aktivitas maupun pelayan selain perempuan yg berjaga di kasir. Orang yg bekerja di dapur tak memamerkan diri dan memasak tanpa banyak menimbulkan kebisingan.

Berkunjung Ke Restoran Korea Utara Yang Serba Misterius
Lukisan yg menghias Pyongyang Restaurant (ANTARA News/ Nanien Yuniar)
Suasana yg hening, cuma ada alunan lagu Korea Utara dari televisi, berubah jadi ribut saat ada tiga atau empat pelayan yg keluar entah dari mana bagi bergegas menyambut kedatangan seorang pria. 
Semua pelayan bertubuh ramping mengenakan gaya busana serupa: kemeja pas badan dengan rok span dan sandal hak tinggi yg berkelotakan saat mereka naik turun tangga. Yang membedakan cuma warna kemeja, ada yg menggunakan baju ungu tua, biru, hijau, hitam, kuning dan pink. 
Seluruhnya perempuan Korea dengan rambut hitam dikuncir kuda. Rata-rata berparas manis dengan riasan sederhana, eyeliner dan bedak. 
Pria yg disambut hangat oleh para pelayan bersikap akrab layaknya tamu langganan yg telah dinanti.
Bahkan seorang pelayan mengajaknya masuk dengan cara menarik tangan pria itu ke dalam restoran. Yang yang lain buru-buru membawa teko berisi teh dan buku menu. 
Wajah tamu dan para pelayan tersebut tak jelas karena ada sekat-sekat yg menghalangi pandangan. Tamu itu dibawa ke lantai atas dan tak kelihatan lagi hingga ANTARA News meninggalkan restoran. 
Menurut Choe Un Hyang, Pyongyang Restaurant telah berdiri di Kelapa Gading selama tiga tahun. Restoran ini sebelumnya juga milik cabang di Kebayoran Baru namun telah ditutup.
Saat disambangi ANTARA News pada Selasa (21/2) sore, tak ada sesuatu pun pengunjung yang lain kecuali seorang pria yg kemudian disambut hangat oleh para pelayan dan diantar ke lantai atas. 
Entah karena biasanya restoran ini sepi, atau karena hari itu kebetulan jalan raya di depan ruko-ruko tempat Pyongyang Restaurant terendam banjir sekitar 50 cm atau setinggi lutut orang dewasa.
Namun Choe Un Hyang menyampaikan biasanya restoran ini banyak didatangi pada ketika makan siang. Pembelinya bervariasi, seperti orang-orang asing dari Korea, China maupun Jepang. 
Seorang satpam di bank yg letaknya tidak jauh dari Pyongyang Restaurant menyampaikan pengunjung restoran itu tak sebanyak restoran Korea Selatan di dekatnya.

Menurut dia, perbedaan yg jelas kelihatan adalah adanya pekerja lokal di restoran Korea Selatan, sementara ia tak pernah melihat sesuatu pun pekerja dari Indonesia di restoran Korea Utara.

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar Anda

You might also likeclose