Monday , September 25 2017
Topik Terhangat

Minta Fatwa Grasi, Kejaksaan Agung Dinilai Tak Hargai Putusan MK

Minta Fatwa Grasi, Kejaksaan Agung Dinilai Tak Hargai Putusan MK

JAKARTA, KOMPAS.com – Aktivis hak asasi manusia Todung Mulya Lubis menilai Kejaksaan Agung tak menghargai putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Sikap Kejagung yg meminta fatwa kepada Mahkamah Agung (MA) perihal grasi terpidana mati yg telah diputus MK sangat disesalkan.

“Tindakan Jaksa Agung itu tak menghargai putusan MK dengan meminta fatwa,” kata Todung di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (27/2/2017).

MK sebelumnya sudah menganulir batasan waktu pengajuan grasi terpidana mati. Dengan putusan MK, pengajuan grasi menjadi tanpa batas waktu.

Namun, dengan adanya putusan MK itu, Kejagung menilai terpidana sengaja mengulur waktu mengajukan grasi agar terhindar dari eksekusi mati.

(Baca: Soal Eksekusi Hukuman Mati, Jaksa Agung Minta Fatwa ke MA)

Menurut Todung, Kejaksaan Agung tak perlu meminta fatwa putusan MK. Pasalnya, putusan MK bersifat final dan mengikat.

“Ini kan beberapa institusi yg berbeda sama sekali. MK keluarkan putusan yg sifatnya final and binding. Kalau telah final dan mengikat apakah perlu ada fatwa,” ujar Todung.

Todung menuturkan, putusan MK tersebut sudah memulihkan hak terpidana mati. Putusan itu, lanjut dia, memberikan kesempatan buat terpidana buat membuktikan yg bersangkutan tak bersalah.

(Baca: Kontras: Kejagung Ambisius Lakukan Eksekusi Mati, tetapi Tak Ada Evaluasi)

“Di Jepang ada orang 48 tahun dipenjara menunggu eksekusi. Dan ternyata setelah 48 tahun dia dinyatakan tak bersalah. Di Amerika banyak yg dibebaskan karena tak terbukti bersalah. Karena ada bukti baru yg ditemukan,” ucap Todung.

Pemerintah sudah mengeksekusi empat terpidana mati pada 29 Juni dulu di Nusakambangan.

Kini tersisa sepuluh terpidana mati. Sepuluh terpidana mati itu antara lain, Merri Utami (Indonesia), Zulfiqar Ali (Pakistan), Gurdip Singh (India), Onkonkwo Nonso Kingsley (Nigeria). Kemudian, Obina Nwajagu (Nigeria), Ozias Sibanda (Zimbabwe), Federik Luttar (Zimbabwe), Eugene Ape (Nigeria), Pujo Lestari (Indonesia), dan Agus Hadi (Indonesia).

Kompas TV Inilah Terpidana Mati yg Belum Dieksekusi

Sumber: http://nasional.kompas.com

Komentar Anda

You might also likeclose